Nusantara Mahayatra

Forum Komunitas

Games

Diskusi game, gamifikasi budaya, dan pengalaman interaktif.

Games

BUSSID: Ketika Menyetir Bus Justru Jadi Hiburan

BUSSID: Ketika Menyetir Bus Justru Jadi Hiburan Di tengah game yang berlomba menawarkan kecepatan, ledakan, dan pertarungan spektakuler, ada satu genre yang justru membuat pemain betah melakukan sesuatu yang terlihat sederhana: menyetir bus. Bus Simulator Indonesia atau BUSSID mungkin terdengar seperti game yang "membosankan" bagi sebagian orang. Tidak ada balapan dengan mobil sport, tidak ada musuh yang harus dikalahkan, dan tidak ada dunia fantasi yang harus diselamatkan. Pemain hanya mengemudikan bus, mengikuti rute, mengantar penumpang, dan menjaga perjalanan tetap aman. Namun justru di situlah daya tariknya. Berbeda dengan game racing yang menuntut pemain menjadi yang tercepat, driving simulation menawarkan pengalaman yang lebih santai dan menekankan ketelitian. Mengikuti rambu, menjaga manuver, mengatur perjalanan, hingga menghadapi kondisi jalan menjadi bagian dari tantangan. Dari ETS2 hingga BUSSID Fenomena simulator kendaraan di Indonesia sebenarnya sudah mendapatkan tempat melalui Euro Truck Simulator 2. Komunitas lokal kemudian mengubah pengalaman tersebut melalui berbagai modifikasi mulai dari peta Indonesia, kendaraan, livery PO bus, hingga suara khas seperti klakson telolet. Kehadiran BUSSID pada 2017 kemudian membawa pengalaman tersebut ke perangkat mobile. Salah satu kekuatan terbesarnya adalah lokalisasi. Jalan, terminal, kendaraan, suasana lingkungan, dan berbagai detail yang terasa akrab membuat pemain seolah tidak sedang berada di dunia virtual yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di sinilah BUSSID terasa berbeda. Game ini bukan hanya menjual pengalaman menjadi pengemudi bus. Ia juga menawarkan kesempatan untuk membawa sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia ke dalam dunia digital. Bukan Sekadar Game Bus Kekuatan BUSSID juga tidak bisa dilepaskan dari komunitasnya. Penggemar bus atau Bismania mendapatkan ruang untuk menyalurkan kecintaan mereka terhadap dunia transportasi melalui game. Bahkan bagi sebagian pemain, pengalaman tersebut terasa seperti mewujudkan sebuah keinginan sederhana: mengemudikan bus yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari pinggir jalan. Kehadiran streamer dan kreator konten kemudian membuat game ini semakin dikenal oleh pemain yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap bus. Menariknya lagi, BUSSID tidak selalu dimainkan untuk mengejar skor. Perjalanan panjang, hujan, suara mesin, lampu jalan malam hari, dan radio yang menemani perjalanan justru memberikan pengalaman yang relatif tenang. Bagi sebagian pemain, bermain simulator bisa menjadi bentuk hiburan yang lebih santai setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Kekurangan yang Masih Terasa Tentu BUSSID bukan tanpa masalah. Materi yang dibahas juga menyoroti beberapa keluhan pemain, terutama mengenai iklan yang mengganggu, pembaruan konten yang dianggap lambat, serta persaingan dengan simulator bus lain yang menawarkan teknologi dan visual lebih modern. Namun, kekurangan tersebut tidak menghapus satu hal penting: BUSSID berhasil membuat aktivitas yang biasa menjadi pengalaman bermain yang menarik. Pada akhirnya, BUSSID menunjukkan bahwa game tidak selalu harus membuat kita berlari, bertarung, atau menjadi yang tercepat. Kadang, cukup duduk di balik kemudi, mengikuti jalan, mendengarkan suara mesin, dan menikmati perjalanan. Mungkin itulah alasan mengapa aspal virtual Indonesia tidak pernah benar-benar sepi. #games

MMentari Senja5 hari yang lalu0
2
Games

Crimson Desert: Game Open-World yang Terlalu Bebas untuk Disebut RPG Biasa?

