Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Games

Diskusi game, gamifikasi budaya, dan pengalaman interaktif.

Games

Halloween: The Game - Menegangkan, Brutal, dan Penuh Kekacauan

Bagi penggemar game horor seperti Friday the 13th, Halloween: The Game mungkin akan terasa cukup familiar. Game garapan Alphonic ini menghadirkan pertarungan 4 lawan 1, mempertemukan empat warga Haddonfield dengan salah satu ikon horor paling terkenal, Michael Myers. Konsepnya memang tidak sepenuhnya baru, tetapi Halloween: The Game memiliki sejumlah mekanisme yang membuat pertandingan terasa berbeda. Pemain bisa memilih dari 12 karakter penyintas dengan karakteristik masing-masing, kemudian mengembangkan kemampuan mereka melalui sistem perk yang dapat dibuka di area pemakaman atau graveyard. Bagi pemain baru, tersedia mode single-player singkat yang berfungsi sebagai tutorial. Mode ini cukup membantu untuk memahami dasar permainan, terutama ketika harus mengendalikan Michael Myers yang pada awalnya terasa agak kaku. Menjadi Michael Myers Bermain sebagai Michael Myers memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan memainkan penyintas. Myers tidak menggunakan sistem perk, tetapi memiliki enam kemampuan khusus yang menjadi senjata utamanya. Salah satu kemampuan paling penting adalah Shape Jump. Myers memang tidak dapat berlari cepat dan lebih mengandalkan power walk, sehingga mobilitas menjadi tantangan tersendiri. Shape Jump memungkinkan Myers berpindah secara instan melalui bayangan atau area gelap selama dirinya tidak sedang diawasi. Ia juga memiliki EMP, yang dapat mematikan lampu untuk sementara, serta Reality Tear, kemampuan teleportasi instan yang bisa digunakan untuk mengejutkan penyintas. Namun, kedua kemampuan ini memiliki cooldown yang cukup panjang sehingga penggunaannya harus diperhitungkan dengan baik. Situasi berubah drastis ketika Myers mencapai Bloodthirst 3. Pada tahap ini, kekuatannya meningkat secara signifikan. Myers mampu menghabisi penyintas hanya dengan tiga pukulan dan mendapatkan akses ke berbagai animasi eksekusi lingkungan yang brutal. Di sinilah permainan mulai terasa benar-benar seperti film Halloween: penyintas berusaha bertahan hidup, sementara Myers perlahan berubah menjadi ancaman yang semakin sulit dihentikan. Menjadi Penyintas Bermain sebagai penyintas menghadirkan ketegangan dengan cara yang cukup efektif. Salah satu elemen yang paling menonjol adalah penggunaan fixed camera, yang membuat pandangan pemain terbatas dan menyulitkan mereka melihat apa yang terjadi di belakang ketika sedang berlari. Keterbatasan pandangan tersebut membuat setiap sudut dan lorong terasa lebih menegangkan. Pemain bukan hanya harus menghindari Myers, tetapi juga mencari berbagai barang yang diperlukan untuk melarikan diri. Menariknya, penyintas tidak sepenuhnya sendirian. NPC warga sipil dapat dimanfaatkan untuk membantu berbagai keperluan, seperti membawakan senjata, mengikuti instruksi, hingga membantu memanggil polisi. Salah satu fitur yang cukup unik adalah apa yang terjadi setelah seorang pemain mati. Mereka tidak hanya menjadi penonton pertandingan. Pemain yang telah gugur masih dapat memainkan berbagai mini-games untuk membantu anggota tim yang masih bertahan. Bahkan, terdapat kesempatan untuk kembali ke permainan sebagai karakter ikonik Dr. Loomis. Fitur VoIP juga menambah keseruan sekaligus kekacauan dalam pertandingan karena pembunuh dan penyintas dapat berkomunikasi secara langsung. Dalam game horor asimetris, komunikasi seperti ini bisa menjadi alat strategi, tetapi juga berpotensi menghasilkan momen-momen yang tidak terduga. Tidak Lepas dari Kekurangan Meski menawarkan gameplay yang menyenangkan, Halloween: The Game masih memiliki sejumlah masalah, terutama karena versi yang dimainkan masih berada dalam tahap early access. Salah satu masalah yang cukup terasa adalah loot pool yang terlalu melimpah. Penyintas terkadang dapat menemukan barang penting untuk melarikan diri hanya di rumah pertama yang mereka masuki. Hal ini berpotensi membuat fase pencarian menjadi terlalu mudah dan mengurangi tekanan yang seharusnya menjadi bagian penting dari permainan. Myers juga memiliki kelemahan yang cukup mudah dieksploitasi. Penyintas dapat menghindari kemampuan Shape Jump hanya dengan berdiri diam di tengah jalan yang terang, terutama di bawah lampu jalan. Karena kemampuan tersebut bergantung pada bayangan dan area gelap ketika Myers tidak sedang diawasi, kondisi ini membuat pembunuh terkadang kehilangan salah satu alat mobilitas utamanya. Selain masalah keseimbangan, versi early access juga masih menunjukkan beberapa masalah teknis dan bug. Namun, sebagian dari masalah tersebut masih dapat dimaklumi mengingat game belum berada pada versi final. Ada harapan bahwa pengembang akan memperbaikinya melalui pembaruan hari pertama (day one patch) ketika game resmi dirilis. Jadwal Rilis Bagi pemain yang sudah menantikan kehadiran Halloween: The Game, game ini memiliki dua tanggal rilis, tergantung edisi yang dibeli. Deluxe Edition mendapatkan akses lebih awal pada 4 September, sementara Standard Edition menyusul pada 8 September. Perbedaan jadwal ini memberikan kesempatan bagi pemilik Deluxe Edition untuk lebih dahulu memasuki Haddonfield dan merasakan teror Michael Myers sebelum versi Standard Edition tersedia. Kesimpulan Halloween: The Game bukan game horor asimetris yang sepenuhnya menawarkan sesuatu yang baru. Formula 4 vs 1 yang digunakan sudah cukup dikenal oleh pemain genre ini. Namun, penggunaan karakter Michael Myers, kemampuan khususnya, atmosfer Haddonfield, fixed camera, serta sistem yang memungkinkan pemain yang sudah mati tetap membantu tim membuat pengalaman bermainnya cukup menarik. Game ini masih memiliki beberapa masalah keseimbangan dan teknis yang perlu diperbaiki. Namun, jika pengembang mampu mengatasi persoalan tersebut, Halloween: The Game berpotensi menjadi pilihan menarik bagi penggemar horor dan game multiplayer asimetris. Pada akhirnya, daya tarik terbesar game ini bukan hanya soal menang atau kalah. Ketika lampu mulai padam, bayangan mulai terbentuk, dan langkah Myers semakin dekat, pertanyaannya hanya satu: seberapa lama kamu bisa bertahan?

