Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Sains & Tech

Diskusi sains, teknologi, riset, dan cara pandang ilmiah.

Sains & Tech

PART 1 : Perang yang Sebenarnya Terjadi di Balik Ledakan AI

Ketika orang membicarakan perang kecerdasan buatan, nama yang muncul biasanya adalah ChatGPT, Gemini, Claude atau perusahaan seperti OpenAI, Google, Microsoft dan Meta. Namun ada perang yang jauh lebih menentukan dan jarang terlihat oleh pengguna: perang chip AI. AI secanggih apa pun tetap membutuhkan satu hal yaitu komputasi. Dan semakin pintar model AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap chip, memori, jaringan dan listrik. Deloitte memperkirakan inference, yaitu proses menjalankan AI untuk menjawab permintaan pengguna, akan mencapai sekitar dua pertiga seluruh komputasi AI pada 2026. Pasar chip yang dioptimalkan khusus untuk inference diperkirakan menembus lebih dari US$50 miliar tahun ini. Bahkan total chip AI untuk data center diproyeksikan bernilai lebih dari US$200 miliar. Artinya, perang AI sebenarnya baru memasuki babak berikutnya. NVIDIA dan kekuatan yang sulit ditandingi Selama ledakan generative AI, NVIDIA menjadi pemain paling dominan. Keunggulannya bukan hanya GPU, tetapi ekosistem software CUDA yang membuat pengembang dapat membangun dan menjalankan aplikasi AI di atas infrastrukturnya. Inilah bagian yang membuat persaingan menjadi kontroversial. Perusahaan tidak cukup hanya membuat chip yang cepat. Mereka harus membuat ekosistem yang membuat pelanggan sulit berpindah. NVIDIA bahkan kini berusaha memperluas pengaruhnya melalui NVLink Fusion, yang memungkinkan perusahaan seperti MediaTek mengembangkan accelerator khusus yang tetap terhubung dengan infrastruktur NVIDIA. Pada Agustus 2026, NVIDIA juga menginvestasikan US$3,5 miliar pada MediaTek. Jadi NVIDIA tidak hanya menjual chip. Ia semakin berusaha menjadi infrastruktur tempat chip-chip AI lain ikut hidup. Tetapi Google, Amazon dan Meta tidak mau bergantung selamanya Big Tech mulai membuat chip sendiri. Google memiliki TPU. Amazon mengembangkan Trainium. Meta mengembangkan accelerator sendiri. OpenAI juga bergerak menuju chip inference khusus. Alasannya sederhana, jika AI menjadi mesin utama bisnis digital, membeli seluruh komputasi dari pihak lain bisa menjadi terlalu mahal dan terlalu berisiko. Broadcom menjadi salah satu pemain penting di balik tren ini. Perusahaan memperkirakan pendapatan chip AI-nya mencapai sekitar US$115 miliar pada 2027, kemudian berpotensi mencapai US$230 miliar pada 2028. Permintaan tersebut datang dari perusahaan teknologi besar yang menginginkan chip khusus untuk kebutuhan AI mereka sendiri. Ini menandakan perubahan besar: masa depan AI mungkin tidak dimonopoli satu jenis GPU.

Fania MeyandraFania Meyandrasekitar 12 jam yang lalu0
2
Sains & Tech

Siapa yang Akan Menguasai Teknologi Masa Depan?