Crimson Desert adalah game yang cukup sulit untuk ditempatkan dalam satu kategori. Sekilas, game ini terlihat seperti RPG open-world dengan cerita besar dan dunia luas. Namun setelah dimainkan lebih dalam, ternyata pengalaman yang ditawarkan jauh lebih dekat dengan sandbox open-world RPG yang memiliki banyak pengaruh dari sistem game MMO. Karena itu, membandingkannya secara langsung dengan The Witcher 3, Red Dead Redemption 2, atau Kingdom Come: Deliverance 2 mungkin kurang tepat. Kekuatan utama Crimson Desert justru terletak pada kebebasan yang diberikan kepada pemain. 1. Bukan Sekadar Open-World, Tapi Sandbox yang Sangat Bebas Salah satu hal paling menarik dari Crimson Desert adalah bagaimana game ini tidak terlalu memaksa pemain untuk mengikuti jalur tertentu. Peta dunianya memang sangat luas, tetapi tidak terasa seperti sekadar kumpulan ikon dan checklist yang harus diselesaikan satu per satu. Bahkan, pemain bisa menghabiskan 40 jam pertama hanya dengan menjelajahi sekitar 10–15% area peta. Dan itu bukan berarti pemain tidak melakukan apa-apa. Ada begitu banyak aktivitas yang bisa dilakukan: berdagang, bertani, beternak, mengoleksi anjing, mengumpulkan sumber daya, bahkan menjadi pencuri. Inilah yang membuat Crimson Desert terasa seperti sandbox. Pemain tidak selalu ditanya, "Misi berikutnya apa?", tetapi lebih sering diberikan kesempatan untuk menentukan sendiri, "Saya mau melakukan apa sekarang?" Sistem progresinya pun memiliki rasa MMO yang cukup kuat. Pengembangan karakter tidak sepenuhnya bergantung pada level-up tradisional. Salah satu sistem pentingnya adalah Abyss Artifact, yang digunakan untuk membuka dan meningkatkan kemampuan. Hasilnya adalah sebuah game yang memberikan ruang cukup besar bagi pemain untuk menentukan gaya bermainnya sendiri. 2. Eksplorasi adalah Bintang Utamanya, Cerita Justru Titik LemahnyaKalau ada satu alasan utama untuk menjelajahi dunia Crimson Desert, jawabannya adalah: dunianya memang menarik untuk dijelajahi. Visualnya sangat indah, lingkungan memiliki variasi biome yang terasa berbeda, dan desain dunianya memiliki tingkat vertikalitas yang tinggi. Pergerakan menggunakan sistem gliding juga menjadi salah satu pengalaman terbaik. Setelah stamina ditingkatkan dan dioptimalkan, menjelajahi dunia dari udara terasa sangat memuaskan. Namun di sisi lain, kualitas eksplorasi tersebut tidak sepenuhnya diikuti oleh kualitas cerita. Cerita justru menjadi salah satu bagian terlemah dari game ini. Banyak karakter terasa datar dan kurang memiliki perkembangan yang kuat. Voice acting juga terkadang terasa seperti setiap dialog direkam secara terpisah, sehingga percakapan antarkarakter kurang terasa natural. Beberapa bagian cerita bahkan terasa seperti filler. Masalah lainnya adalah cara game menyampaikan informasi. Banyak detail dunia dan lore justru disimpan dalam bentuk teks di Codex, sementara desain misinya terkadang terasa terlalu berantakan dan repetitif. Ada cukup banyak aktivitas yang akhirnya terasa seperti fetch quest: pergi ke suatu tempat, mengambil sesuatu, lalu kembali lagi. Padahal, dengan dunia sebesar dan sebagus ini, sebenarnya Crimson Desert memiliki potensi untuk menghadirkan cerita yang jauh lebih kuat. 3. Combat: Sangat Memuaskan, tetapi Bisa Menjadi RepetitifKalau cerita merupakan titik lemahnya, maka combat adalah salah satu daya tarik terbesar Crimson Desert. Pertarungannya terasa spektakuler, cepat, dan memberikan banyak pilihan kepada pemain. Ada berbagai senjata, kombinasi serangan, finishing move, hingga sistem kustomisasi gear yang memungkinkan pemain bereksperimen dengan gaya bermainnya sendiri. Bahkan penggantian permata pada soket senjata dapat dilakukan tanpa biaya, sehingga pemain tidak terlalu takut untuk mencoba berbagai kombinasi build. Masalahnya muncul setelah beberapa jam bermain. Walaupun sistem combat terlihat kompleks, pada praktiknya pertarungan terkadang dapat diselesaikan dengan cara yang cukup sederhana: brute force. Minimnya mekanisme direct counter membuat beberapa pertarungan terasa kurang membutuhkan strategi spesifik. Ditambah lagi, sejumlah musuh dan boss memiliki health yang sangat tebal. Dengan menimbun makanan untuk mendapatkan pemulihan instan, pemain bahkan bisa mengandalkan DPS dan AOE untuk melewati beberapa pertarungan tanpa harus benar-benar memahami pola musuh. Jadi, combat-nya memang menyenangkan. Tetapi