Rio ChanRio Chansekitar 15 jam yang lalu0
3
Games

30+ Game dalam Satu Panggung, Sony Pamerkan Masa Depan PlayStation

Sony Interactive Entertainment kembali membuat panggung PlayStation ramai. Pada 3 September 2026, Sony menggelar dua presentasi sekaligus, State of Play dan State of Play Japan, yang secara keseluruhan menghadirkan informasi mengenai lebih dari 30 game. Bukan hanya trailer baru, acara ini juga membawa pengumuman tanggal rilis, gameplay, ekspansi, hingga sejumlah judul baru. Yang menarik, Sony tidak hanya mengandalkan satu atau dua game besar. Presentasi kali ini memperlihatkan strategi yang lebih luas: menggabungkan game blockbuster global dengan karya developer Jepang dan Asia. Salah satu sorotan terbesar datang dari Final Fantasy VII Revelation, bagian penutup dari proyek remake Final Fantasy VII. Square Enix mengumumkan game tersebut akan hadir di PS5 pada 8 April 2027, sekaligus memperlihatkan eksplorasi dunia yang lebih luas, termasuk penggunaan Highwind, grappling gun, dan chocobo. Sony juga memberikan tanggal rilis Until Dawn 2, yang dijadwalkan meluncur pada 28 Januari 2027 untuk PS5. Game ini kembali membawa formula horor berbasis pilihan, di mana keputusan pemain menjadi bagian penting dari jalannya cerita. Dari Jepang, salah satu pengumuman menarik adalah Fate/Extra Record. Remake RPG tersebut dijadwalkan hadir secara global untuk PS4 dan PS5 pada 28 Januari 2027. Sementara itu, penggemar game balap mendapat kabar tentang Gran Turismo 7 Spec IV. Update besar tersebut akan hadir dalam dua bagian pada 2026 dan membawa sirkuit, mobil, serta fitur baru, termasuk Family Mode. Ada pula judul baru seperti Rhapsody in Scarlet, game action PS5 berlatar New York era 1920-an yang memadukan suasana jazz dengan pertarungan menggunakan sihir dan makhluk fantastis. Namun pesan terbesar dari acara ini justru bukan jumlah gamenya. Sony sedang menunjukkan bahwa ekosistem PlayStation masih memiliki banyak bahan bakar untuk beberapa tahun ke depan. Dari franchise besar, game Jepang, proyek baru, hingga ekspansi game yang sudah berjalan, kalender PlayStation mulai dipenuhi berbagai jenis pengalaman. Bahkan di luar game, Sony ikut membawa identitas PlayStation ke ranah lain. Pada acara yang sama, perusahaan memperkenalkan LEGO PlayStation, replika konsol PlayStation pertama berukuran hampir 1:1 dengan 1.911 keping LEGO. Artinya, State of Play September 2026 bukan sekadar acara untuk memamerkan trailer. Ini adalah cara Sony menunjukkan bahwa PlayStation sedang membangun portofolio jangka panjang—dan 30 lebih game yang dipamerkan hanyalah gambaran kecil dari arah industri yang semakin besar, digital, dan kompetitif.