Dulu, persaingan teknologi mungkin terlihat sederhana, siapa yang memiliki komputer paling canggih, ponsel paling pintar, atau internet paling cepat. Hari ini, pertarungannya jauh lebih besar. Kecerdasan buatan berkembang pesat. Robot mulai bekerja berdampingan dengan manusia. Kendaraan listrik mengubah industri otomotif. Pusat data membutuhkan energi dalam jumlah besar. Dan di balik hampir semua teknologi tersebut, ada satu komponen kecil yang menjadi sangat penting: chip. Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar siapa yang menciptakan teknologi paling canggih. Siapa yang akan menguasai fondasi teknologi tersebut? Bukan Sekadar Perlombaan AI Ketika berbicara tentang teknologi masa depan, perhatian kita sering tertuju pada AI. Siapa yang memiliki model AI paling pintar? Siapa yang memiliki chatbot paling populer? Siapa yang mampu membuat AI menghasilkan gambar, video, atau kode paling baik? Namun AI tidak muncul begitu saja. Ia membutuhkan chip berkemampuan tinggi, pusat data, jaringan internet, listrik dalam jumlah besar, data, perangkat lunak, serta manusia yang memiliki kemampuan untuk mengembangkannya. Artinya, memenangkan perlombaan teknologi bukan hanya soal memiliki produk terbaik. Tetapi juga tentang siapa yang menguasai rantai di belakang produk tersebut. Amerika dan Tiongkok: Dua Kekuatan Besar Amerika Serikat memiliki ekosistem teknologi yang sangat kuat. Perusahaan-perusahaan besarnya berada di garis depan dalam AI, perangkat lunak, cloud computing, dan berbagai platform digital. Di sisi lain, Tiongkok memiliki kekuatan besar dalam manufaktur, rantai pasok, kendaraan listrik, baterai, robotika, serta pasar domestik yang sangat besar. Keduanya memang menjadi pemain utama. Tetapi jika kita hanya melihat persaingan sebagai Amerika melawan Tiongkok, kita mungkin melewatkan bagian terpenting dari cerita. Sebab teknologi modern tidak dibangun oleh satu negara saja. Ada Pemain di Balik Layar Lihat saja semikonduktor. Taiwan memiliki posisi yang sangat penting dalam manufaktur chip canggih. Korea Selatan merupakan kekuatan besar dalam memori dan elektronik. Jepang memiliki peran penting dalam material dan teknologi manufaktur. Eropa juga memiliki teknologi industri strategis yang sangat sulit digantikan. Ini menunjukkan sesuatu: Dominasi teknologi tidak berada di satu tangan. Satu negara mungkin unggul dalam AI. Negara lain menguasai manufaktur. Negara lainnya memiliki material atau mesin yang dibutuhkan untuk membuat chip. Teknologi masa depan adalah sebuah ekosistem. Pertarungan Sebenarnya Ada di Fondasi Bayangkan sebuah dunia ketika AI semakin pintar tetapi kekurangan chip, atau ketika robot semakin canggih tetapi energi untuk menjalankannya tidak mencukupi. Atau ketika sebuah negara memiliki teknologi hebat tetapi terlalu bergantung pada negara lain untuk komponen penting. Di situlah kita melihat bahwa teknologi bukan hanya persoalan inovasi. Teknologi juga merupakan persoalan infrastruktur, energi, sumber daya, manufaktur, data, dan manusia. Siapa yang mampu menguasai sebanyak mungkin bagian dari rantai tersebut akan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap arah teknologi dunia. Lalu, Di Mana Posisi Indonesia? Pertanyaan tentang masa depan teknologi seharusnya tidak hanya menjadi tontonan tentang siapa yang menang di antara negara-negara besar. Indonesia juga harus bertanya: Apakah kita hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau ikut membangun teknologi tersebut? Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya, serta jumlah penduduk usia produktif yang dapat menjadi modal penting. Tetapi pasar yang besar saja tidak cukup. Jika hanya menjadi konsumen, kita akan terus bergantung pada teknologi yang dibuat di tempat lain. Membangun kemampuan dalam pendidikan, riset, talenta digital, industri, infrastruktur, dan teknologi strategis menjadi jauh lebih penting jika Indonesia ingin memiliki posisi dalam ekosistem teknologi masa depan. Siapa yang Akan Menang? Mungkin tidak akan ada satu negara yang benar-benar menjadi “raja teknologi.” Amerika mungkin unggul di satu bidang. Tiongkok di bidang lain. Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Eropa, India, dan berbagai negara lainnya akan memiliki peran masing-masing. Karena itu, perlombaan teknologi masa depan kemungkinan bukan tentang siapa yang memiliki satu teknologi paling hebat. Melainkan siapa yang mampu membangun ekosistem teknologi paling kuat, mandiri, dan adaptif. Dan pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya: “Siapa yang akan menguasai teknologi masa depan?” Tetapi: “Apakah Indonesia akan ikut menentukan masa depan teknologi, atau hanya hidup di dalamnya sebagai pengguna?” #sainstech #sains-tech