semakin lama dimainkan, kompleksitasnya tidak selalu menghasilkan kedalaman yang sama. 4. Greymains: Bukan Sekadar MarkasSalah satu fitur menarik lainnya adalah Base Greymains. Markas ini bukan hanya tempat untuk kembali setelah berpetualang. Pemain dapat membangun, memperluas, dan mendekorasi interiornya sendiri. Di sini pemain juga bisa melakukan berbagai aktivitas seperti bertani, memasak, dan beternak. Bahkan hal-hal kecil seperti memilih kambing berdasarkan jenis kelaminnya bisa memiliki konsekuensi dalam sistem peternakan. Kambing jantan bertanduk, misalnya, dibutuhkan agar hewan dapat berkembang biak. Yang menarik, pembangunan markas tidak sepenuhnya bergantung pada pemain. Sumber daya seperti kayu dan batu dapat dikumpulkan oleh anggota Greymains sehingga pekerjaan tersebut bisa didelegasikan. Sistem seperti ini membuat markas terasa lebih seperti hub yang hidup, bukan sekadar tempat penyimpanan barang. 5. Ingin Cepat Kaya? Jadilah PencuriSalah satu sistem paling menarik dan mungkin juga paling absurd adalah ekonominya. Pada awal permainan, mendapatkan uang dalam jumlah besar bisa terasa cukup sulit. Tetapi ada satu cara yang sangat efektif: Mencuri emas dari kaum bangsawan. Dengan menggunakan lentera untuk melihat posisi emas yang disimpan para bangsawan, pemain dapat mengambilnya dan menjadikannya sumber pemasukan. Yang membuat sistem ini semakin menarik adalah konsekuensi kriminalitasnya yang relatif ringan. Jika tertangkap, pemain tidak harus kehilangan progres besar atau masuk penjara dalam waktu lama. Denda dapat dibayar, bahkan proses "penebusan dosa" di gereja relatif murah. Lebih menarik lagi, emas yang berhasil dikumpulkan dapat disimpan di bank dan kemudian diinvestasikan. Ada pilihan investasi dengan risiko rendah, sedang, hingga tinggi. Artinya, uang hasil mencuri di awal permainan bisa berkembang menjadi sumber pendapatan yang jauh lebih besar ketika memasuki mid-game. Sebuah sistem ekonomi yang terdengar seperti lelucon, tetapi justru menjadi salah satu aktivitas sandbox yang menarik. 6. Performa Teknis dan Developer yang ResponsifSecara teknis, Crimson Desert juga memberikan kesan yang cukup positif. Visualnya sangat bagus dengan view distance yang jauh, sementara performanya tergolong baik dan cukup teroptimasi. Penggunaan ray reconstruction juga tidak selalu memberikan perbedaan besar. Dampaknya lebih terasa ketika pemain berada di area indoor dibandingkan ketika menjelajahi dunia terbuka. Namun hal yang cukup menarik bukan hanya performa gamenya. Pearl Abyss terlihat sangat responsif terhadap feedback pemain. Beberapa perubahan bahkan diberikan hanya beberapa hari setelah game dirilis. Contohnya, konsumsi stamina saat melakukan gliding diturunkan hanya sekitar dua hari setelah rilis. Fitur seperti private storage di markas juga ditambahkan berdasarkan masukan pemain. Ini menunjukkan bahwa pengalaman Crimson Desert tidak bisa sepenuhnya dinilai hanya berdasarkan kondisi ketika pertama kali dimainkan. Kesimpulan: Jangan Menilai Crimson Desert Terlalu CepatPada akhirnya, Crimson Desert adalah game yang cukup unik. Ia bukan The Witcher 3. Bukan Red Dead Redemption 2. Dan juga bukan RPG tradisional yang sepenuhnya berpusat pada cerita. Kekuatan utamanya justru ada pada kebebasan, eksplorasi, sandbox, combat, dan berbagai sistem kecil yang membuat dunia terasa bisa dimainkan dengan cara yang berbeda-beda. Sebaliknya, cerita, karakter, voice acting, dan desain beberapa misi menjadi bagian yang masih terasa kurang matang. Karena itu, Crimson Desert mungkin bukan game yang bisa dinilai secara adil hanya dari 10–12 jam pertama. Bahkan versi hari pertama belum tentu merepresentasikan pengalaman bermain setelah berbagai patch dan perubahan diterapkan. Kalau Anda mencari RPG yang memberikan cerita luar biasa kuat, Crimson Desert mungkin bukan pilihan terbaik. Tetapi jika yang dicari adalah dunia open-world yang luas, eksplorasi bebas, banyak aktivitas sampingan, combat spektakuler, dan kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan, maka Crimson Desert justru menjadi game yang sangat menarik untuk diperhatikan. Dan mungkin, inilah eksperimen terbesar Pearl Abyss: bukan membuat RPG open-world yang mengikuti formula lama, tetapi membuat sebuah dunia yang membiarkan pemain menentukan sendiri bagaimana mereka ingin bermain. #games

CamaroCamaro5 hari yang lalu0
2
Halaman 2 dari 2