Fania MeyandraFania Meyandrasekitar 18 jam yang lalu0
3
Games

10 Game Paling Populer di 2026

Tahun 2026 membuktikan bahwa menjadi game paling populer tidak selalu berarti menjadi game terbaru. Justru sejumlah game lama masih mendominasi pemain, pendapatan, hingga penonton streaming. Data terbaru Newzoo untuk Juli 2026 menunjukkan Counter-Strike 2, Minecraft, Roblox, dan Fortnite masih menjadi empat game dengan monthly active users (MAU) terbesar di PC. Di console, Fortnite tetap berada di posisi teratas, sementara GTA V melonjak ke posisi kedua setelah mendapatkan dorongan dari hype GTA VI dan update GTA Online. Di Steam, kekuatan game-game tersebut juga terlihat. Data terbaru menunjukkan sekitar 505 ribu pemain sedang memainkan Counter-Strike 2, disusul Dota 2 dengan 427 ribu dan PUBG: Battlegrounds sekitar 291 ribu pemain secara bersamaan. Angka ini tentu berubah setiap menit, tetapi cukup menggambarkan besarnya basis pemain PC. Sementara itu, medan perang mobile punya cerita berbeda. Sensor Tower mencatat Roblox sebagai game mobile dengan download terbanyak di dunia pada Juli 2026, mengalahkan Free Fire. Dalam satu bulan, seluruh game mobile menghasilkan sekitar 3,72 miliar download global. Dari sisi uang, Honor of Kings justru menjadi game dengan pendapatan tertinggi, ketika total belanja konsumen game mobile mencapai US$6,6 miliar. Popularitas juga tidak berhenti pada jumlah pemain. Twitch menunjukkan kekuatan sebuah game sebagai tontonan. Sepanjang Agustus 2026, League of Legends mencatat 72,14 juta jam tontonan, Dota 2 67,77 juta, Counter-Strike 57,80 juta, GTA V 45,63 juta, Minecraft 38,06 juta dan Fortnite hampir 30 juta jam. Dota 2 bahkan mencatat peak lebih dari satu juta penonton bersamaan di Twitch pada periode tersebut. Kalau semua data ini digabungkan, muncul sebuah pola menarik, game paling kuat di 2026 bukan selalu game yang baru dirilis. Roblox menang lewat ekosistem dan jumlah download. Counter-Strike 2 kuat di PC dan kompetitif. Fortnite menguasai engagement console. League of Legends dan Dota 2 menjadi mesin tontonan esports. Minecraft bertahan lintas generasi, sementara GTA V masih hidup meskipun usianya sudah lebih dari satu dekade. #counterstrike2 #minecraft #leagueoflegends #dota2 #gtav #fortnite #roblox #pubgmobile