CamaroCamarosekitar 12 jam yang lalu0
1
Sains & Tech

Bukan Lagi Adu Kamera. Hp 2026 Adu AI, Chipset dan Ekosistem

Persaingan smartphone pada 2026 memasuki babak baru. Jika beberapa tahun lalu perang HP identik dengan megapiksel kamera, kapasitas baterai dan ukuran layar, kini pertarungan semakin dalam: AI, chipset, memori dan ekosistem menjadi senjata utama. Menurut Counterpoint Research, smartphone yang memiliki kemampuan GenAI diperkirakan mencapai 45% dari total pengiriman global pada 2026, naik dari 36% pada 2025. Angka tersebut diproyeksikan mencapai 52% pada 2027. Namun pada saat yang sama, pasar smartphone global justru menghadapi tekanan akibat kelangkaan memori. Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone 2026 turun 13,9% menjadi sekitar 1,08 miliar unit. AI kini bukan lagi sekadar fitur tambahan. Smartphone mulai menjalankan pemrosesan AI langsung di perangkat melalui Neural Processing Unit atau NPU. Kemampuan seperti penerjemahan real-time, pengeditan foto berbasis AI, rangkuman dokumen, transkripsi hingga asisten yang memahami konteks membutuhkan chipset dan memori lebih besar. Karena itu, perang chipset semakin penting. Apple mengembangkan chip sendiri untuk mengontrol performa dan integrasi software. Samsung memiliki Exynos sekaligus bekerja dengan Qualcomm. Google mengembangkan Tensor untuk memperkuat fitur AI Pixel. Sementara Xiaomi semakin agresif membangun chip sendiri. Pada Agustus 2026, Xiaomi memperkenalkan Xring O3, chip smartphone berbasis proses 3 nm. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Xiaomi mengurangi ketergantungan terhadap Qualcomm dan MediaTek. Xiaomi juga telah menginvestasikan lebih dari 20 miliar yuan untuk pengembangan chip dan memperluas tim semikonduktornya menjadi lebih dari 3.000 orang. Di sisi lain, Samsung dan Apple masih menjadi kekuatan besar di segmen premium. Pada kuartal II 2026, Samsung Galaxy S26 Ultra bahkan menjadi smartphone Android terlaris, sementara iPhone 17, 17 Pro Max dan 17 Pro menempati tiga posisi teratas secara global. Apple dan Samsung secara gabungan menguasai sekitar 26% penjualan smartphone global. Tetapi perang HP 2026 memiliki masalah baru: memori semakin mahal. Kebutuhan AI membuat DRAM dan penyimpanan menjadi semakin penting, sementara pasokan memori mengalami tekanan. Counterpoint menilai kondisi tersebut paling berat bagi smartphone murah karena biaya memori mengambil porsi lebih besar dari total biaya perangkat. Akibatnya, konsumen menghadapi paradoks. HP semakin pintar, tetapi harga juga berpotensi semakin mahal. Pada akhirnya, pemenang perang smartphone tidak lagi ditentukan oleh kamera dengan megapiksel terbesar. Kamera tetap penting, tetapi keunggulan mulai ditentukan oleh kemampuan sebuah perusahaan menggabungkan AI, chipset, memori, baterai, software dan ekosistem. Smartphone 2026 perlahan berubah dari sekadar alat komunikasi menjadi komputer AI yang selalu berada di dalam saku. Dan pertarungan terbesar bukan lagi siapa yang punya spesifikasi paling tinggi, melainkan siapa yang mampu membuat seluruh teknologi tersebut bekerja bersama secara cepat, hemat energi dan benar-benar berguna bagi pengguna.

