numa
Seni & Kreatif

Materi Kuliah Online Sejarah Estetika

WiyanWiyanSider - 42 postingan10 hari yang laluDiperbarui 10 hari yang lalu
pic1.webp

Beberapa waktu lalu, dalam kuliah online Magister Tata Kelola Seni, saya mendapat giliran presentasi pada mata kuliah Estetika. Seperti biasa, layar laptop dipenuhi kotak-kotak wajah mahasiswa, mikrofon sebagian besar mute, lalu slide presentasi mulai dibuka. Awalnya saya mengira pembahasannya akan bergerak lurus: seni dimulai dari lukisan gua, berkembang ke seni klasik, modernisme, lalu seni kontemporer. Namun ketika materi mulai saya telaah lebih jauh, muncul satu pertanyaan yang mengganggu asumsi dasar tersebut: mengapa sejarah seni selalu dimulai dari lukisan gua, bukan dari alat-alat batu yang dibuat jauh lebih awal? Kapak Acheulean, misalnya, memperlihatkan keteraturan bentuk, keseimbangan, bahkan simetri. Benda itu memang tidak dibuat untuk dipajang, tetapi untuk bekerja. Dari sini saya mulai melihat bahwa estetika awal kemungkinan tidak berdiri terpisah dari fungsi. Keindahan, kegunaan, keterampilan, dan ketepatan bentuk justru hadir sebagai satu kesatuan.

Screenshot 2026-09-20 at 02.05.18.webp


Pertanyaan itu kemudian membawa saya pada pemahaman bahwa sejarah estetika sebenarnya bukan hanya sejarah tentang “apa yang dianggap indah”, tetapi juga sejarah tentang siapa yang memiliki otoritas untuk menentukan sesuatu sebagai seni. Dalam tradisi Yunani, technē masih mencakup keterampilan membuat sesuatu. Namun melalui perkembangan institusi seni, akademi, museum, kritik seni, dan pasar, terjadi pemisahan antara seniman dan pengrajin, antara seni murni dan benda berguna. Dari perspektif tata kelola seni, hal ini penting karena menunjukkan bahwa status sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh kualitas visualnya, tetapi juga oleh sistem yang mengelilinginya: institusi, kurator, akademisi, kolektor, pasar, hingga wacana yang memberi legitimasi. Kapak batu yang dahulu merupakan alat hidup dapat berubah menjadi artefak estetis ketika masuk museum. Artinya, nilai seni tidak sepenuhnya melekat pada objek, tetapi juga diproduksi oleh konteks dan struktur kekuasaan budaya.

Screenshot 2026-09-20 at 02.04.56.webp


Refleksi ini membuat saya melihat estetika bukan lagi sebagai persoalan selera atau keindahan semata, melainkan sebagai bagian dari sistem sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Di era modern, seni memang pernah bergerak menjauh dari fungsi praktis melalui gagasan art for art’s, tetapi pada saat yang sama dunia desain, arsitektur, teknologi, UI dan UX justru kembali menyatukan fungsi dan estetika. Dari sudut pandang Tata Kelola Seni, hal ini membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah institusi seni hari ini masih terlalu bergantung pada kategori lama tentang “seni tinggi”, atau sudah cukup terbuka untuk melihat nilai estetis dalam desain, kriya, teknologi, dan praktik kehidupan sehari-hari? Bagi saya, inilah poin penting dari materi ini. Sejarah estetika bukan garis lurus menuju seni yang semakin “maju”, tetapi proses negosiasi terus-menerus antara fungsi, makna, institusi, dan kekuasaan. Dan mungkin tantangan pengelola seni hari ini bukan hanya merawat karya, tetapi juga meninjau kembali siapa yang diberi ruang untuk disebut seni, siapa yang menentukan nilainya, dan untuk kepentingan siapa sistem seni itu bekerja.


02
Wiyan

Balasan (0)

Topik Terkait