Fania MeyandraFania Meyandra4 hari yang lalu0
3
Games

Game Lama Masih Menguasai Industri 2026

Kalau melihat daftar game paling populer 2026, ada satu hal yang cukup mengejutkan, industri game ternyata tidak benar-benar dikuasai oleh game baru. Counter Strike 2, Minecraft, League of Legends, Dota 2, GTA V, Fortnite hingga Roblox masih menjadi nama besar yang terus dimainkan dan ditonton jutaan orang. Bahkan beberapa di antaranya sudah berusia lebih dari satu dekade. Counter-Strike 2 masih menjadi salah satu raksasa PC. League of Legends dan Dota 2 tetap kuat sebagai tontonan esports di Twitch. Minecraft terus bertahan lintas generasi, sementara GTA V kembali mendapatkan perhatian berkat besarnya hype terhadap GTA VI. Di sisi lain, mobile memiliki pertarungannya sendiri. Honor of Kings, dan Free Fire tetap menjadi mesin besar dengan jumlah pemain dan pendapatan yang sulit diabaikan. Yang menarik, pola ini sebenarnya menunjukkan perubahan perilaku gamer. Dulu, game baru dianggap sebagai simbol kemajuan. Setiap tahun pemain menunggu judul baru dengan grafik lebih bagus, dunia lebih luas dan fitur lebih canggih. Sekarang tidak selalu begitu. Pemain justru semakin memilih game yang sudah mereka kenal. Alasannya sederhana, komunitasnya sudah terbentuk, kontennya terus diperbarui, teman-teman mereka masih bermain dan mereka tidak perlu belajar semuanya dari awal. Fortnite adalah contoh paling jelas. Game ini mampu bertahan bukan hanya karena gameplay, tetapi karena event, kolaborasi, creator dan budaya pop. Roblox bahkan sudah berkembang jauh melampaui definisi game tradisional karena penggunanya datang untuk menikmati berbagai pengalaman yang dibuat komunitas. Lalu ada Minecraft. Game yang secara teknologi terlihat sederhana dibandingkan banyak judul modern, tetapi justru mampu bertahan karena memberikan kebebasan hampir tanpa batas. Karena di era live-service, komunitas dan konten berkelanjutan, umur sebuah game tidak lagi ditentukan oleh tanggal peluncurannya. Game lama bisa terus hidup selama pemain masih punya alasan untuk kembali. Dan mungkin itulah paradoks industri game saat ini: teknologi semakin cepat berkembang, tetapi game yang paling sulit dikalahkan justru adalah game yang sudah lama kita kenal. #counterstrike2 #minecraft #leagueoflegends #dota2 #gtav #fortnite #roblox #pubgmobile

