numa
Seni & Kreatif

Di Era Kamera Smartphone, Kenapa Photobox Kembali Ramai?

CamaroCamaroSider - 19 postingan4 hari yang laluDiperbarui 4 hari yang lalu

Ada masa ketika photobox terasa seperti sesuatu dari masa lalu.

Sebelum kamera smartphone menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, photobox adalah salah satu cara sederhana untuk mengabadikan momen bersama teman. Masuk ke dalam bilik, memilih pose, menunggu hitungan mundur, lalu mendapatkan beberapa lembar foto.

Kini, teknologi sudah berubah jauh. Hampir semua orang membawa kamera di dalam saku. Foto bisa diambil kapan saja, diedit dengan berbagai aplikasi, diberi filter, lalu langsung dibagikan ke media sosial.

Namun anehnya, photobox justru kembali ramai.

Di kawasan seperti Blok M, keberadaan tempat photobox yang semakin banyak menjadi salah satu gambaran kecil dari fenomena tersebut. Gen Z datang bukan karena mereka tidak memiliki kamera, tetapi justru karena mereka mencari pengalaman yang tidak diberikan oleh kamera smartphone.

Di photobox, semuanya terasa sedikit berbeda. Ada ruang kecil yang harus dimasuki bersama teman. Ada hitungan mundur. Ada waktu yang terbatas untuk berganti pose. Ada hasil foto yang langsung menjadi benda fisik.

Dan mungkin justru keterbatasan itulah yang membuatnya menarik. Ketika kamera smartphone memungkinkan kita mengambil ratusan foto dalam satu momen, photobox memaksa kita memilih beberapa pose terbaik. Tidak ada kesempatan untuk mengambil foto berkali-kali tanpa batas.

Hasilnya juga tidak selalu sempurna. Kadang ekspresi terlihat aneh. Pose tidak sesuai rencana. Ada foto yang terlalu dekat atau bahkan sedikit blur.

Tetapi justru ketidaksempurnaan itu yang membuat hasilnya terasa lebih personal.

Foto tersebut bukan hanya file yang tersimpan di galeri bersama ribuan foto lainnya. Ia menjadi sesuatu yang bisa dibawa pulang, ditempel, disimpan di dompet, atau diberikan kepada teman.

Di sinilah photobox mungkin memiliki nilai yang tidak dimiliki kamera smartphone.

Ia menjual pengalaman, bukan sekadar foto.

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana generasi yang tumbuh bersama teknologi digital ternyata tidak selalu mencari sesuatu yang semakin digital. Justru ketika hampir semua hal bisa dilakukan melalui layar, sesuatu yang sederhana dan fisik bisa kembali terasa menarik.

Nongkrong bukan hanya soal duduk dan berbicara. Ada aktivitas yang dilakukan bersama. Foto bukan hanya untuk diunggah ke Instagram atau TikTok. Ada hasil fisik yang bisa menjadi kenangan.

Bahkan antrean di depan photobox pun bisa menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Mungkin itu sebabnya photobox bisa kembali menemukan tempatnya di tengah budaya digital., bukan karena teknologi kamera smartphone semakin buruk. Justru karena teknologi sudah membuat mengambil foto menjadi terlalu mudah.

Ketika semua orang bisa mengambil foto kapan saja, foto yang dibuat melalui sebuah pengalaman bersama justru bisa terasa lebih berarti.

Dan mungkin, inilah alasan mengapa di tengah era kamera smartphone, Gen Z masih rela masuk ke sebuah bilik kecil, membayar beberapa puluh ribu rupiah, berpose selama beberapa detik, lalu menunggu selembar foto keluar. Karena pada akhirnya, yang mereka beli mungkin bukan fotonya. Mereka membeli momennya.


#senikreatif #seni-kreatif

#senikreatif#seni-kreatif
02
Camaro

Balasan (0)

Topik Terkait