intan rasmitaintan rasmitasekitar 14 jam yang lalu0
1
Sains & Tech

BYD dan Perang Teknologi Mobil Listrik

Persaingan mobil listrik kini tidak lagi sekadar soal jarak tempuh. Pertarungan bergeser ke teknologi baterai, kecepatan pengisian, efisiensi motor, power electronics, hingga kemampuan memproduksi teknologi tersebut secara massal. Di tengah persaingan itu, BYD menjadi salah satu pemain yang paling agresif. Kekuatan utama BYD ada pada Blade Battery. Teknologi berbasis LFP ini dikenal karena stabilitas termal dan biaya produksinya yang relatif kompetitif. Pada 2026, BYD memperkenalkan Blade Battery 2.0 dengan peningkatan densitas energi sekitar 5 persen. BYD menyebut teknologi ini dapat mencapai sekitar 190–210 Wh/kg pada konfigurasi tertentu. Lompatan paling besar terjadi pada teknologi pengisian. Setelah memperkenalkan Super e-Platform 1.000 volt dan kemampuan charging hingga 1.000 kW pada 2025, BYD pada 2026 membawa teknologi tersebut ke FLASH Charging hingga 1.500 kW. BYD mengklaim pengisian 10–70 persen dapat dilakukan sekitar lima menit dan 10–97 persen sekitar sembilan menit. Secara konsep, waktu tersebut mulai mendekati pengalaman mengisi bahan bakar kendaraan konvensional. Namun angka 1.500 kW bukan berarti mobil selalu menerima daya sebesar itu. Kecepatan charging dipengaruhi temperatur baterai, kapasitas stasiun, kondisi baterai dan sistem kendaraan. Infrastruktur listrik juga menjadi tantangan besar. Di sisi powertrain, BYD mengembangkan integrasi tinggi antara baterai, inverter, motor dan sistem elektronik. Super e-Platform menggunakan motor dengan putaran hingga 30.000 rpm serta teknologi silicon carbide untuk meningkatkan efisiensi sistem. BYD juga mengembangkan Cell-to-Body, yaitu integrasi baterai dengan struktur bodi kendaraan. Pendekatan ini membuat baterai bukan sekadar sumber energi, tetapi bagian dari arsitektur kendaraan. Di sinilah BYD mulai berhadapan langsung dengan pemain seperti Tesla, Hyundai-Kia dan produsen EV China lainnya. Tesla kuat dalam software, efisiensi kendaraan dan jaringan Supercharger, sementara BYD memiliki keunggulan pada integrasi manufaktur dan rantai pasok baterai. Dengan penjualan sekitar 4,6 juta NEV pada 2025, skala produksi menjadi senjata penting BYD. Namun teknologi spektakuler belum otomatis berarti kemenangan. Charging 1.500 kW membutuhkan infrastruktur yang mampu menyuplai energi besar, sementara klaim jarak tempuh harus dilihat berdasarkan standar pengujian yang digunakan. Pada akhirnya, perang mobil listrik bukan hanya tentang siapa yang memiliki baterai terbesar atau charger tercepat. Pemenangnya adalah perusahaan yang mampu menggabungkan baterai, motor, elektronik, software, manufaktur dan infrastruktur menjadi satu ekosistem yang efisien. Dalam perlombaan tersebut, BYD jelas bukan lagi sekadar produsen mobil listrik murah. Ia sedang mencoba mengubah standar teknologi kendaraan listrik itu sendiri.

intan rasmitaintan rasmitasekitar 16 jam yang lalu0
1
Sains & Tech

“Kita Tidak Bisa Menghindari Bencana, Tapi Bisa Bersiap”

