numa
Desain & Visual

Di Balik Font Courier yang Identik dengan Skenario Film

CamaroCamaroSider - 22 postingansekitar 5 jam yang laluDiperbarui sekitar 5 jam yang lalu

Pernah melihat skenario film dan langsung merasa, “Ini pasti naskah film”?

Bukan karena judulnya. Bukan pula karena ada nama sutradara atau pemain di halaman pertama. Salah satu petunjuknya justru bisa datang dari sesuatu yang sangat sederhana: font Courier.

Bentuk hurufnya memang tidak istimewa. Bahkan dibandingkan font modern yang lebih bersih dan stylish, Courier terlihat seperti sesuatu dari era mesin ketik. Namun selama puluhan tahun, font ini justru menjadi salah satu identitas visual dalam dunia penulisan skenario.

Alasannya bukan semata-mata soal estetika.

Courier menggunakan sistem monospaced, sehingga setiap karakter memiliki lebar yang sama. Karakteristik ini membuat tata letak naskah lebih konsisten dan membantu memperkirakan panjang sebuah skenario. Dalam konvensi penulisan skenario, satu halaman secara kasar sering diasosiasikan dengan sekitar satu menit durasi film.

Artinya, font ikut membantu menjaga standar sebuah naskah.

Namun ada alasan lain mengapa Courier begitu melekat.

Sebelum komputer menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, skenario banyak ditulis menggunakan mesin ketik. Tampilan Courier yang menyerupai hasil ketikan mesin menjadi bagian dari tradisi tersebut. Ketika teknologi berubah, formatnya tidak ikut hilang begitu saja.

Justru sebaliknya, konvensi lama bertahan karena industri sudah terbiasa dengannya.

Hari ini, seorang penulis skenario bisa mengetik menggunakan laptop dengan berbagai perangkat lunak. Tetapi ketika naskahnya dibaca oleh produser, sutradara, aktor, hingga kru produksi, format yang familiar tetap memiliki nilai praktis.

Di sinilah menariknya Courier. Ia bukan font yang dipilih karena paling indah. Ia dipertahankan karena fungsi, kebiasaan, dan sejarah.

Lama-kelamaan, bentuknya bahkan menjadi simbol.

Melihat Courier dalam format skenario, kita seolah sudah tahu bahwa halaman tersebut belum menjadi film. Belum ada kamera, belum ada aktor, belum ada musik. Yang ada baru kata-kata yang nantinya diterjemahkan menjadi gambar.

Dari mesin ketik hingga layar komputer, Courier tetap menjadi salah satu wajah paling sederhana dari sebuah cerita yang sedang menunggu untuk diwujudkan.

Dan mungkin, justru karena kesederhanaannya itulah font ini bertahan begitu lama.

#desainvisual #desain-visual

#desainvisual#desain-visual
00
Camaro

Balasan (0)

Topik Terkait