Nusantara Mahayatra
Sains & Tech

AI AKAN MEMBUAT MANUSIA JADI MAKHLUK NGGAK BERGUNA?

WiyanWiyanAdmin - 38 postingan5 hari yang laluDiperbarui 5 hari yang lalu

Selama ini manusia selalu merasa dirinya paling spesial. Kita merasa punya akal, kesadaran, perasaan, dan free will, seolah semua keputusan benar-benar lahir dari kehendak kita sendiri. Tapi sains mulai mengacak-acak keyakinan itu. Otak kita ternyata bekerja dari neuron, hormon, sinyal listrik dan reaksi kimia. Bahkan banyak keputusan sudah diproses otak sebelum kita sadar sedang mengambil keputusan. Jadi pertanyaannya sederhana, kalau pilihan kita sebenarnya hasil proses biologis di dalam otak, free will itu benar-benar ada atau cuma perasaan bahwa kita sedang bebas memilih? Masalahnya sekarang muncul AI dan Big Data. AI membuktikan bahwa kecerdasan ternyata nggak harus punya perasaan dan kesadaran. Mesin nggak perlu jatuh cinta, sakit hati, lapar, capek atau galau untuk bisa berpikir dan bekerja. Dalam dunia industri ini jelas ancaman, karena perusahaan pada akhirnya mencari efisiensi. Kalau AI bisa mengerjakan pekerjaan manusia lebih cepat, murah dan akurat, sebagian manusia bisa kehilangan nilai ekonominya. Bukan berarti manusia nggak berguna sebagai manusia, tapi sistem ekonomi mungkin sudah nggak terlalu membutuhkan kemampuan mereka. Inilah yang kemudian disebut sebagai ancaman munculnya useless class.

Yang lebih menarik sekaligus agak mengerikan, algoritma sekarang semakin mengenal kita. Semua yang kita klik, tonton, beli, like, cari dan komentari menjadi data. Dari situ algoritma belajar tentang perilaku kita. Bahkan kadang FYP lebih tahu apa yang kita suka dibanding orang terdekat kita. Dan manusia justru dengan sukarela menyerahkan semakin banyak keputusan kepada algoritma: mau nonton apa, beli apa, dengar musik apa, cari pasangan siapa, sampai berita dan pandangan politik apa yang muncul di depan mata kita. Jadi mungkin AI nggak perlu mengambil alih manusia seperti cerita film. Manusia sendiri yang perlahan menyerahkan kendali karena merasa algoritma lebih praktis dan lebih pintar. Di sinilah muncul gagasan Dataisme, ketika dunia tidak lagi berpusat pada manusia tetapi pada data. Hidup kita sekarang hampir semuanya diubah menjadi data: foto, lokasi, transaksi, tontonan, percakapan sampai preferensi pribadi. Bahkan pengalaman terasa belum lengkap kalau belum difoto dan di-upload. No pict = hoax yang awalnya cuma becandaan sebenarnya menggambarkan zaman kita dengan cukup tepat. Dulu manusia merasa dirinya pusat alam semesta, kemudian sains menghancurkan keyakinan itu satu per satu. Sekarang AI memberikan pukulan berikutnya: ternyata kecerdasan juga mungkin bukan milik eksklusif manusia. Kalau suatu saat algoritma benar-benar lebih mengenal diri kita dibanding kita mengenal diri sendiri, pertanyaannya bukan lagi seberapa pintar AI nanti, tapi apakah manusia masih menjadi pengendali, atau justru sudah menjadi bagian dari algoritma itu sendiri?

Balasan (0)