Tinggal di negara yang rawan bencana berarti hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Gempa bisa datang tanpa aba-aba, gunung dapat erupsi, banjir bisa merendam permukiman, dan tsunami dapat mengubah kehidupan dalam hitungan menit. Kita mungkin tidak pernah tahu kapan bencana akan datang. Namun, kita selalu punya pilihan tentang seberapa siap kita menghadapinya. Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko bencana yang tinggi. Letaknya di pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif dan berada di kawasan Ring of Fire membuat Indonesia memiliki potensi gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api yang besar. Berdasarkan WorldRiskIndex 2025, Indonesia berada di peringkat ketiga negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia, dengan skor 39,80. Indonesia berada di bawah Filipina dengan skor 46,56 dan India dengan 40,73. Lima negara dengan skor risiko bencana tertinggi pada 2025 adalah: Filipina - 46,56 India - 40,73 Indonesia - 39,80 Kolombia - 39,26 Meksiko - 38,96 Angka tersebut tentu terdengar mengkhawatirkan. Tetapi peringkat itu seharusnya tidak membuat kita sekadar merasa takut. Justru, pertanyaannya adalah “kalau kita tahu bahwa risiko itu nyata, sudahkah kita benar-benar siap?” Bencana Tidak Bisa Kita Kendalikan, Dampaknya Bisa Kita sering menganggap bencana sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali manusia. Gempa tidak bisa dihentikan. Gunung tidak bisa diperintah untuk tidak meletus. Hujan ekstrem tidak bisa begitu saja kita hentikan. Tetapi bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan, yang dapat kita kendalikan adalah kesiapsiagaan. Mengetahui jalur evakuasi, memahami peringatan dini, memiliki rencana ketika terjadi keadaan darurat, membangun rumah dengan standar yang lebih aman, hingga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa atau tsunami terjadi adalah bentuk sederhana dari mitigasi. Masalahnya, kesiapsiagaan sering baru dianggap penting setelah bencana terjadi. Kita baru sibuk mencari jalur evakuasi ketika air sudah naik. Baru bertanya tentang titik kumpul ketika gempa sudah terjadi. Baru memikirkan kekuatan bangunan setelah melihat rumah-rumah runtuh. Padahal, kesiapan seharusnya dibangun ketika keadaan masih tenang. Ketangguhan Bukan Berarti Kebal Hidup di negara rawan bencana tidak berarti masyarakat Indonesia harus menjadi kebal terhadap bencana. Ketangguhan bukan berarti tidak takut, bukan berarti tetap mampu mengambil keputusan ketika rasa takut muncul. Di sinilah Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat besar gotong royong. Ketika bencana terjadi, masyarakat sering menjadi pihak pertama yang saling membantu. Warga mencari korban, menyediakan makanan, membuka tempat tinggal, hingga membantu membersihkan lingkungan. Namun, gotong royong saja tidak cukup. Kita membutuhkan sistem yang membuat solidaritas masyarakat dapat bekerja lebih cepat dan efektif. Sekolah perlu mengajarkan kesiapsiagaan bencana bukan hanya sebagai teori, tetapi melalui simulasi yang rutin. Masyarakat perlu memahami peringatan dini dan jalur evakuasi di wilayahnya. Pemerintah perlu memastikan pembangunan mengikuti standar keamanan, terutama di kawasan dengan risiko tinggi. Teknologi juga harus menjadi bagian dari pertahanan kita, sensor, sistem peringatan dini, jaringan komunikasi, pemetaan risiko, hingga pengolahan data harus terus diperkuat. Karena dalam situasi bencana, beberapa menit bahkan beberapa detik bisa menentukan keselamatan seseorang. Belajar dari Jepang, Bukan Menirunya Jepang sering menjadi contoh ketika kita berbicara tentang masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Negara tersebut juga tidak bebas dari gempa, tsunami, dan berbagai risiko alam lainnya. Yang membedakan bukan karena Jepang tidak mengalami bencana. Mereka justru hidup dengan kesadaran bahwa bencana merupakan bagian dari realitas negaranya. Kesiapsiagaan dibangun menjadi kebiasaan, siimulasi dilakukan infrastruktur diperkuat. Regulasi konstruksi diperketat, masyarakat dibiasakan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi. Indonesia tentu tidak harus menjadi Jepang. Kita memiliki kondisi geografis, persoalan, dan karakter masyarakat yang berbeda. Tetapi ada satu hal yang bisa kita pelajari “ketangguhan tidak lahir secara tiba-tiba ketika bencana datang. Ia dibentuk jauh sebelum bencana terjadi.” Indonesia Harus Belajar Hidup Bersama Risiko Menjadi negara yang rawan bencana bukanlah aib. Kita tidak bisa memilih letak geografis Indonesia, yang bisa kita pilih adalah bagaimana kita hidup di dalamnya. Kita tidak perlu terus-menerus hidup dalam ketakutan karena bencana tetapi kita juga tidak boleh hidup seolah-olah bencana tidak akan pernah terjadi, Karena pada akhirnya, yang diuji oleh bencana bukan hanya kekuatan bangunan, kecanggihan teknologi, atau kecepatan pemerintah merespons. Yang diuji adalah seberapa siap manusia di dalamnya, mungkin kita memang tidak bisa mencegah semua bencana. Tetapi kita bisa mencegah ketidaksiapan menjadi bencana berikutnya. Dan jika Indonesia memang harus hidup berdampingan dengan risiko, maka tangguh bukan lagi pilihan. Tangguh adalah keharusan. #sainstech #sains-tech