Fania MeyandraFania Meyandra4 hari yang lalu0
2
Games

Siapa Bilang Main Game Tak Berguna

“Main game terus, kapan belajarnya?” Kalimat itu mungkin terdengar akrab bagi banyak anak yang tumbuh bersama game. Bermain game terlalu lama sering dianggap sebagai tanda kemalasan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru habis di depan layar. Nilai sekolah turun, pekerjaan rumah terbengkalai, waktu tidur berkurang, lalu game menjadi kambing hitam. Bahkan, ketika seorang anak mengatakan ingin menjadi gamer, respons yang muncul sering kali sederhana: “Memangnya bisa jadi apa?” Dulu, pertanyaan itu memang masuk akal. Ketika game hanya dipandang sebagai hiburan, menghabiskan berjam-jam di depan komputer tentu terlihat seperti membuang waktu. Warnet menjadi tempat anak-anak berkumpul, bermain game online, berteriak ketika menang, dan kesal ketika koneksi internet bermasalah. Tetapi dunia game tidak berhenti di warnet. Hari ini, sebagian pemain dapat menjadi atlet esports. Mereka berlatih secara serius, masuk ke dalam tim profesional, mengikuti kompetisi, mendapatkan sponsor, dan membangun karier dari kemampuan bermain yang mereka miliki. Sesuatu yang dahulu dianggap “cuma main game” kini memiliki ekosistem profesional. Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Apakah itu berarti semua anak yang bermain game sedang mempersiapkan masa depan? Tentu tidak, menjadi atlet esports bukan alasan untuk bermain tanpa batas. Tidak semua pemain akan menjadi profesional. Bahkan untuk mencapai tingkat profesional, seseorang membutuhkan disiplin, latihan, strategi, kerja sama tim, kemampuan berkomunikasi, pengendalian emosi, dan manajemen waktu. Artinya, yang membuat gaming bernilai bukan sekadar berapa lama seseorang bermain, tetapi apa yang dilakukan dengan aktivitas tersebut. Sama seperti sepak bola. Anak yang bermain sepak bola setiap sore tidak otomatis akan menjadi pemain profesional. Tetapi kita juga tidak mengatakan bahwa bermain sepak bola tidak berguna hanya karena sebagian besar anak tidak akan masuk tim nasional. Game pun demikian. Bagi sebagian orang, game hanyalah hiburan setelah belajar atau bekerja. Bagi sebagian lainnya, game menjadi ruang untuk bertemu teman dan membangun komunitas. Ada pula yang belajar strategi, bahasa, komunikasi, desain, bahkan teknologi melalui dunia game. Dan bagi sebagian kecil lainnya, game benar-benar menjadi profesi. Masalahnya adalah ketika kita melihatnya secara hitam putih. “Game itu buruk.” atau sebaliknya: “Game bisa jadi profesi, jadi tidak masalah bermain terus.” Keduanya sama-sama berbahaya. Game memang bisa menjadi profesi. Tetapi pendidikan tetap memiliki peran penting. Dunia esports juga tidak menjamin karier seseorang akan berlangsung selamanya. Seorang pemain bisa pensiun, kehilangan tempat di tim, mengalami persaingan yang semakin ketat, atau memilih jalan hidup yang berbeda. Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi: “Main game terus, kapan belajarnya?” Melainkan: “Apakah kamu tahu kapan harus bermain, kapan harus belajar, dan apa yang ingin kamu capai?” Sebab game bukanlah musuh pendidikan, tetapi game juga bukan pengganti pendidikan. Yang perlu kita ubah mungkin bukan pandangan bahwa game selalu berguna, melainkan cara kita memahami aktivitas bermain game itu sendiri. Dulu, seorang anak yang duduk berjam-jam di warnet mungkin hanya dianggap sedang membuang waktu. Hari ini, sebagian dari mereka bisa berdiri di atas panggung sebagai atlet esports. Namun di antara dua kenyataan itu ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: Bermain game bisa menjadi awal sebuah perjalanan. Tetapi masa depan tetap ditentukan oleh bagaimana seseorang menjalani perjalanan tersebut. Jadi, siapa bilang main game tak berguna? Bisa jadi berguna. Bisa jadi hiburan. Bisa jadi keterampilan. Bisa jadi profesi. Tetapi jangan sampai kita lupa: tidak semua permainan harus menjadi pekerjaan, dan tidak semua pekerjaan harus dimulai dari permainan. #games

PPeter Parker4 hari yang lalu0
1
Games

War Thunder Benarkah Mulai Ditinggalkan?

War Thunder kembali menarik perhatian bukan hanya karena pertempurannya, tetapi juga karena pertanyaan yang sering muncul di komunitas, apakah game ini mulai kehilangan pemain?. Jika melihat data Steam. Sepanjang 2026 memang terlihat tren penurunan. Rata-rata pemain mencapai 63.312 pada Januari, kemudian turun menjadi 59.541 pada April, 53.110 pada Mei, dan 49.576 pada Juli. Namun pada Agustus, angkanya justru naik menjadi 50.920 pemain rata-rata. Angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 19,6 persen dari Januari ke Agustus. Sekilas cukup besar, tetapi belum bisa dianggap sebagai tanda bahwa War Thunder sedang ditinggalkan massal. Justru ada indikator lain yang menarik. Dalam 30 hari terakhir, game ini masih mencatat rata-rata sekitar 50.226 pemain bersamaan, dengan puncak mencapai 87.202 pemain. Bahkan berdasarkan pemantauan SteamCharts, War Thunder masih berada di sekitar 20 besar game Steam berdasarkan pemain aktif bersamaan pada beberapa pengambilan data terbaru. Artinya, masalahnya bukan sekadar jumlah pemain turun. Yang lebih penting adalah apakah penurunannya terus berlanjut atau mulai stabil. Data Juli–Agustus justru memberikan sinyal positif kecil. Setelah turun cukup tajam pada Mei dan Juni, rata-rata pemain mulai bergerak naik. Tentu, data Steam bukan gambaran seluruh pemain War Thunder, karena game ini juga dimainkan melalui platform lain. War Thunder memang kehilangan sebagian pemain dibanding awal 2026, tetapi data belum menunjukkan game ini sedang mati. Untuk saat ini, istilah yang lebih tepat adalah: War Thunder sedang mencari titik keseimbangan baru.

