numa
Myflipbookpro
Sains & Tech

China Bangun “Matahari Buatan”, Seberapa Dekat Kita dengan Energi Masa Depan?

PPeter ParkerSider - 40 postingansekitar 3 jam yang laluDiperbarui sekitar 3 jam yang lalu

Bayangkan sebuah sumber energi yang meniru cara Matahari menghasilkan cahaya dan panas, tetapi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Bumi. Gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah ini sedang dikejar melalui teknologi fusi nuklir. China menjadi salah satu negara yang serius mendorongnya melalui proyek Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak (BEST) di Hefei, Provinsi Anhui.

BEST ditargetkan rampung dirakit pada akhir 2027 dan diharapkan dapat mendemonstrasikan pembangkitan listrik dari fusi sekitar 2030. Proyek ini dirancang untuk melangkah lebih jauh dari eksperimen plasma, menuju pembuktian bahwa reaksi fusi dapat menghasilkan energi yang bisa dimanfaatkan.Berbeda dari pembangkit nuklir konvensional yang memanfaatkan reaksi fisi untuk membelah inti atom, fusi menggabungkan inti atom ringan hingga melepaskan energi. Salah satu pendekatan yang dikembangkan BEST menggunakan bahan bakar deuterium dan tritium. Tantangannya, proses ini membutuhkan plasma bersuhu ekstrem yang harus dikendalikan menggunakan medan magnet kuat.

Putar video YouTube




China tidak memulai semuanya dari nol. Reaktor eksperimental EAST sebelumnya berhasil mempertahankan plasma bersuhu sekitar 100 juta derajat Celsius selama 1.066 detik pada Januari 2025. Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam penelitian pengoperasian plasma secara stabil, meskipun belum berarti listrik yang dihasilkan sudah bisa dipasok ke jaringan secara komersial. Di sinilah perbedaan antara terobosan ilmiah dan revolusi energi perlu dipahami. Mempertahankan plasma selama belasan menit merupakan pencapaian besar, tetapi pembangkit fusi harus menghadapi persoalan lain: menghasilkan energi bersih yang melebihi kebutuhan keseluruhan sistem, menjaga komponen dari panas dan radiasi ekstrem, mengelola bahan bakar, serta menghasilkan listrik dengan biaya yang kompetitif.

Jika berhasil, teknologi ini berpotensi mengubah cara manusia memproduksi energi. Fusi tidak menghasilkan emisi karbon dari proses reaksinya seperti pembakaran bahan bakar fosil, meskipun pembangunan dan pengoperasian fasilitasnya tetap memiliki dampak lingkungan. Teknologi ini juga tidak menghadapi risiko kecelakaan berantai seperti pada reaktor fisi konvensional, tetapi tetap memiliki tantangan keselamatan dan limbah material yang perlu ditangani.

Ambisi China melalui BEST pun menjadi bagian dari persaingan global untuk mengembangkan energi fusi. Namun, target 2030 masih merupakan sasaran pengembangan, bukan kepastian bahwa pembangkit fusi komersial akan tersedia pada tahun tersebut. Keberhasilan demonstrasi awal belum otomatis membuat teknologi ini siap digunakan secara luas.

Pada akhirnya, “Matahari Buatan” bukan sekadar perlombaan menciptakan suhu paling tinggi atau mempertahankan plasma paling lama. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah pencapaian laboratorium menjadi listrik yang stabil, terjangkau, dan dapat diandalkan.

Sebab, menciptakan reaksi seperti Matahari adalah satu hal. Membuktikan bahwa energi tersebut benar-benar bisa menerangi kehidupan manusia adalah tantangan yang jauh lebih besar.


#sainstech #sains-tech

#sainstech#sains-tech
00
P

Balasan (0)

Topik Terkait