Rio ChanRio Chansekitar 18 jam yang lalu0
1
Sains & Tech

Anak Krakatau dari Data Sains dan Mitigasi

Aktivitas Gunung Anak Krakatau memasuki fase penting sejak Jumat, 4 September 2026. PVMBG mencatat erupsi menerus mulai pukul 23.07 WIB dan berlangsung sekitar 25 jam, hingga berhenti pada 6 September pukul 00.04 WIB. Setelah itu muncul erupsi susulan tipe Strombolian selama sekitar 30 detik pada pukul 03.53 WIB. Erupsi kembali tercatat pada Minggu malam, 6 September pukul 20.23 WIB. PVMBG menilai kemungkinan erupsi lanjutan masih tinggi. Data di bawah permukaan Perubahan aktivitas Anak Krakatau tidak hanya dilihat dari visual. Instrumen RSAM yang mengukur energi getaran vulkanik menunjukkan peningkatan pada 5 September, kemudian menurun pada 6 September. Sementara itu, data tiltmeter Stasiun Tanjung menunjukkan kecenderungan inflasi sejak awal Agustus. Inflasi berarti permukaan tubuh gunung mengalami perubahan bentuk yang dapat berkaitan dengan tekanan atau pergerakan material di dalam sistem vulkanik. Stasiun Lava93 sendiri menunjukkan pola relatif datar. Pada periode 5 September pukul 00.00–06.00 WIB, PVMBG mencatat gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi sekitar 21.600 detik atau enam jam. Di lapangan juga teramati fenomena lava fountain, yaitu semburan lava pijar akibat pelepasan magma dan gas bertekanan dari kawah. Saat ini status Anak Krakatau tetap Level III atau Siaga. Radius 3 kilometer dari kawah aktif dinyatakan sebagai zona yang tidak boleh dimasuki masyarakat, wisatawan maupun pendaki. Abu bergerak lebih jauh dari gunung Dampak terbesar saat ini justru terlihat pada atmosfer. Abu vulkanik terbawa angin hingga mencapai wilayah yang jauh dari kawah. BMKG melaporkan material abu mencapai sekitar 50.000 kaki atau 15 kilometer di sisi Sumatra dan sekitar 20.000 kaki atau 6 kilometer di sisi Jawa. Kondisi ini membuat ruang udara menjadi faktor penting dalam penanganan bencana. Pada 6 September, BNPB mencatat empat bandara sempat ditutup sementara: Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto. Kemenhub kemudian melaporkan 373 penerbangan terdampak pada Minggu pagi. Sehari berikutnya, jumlah bandara yang masih terdampak meningkat menjadi delapan dan sekitar 170.000 penumpang terkena dampak pembatalan penerbangan. Evakuasi belum berarti pengosongan wilayah Sampai perkembangan terbaru, penanganan tidak diarahkan pada evakuasi massal penduduk di Banten dan Lampung. Strateginya adalah mengosongkan zona bahaya 3 kilometer, memperkuat patroli, memastikan jalur evakuasi dan titik kumpul siap, serta menyiapkan komunikasi apabila aktivitas meningkat. BNPB juga meminta masyarakat tidak mendekati gunung untuk melihat atau merekam erupsi. Yang juga penting, PVMBG menyatakan pertumbuhan tubuh Anak Krakatau setelah 2018 masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Karena itu, masyarakat pesisir diminta tetap waspada tetapi tidak panik terhadap isu tsunami. Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Anak Krakatau harus dibaca sebagai sebuah sistem: magma, gas, gempa, perubahan bentuk tubuh gunung, abu, angin dan aktivitas manusia saling berkaitan. Erupsi bukan hanya persoalan gunung yang mengeluarkan api, tetapi rangkaian proses geologi yang dapat menjalar dampaknya ke udara, transportasi dan kehidupan masyarakat.

Fania MeyandraFania Meyandrasekitar 19 jam yang lalu0
2
Sains & Tech

“Kerokan: Kenapa Terasa Sembuh?”