Fania MeyandraFania Meyandra4 hari yang lalu0
2
Games

BUSSID: Ketika Menyetir Bus Justru Jadi Hiburan

BUSSID: Ketika Menyetir Bus Justru Jadi Hiburan Di tengah game yang berlomba menawarkan kecepatan, ledakan, dan pertarungan spektakuler, ada satu genre yang justru membuat pemain betah melakukan sesuatu yang terlihat sederhana: menyetir bus. Bus Simulator Indonesia atau BUSSID mungkin terdengar seperti game yang "membosankan" bagi sebagian orang. Tidak ada balapan dengan mobil sport, tidak ada musuh yang harus dikalahkan, dan tidak ada dunia fantasi yang harus diselamatkan. Pemain hanya mengemudikan bus, mengikuti rute, mengantar penumpang, dan menjaga perjalanan tetap aman. Namun justru di situlah daya tariknya. Berbeda dengan game racing yang menuntut pemain menjadi yang tercepat, driving simulation menawarkan pengalaman yang lebih santai dan menekankan ketelitian. Mengikuti rambu, menjaga manuver, mengatur perjalanan, hingga menghadapi kondisi jalan menjadi bagian dari tantangan. Dari ETS2 hingga BUSSID Fenomena simulator kendaraan di Indonesia sebenarnya sudah mendapatkan tempat melalui Euro Truck Simulator 2. Komunitas lokal kemudian mengubah pengalaman tersebut melalui berbagai modifikasi mulai dari peta Indonesia, kendaraan, livery PO bus, hingga suara khas seperti klakson telolet. Kehadiran BUSSID pada 2017 kemudian membawa pengalaman tersebut ke perangkat mobile. Salah satu kekuatan terbesarnya adalah lokalisasi. Jalan, terminal, kendaraan, suasana lingkungan, dan berbagai detail yang terasa akrab membuat pemain seolah tidak sedang berada di dunia virtual yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di sinilah BUSSID terasa berbeda. Game ini bukan hanya menjual pengalaman menjadi pengemudi bus. Ia juga menawarkan kesempatan untuk membawa sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia ke dalam dunia digital. Bukan Sekadar Game Bus Kekuatan BUSSID juga tidak bisa dilepaskan dari komunitasnya. Penggemar bus atau Bismania mendapatkan ruang untuk menyalurkan kecintaan mereka terhadap dunia transportasi melalui game. Bahkan bagi sebagian pemain, pengalaman tersebut terasa seperti mewujudkan sebuah keinginan sederhana: mengemudikan bus yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari pinggir jalan. Kehadiran streamer dan kreator konten kemudian membuat game ini semakin dikenal oleh pemain yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap bus. Menariknya lagi, BUSSID tidak selalu dimainkan untuk mengejar skor. Perjalanan panjang, hujan, suara mesin, lampu jalan malam hari, dan radio yang menemani perjalanan justru memberikan pengalaman yang relatif tenang. Bagi sebagian pemain, bermain simulator bisa menjadi bentuk hiburan yang lebih santai setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Kekurangan yang Masih Terasa Tentu BUSSID bukan tanpa masalah. Materi yang dibahas juga menyoroti beberapa keluhan pemain, terutama mengenai iklan yang mengganggu, pembaruan konten yang dianggap lambat, serta persaingan dengan simulator bus lain yang menawarkan teknologi dan visual lebih modern. Namun, kekurangan tersebut tidak menghapus satu hal penting: BUSSID berhasil membuat aktivitas yang biasa menjadi pengalaman bermain yang menarik. Pada akhirnya, BUSSID menunjukkan bahwa game tidak selalu harus membuat kita berlari, bertarung, atau menjadi yang tercepat. Kadang, cukup duduk di balik kemudi, mengikuti jalan, mendengarkan suara mesin, dan menikmati perjalanan. Mungkin itulah alasan mengapa aspal virtual Indonesia tidak pernah benar-benar sepi. #games

MMentari Senja5 hari yang lalu0
2
Halaman 1 dari 2