Nusantara Mahayatra
Games

Siapa Bilang Main Game Tak Berguna

PPeter ParkerSider - 9 postingan4 hari yang laluDiperbarui 4 hari yang lalu

“Main game terus, kapan belajarnya?”

Kalimat itu mungkin terdengar akrab bagi banyak anak yang tumbuh bersama game.

Bermain game terlalu lama sering dianggap sebagai tanda kemalasan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru habis di depan layar. Nilai sekolah turun, pekerjaan rumah terbengkalai, waktu tidur berkurang, lalu game menjadi kambing hitam.

Bahkan, ketika seorang anak mengatakan ingin menjadi gamer, respons yang muncul sering kali sederhana:

“Memangnya bisa jadi apa?”

Dulu, pertanyaan itu memang masuk akal. Ketika game hanya dipandang sebagai hiburan, menghabiskan berjam-jam di depan komputer tentu terlihat seperti membuang waktu. Warnet menjadi tempat anak-anak berkumpul, bermain game online, berteriak ketika menang, dan kesal ketika koneksi internet bermasalah.

Tetapi dunia game tidak berhenti di warnet. Hari ini, sebagian pemain dapat menjadi atlet esports. Mereka berlatih secara serius, masuk ke dalam tim profesional, mengikuti kompetisi, mendapatkan sponsor, dan membangun karier dari kemampuan bermain yang mereka miliki.

Sesuatu yang dahulu dianggap “cuma main game” kini memiliki ekosistem profesional. Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apakah itu berarti semua anak yang bermain game sedang mempersiapkan masa depan?

Tentu tidak, menjadi atlet esports bukan alasan untuk bermain tanpa batas. Tidak semua pemain akan menjadi profesional. Bahkan untuk mencapai tingkat profesional, seseorang membutuhkan disiplin, latihan, strategi, kerja sama tim, kemampuan berkomunikasi, pengendalian emosi, dan manajemen waktu.

Artinya, yang membuat gaming bernilai bukan sekadar berapa lama seseorang bermain, tetapi apa yang dilakukan dengan aktivitas tersebut.

Sama seperti sepak bola.

Anak yang bermain sepak bola setiap sore tidak otomatis akan menjadi pemain profesional. Tetapi kita juga tidak mengatakan bahwa bermain sepak bola tidak berguna hanya karena sebagian besar anak tidak akan masuk tim nasional.

Game pun demikian.

Bagi sebagian orang, game hanyalah hiburan setelah belajar atau bekerja. Bagi sebagian lainnya, game menjadi ruang untuk bertemu teman dan membangun komunitas. Ada pula yang belajar strategi, bahasa, komunikasi, desain, bahkan teknologi melalui dunia game.

Dan bagi sebagian kecil lainnya, game benar-benar menjadi profesi.

Masalahnya adalah ketika kita melihatnya secara hitam putih.

“Game itu buruk.”

atau sebaliknya:

“Game bisa jadi profesi, jadi tidak masalah bermain terus.”

Keduanya sama-sama berbahaya. Game memang bisa menjadi profesi. Tetapi pendidikan tetap memiliki peran penting. Dunia esports juga tidak menjamin karier seseorang akan berlangsung selamanya. Seorang pemain bisa pensiun, kehilangan tempat di tim, mengalami persaingan yang semakin ketat, atau memilih jalan hidup yang berbeda. Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi:

“Main game terus, kapan belajarnya?”

Melainkan:

“Apakah kamu tahu kapan harus bermain, kapan harus belajar, dan apa yang ingin kamu capai?”

Sebab game bukanlah musuh pendidikan, tetapi game juga bukan pengganti pendidikan.

Yang perlu kita ubah mungkin bukan pandangan bahwa game selalu berguna, melainkan cara kita memahami aktivitas bermain game itu sendiri. Dulu, seorang anak yang duduk berjam-jam di warnet mungkin hanya dianggap sedang membuang waktu.

Hari ini, sebagian dari mereka bisa berdiri di atas panggung sebagai atlet esports. Namun di antara dua kenyataan itu ada satu hal yang tidak boleh dilupakan:

Bermain game bisa menjadi awal sebuah perjalanan. Tetapi masa depan tetap ditentukan oleh bagaimana seseorang menjalani perjalanan tersebut.

Jadi, siapa bilang main game tak berguna?

Bisa jadi berguna.

Bisa jadi hiburan.

Bisa jadi keterampilan.

Bisa jadi profesi.

Tetapi jangan sampai kita lupa: tidak semua permainan harus menjadi pekerjaan, dan tidak semua pekerjaan harus dimulai dari permainan.

#games

#games

Balasan (0)