Hampir semua orang Indonesia mungkin pernah mengalaminya. Badan terasa tidak enak, pegal, menggigil, atau kepala terasa berat. Lalu seseorang mengambil koin, mengoleskan minyak, dan mulai mengerok punggung hingga muncul garis-garis merah. Setelahnya? “Nah, sudah enakan.” Kerokan begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari sampai jarang kita mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh. Mengapa kulit menjadi merah? Mengapa setelah dikerok badan terasa lebih ringan? Dan yang paling penting “apakah kita benar-benar sembuh?” Merah Bukan Berarti Angin Keluar Salah satu anggapan yang paling melekat pada kerokan adalah bahwa warna merah menandakan “angin” telah keluar dari tubuh. Secara fisiologis, tentu bukan itu yang terjadi. Warna merah muncul karena gesekan dan tekanan pada kulit memicu respons pada pembuluh darah kecil di area tersebut. Dengan kata lain, kulit sedang menunjukkan respons terhadap perlakuan fisik yang cukup kuat. Jadi, semakin merah bukan berarti semakin banyak angin yang keluar. Tapi tubuh kita bukan sedang mengeluarkan angin. Tubuh sedang bereaksi. Lalu Kenapa Badan Terasa Lebih Enak? Di sinilah kerokan menjadi menarik. Gesekan pada kulit memberikan rangsangan kuat pada sistem saraf. Sensasi tersebut dapat memengaruhi bagaimana tubuh memproses rasa tidak nyaman atau nyeri. Ditambah rasa hangat, perhatian dari orang lain, aroma minyak, serta sensasi setelah tubuh selesai dikerok, semuanya dapat berkontribusi pada perasaan lega. Itulah sebabnya pengalaman “habis kerokan langsung enakan” tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Rasa nyaman itu nyata. Tetapi rasa nyaman tidak otomatis berarti penyakitnya telah sembuh. Jika seseorang sedang mengalami infeksi virus, misalnya, kerokan tidak serta-merta membunuh virus tersebut. Kerokan lebih tepat dipandang sebagai praktik yang mungkin membantu meredakan sensasi tidak nyaman, bukan sebagai bukti bahwa penyebab penyakit telah hilang. Meredakan Gejala Bukan Berarti Menyembuhkan Di sinilah kita sering keliru. Ketika rasa pegal berkurang, kita mengatakan sudah sembuh. Ketika tubuh terasa hangat, kita merasa “masuk anginnya sudah keluar”. Padahal tubuh manusia jauh lebih kompleks. Gejala yang berkurang tidak selalu berarti penyebab penyakitnya menghilang. Kerokan mungkin membuat seseorang merasa lebih nyaman, tetapi tidak bisa dijadikan pengganti diagnosis atau pengobatan ketika seseorang mengalami penyakit yang membutuhkan penanganan medis. Bahkan, semakin keras bukan berarti semakin berkhasiat. Kerokan yang dilakukan secara berlebihan dapat menyebabkan iritasi, luka pada kulit, memar, bahkan perdarahan kecil. Karena itu, jika seseorang memilih melakukan kerokan, tekanan tetap perlu disesuaikan dengan kenyamanan dan kondisi kulit. Jadi, Kerokan Itu Mitos? Mungkin pertanyaan ini justru salah. Kerokan tidak harus ditempatkan sebagai pilihan antara “sains” atau “mitos”. Ia adalah tradisi yang lahir dari pengalaman manusia terhadap tubuhnya sendiri. Selama bertahun-tahun, masyarakat mengamati bahwa setelah tubuh digosok dan diberi rangsangan tertentu, mereka merasa lebih nyaman. Sains kemudian membantu kita memahami bahwa warna merah pada kulit bukanlah angin yang keluar. Namun sains juga mengingatkan kita untuk tidak melompat terlalu jauh,merasa lebih baik bukan bukti bahwa penyakit telah disembuhkan. Pada akhirnya, kerokan mungkin memang tidak mengeluarkan angin, tetapi bukan berarti seluruh pengalaman di baliknya tidak memiliki penjelasan. Tubuh kita bereaksi terhadap sentuhan, tekanan, suhu, saraf, dan bahkan persepsi kita sendiri. Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi: “Apakah kerokan benar-benar mengeluarkan angin?” Melainkan: “Mengapa tubuh kita bisa merasa lebih baik setelah dikerok?” Di situlah tradisi sehari-hari bertemu dengan sains. credit sarvamya #sainstech #sains-tech

PPeter Parker4 hari yang lalu0
2
Halaman 1 dari 3