Desainer Grafis Terancam Punah atau Justru Makin Dibutuhkan?
Beberapa waktu terakhir saya sering kepikiran satu hal. Kalau sekarang AI bisa bikin desain dalam hitungan detik, lalu kita sebagai desainer harus bagaimana?. Saya sendiri cukup merasakan perubahannya. Dulu, ketika ada orang minta dibuatkan poster, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Mulai dari mencari referensi, memilih font, mencari gambar, menyusun layout, sampai revisi berkali-kali. Sekarang, dengan AI membuat beberapa konsep awal bisa dilakukan jauh lebih cepat.
Jujur, awalnya saya juga sempat khawatir. Kalau pekerjaan yang dulu saya kerjakan berjam-jam sekarang bisa dilakukan beberapa menit, apa nanti orang masih mau membayar jasa desainer. Tapi semakin lama saya menggunakan AI, saya justru melihat sesuatu yang berbeda. AI memang bisa membuat gambar yang bagus. Bahkan kadang jauh lebih bagus dari yang saya bayangkan. Tapi ketika masuk ke kebutuhan yang lebih spesifik, persoalannya mulai berbeda.
Klien biasanya tidak cuma bilang, “Tolong buatkan gambar yang bagus.” Mereka punya masalah. Mereka ingin produknya terlihat lebih premium. Ingin brand-nya mudah dikenali. Ingin orang berhenti scrolling. Ingin desainnya cocok dengan karakter konsumennya. Dan di situ saya merasa pekerjaan desainer sebenarnya belum selesai. Karena desain bukan hanya tentang membuat sesuatu terlihat bagus. Desain juga soal memahami masalah, membaca situasi, memilih arah visual, dan tahu kenapa sebuah keputusan desain harus diambil.
