Nusantara Mahayatra
Sains & Tech

“Kerokan: Kenapa Terasa Sembuh?”

PPeter ParkerSider - 9 postingan4 hari yang laluDiperbarui 4 hari yang lalu

Hampir semua orang Indonesia mungkin pernah mengalaminya. Badan terasa tidak enak, pegal, menggigil, atau kepala terasa berat. Lalu seseorang mengambil koin, mengoleskan minyak, dan mulai mengerok punggung hingga muncul garis-garis merah.

Setelahnya?

“Nah, sudah enakan.”

Kerokan begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari sampai jarang kita mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh. Mengapa kulit menjadi merah? Mengapa setelah dikerok badan terasa lebih ringan? Dan yang paling penting “apakah kita benar-benar sembuh?”

Merah Bukan Berarti Angin Keluar

Salah satu anggapan yang paling melekat pada kerokan adalah bahwa warna merah menandakan “angin” telah keluar dari tubuh.

Secara fisiologis, tentu bukan itu yang terjadi. Warna merah muncul karena gesekan dan tekanan pada kulit memicu respons pada pembuluh darah kecil di area tersebut. Dengan kata lain, kulit sedang menunjukkan respons terhadap perlakuan fisik yang cukup kuat. Jadi, semakin merah bukan berarti semakin banyak angin yang keluar. Tapi tubuh kita bukan sedang mengeluarkan angin. Tubuh sedang bereaksi.

Lalu Kenapa Badan Terasa Lebih Enak?

Di sinilah kerokan menjadi menarik.

Gesekan pada kulit memberikan rangsangan kuat pada sistem saraf. Sensasi tersebut dapat memengaruhi bagaimana tubuh memproses rasa tidak nyaman atau nyeri. Ditambah rasa hangat, perhatian dari orang lain, aroma minyak, serta sensasi setelah tubuh selesai dikerok, semuanya dapat berkontribusi pada perasaan lega.

Itulah sebabnya pengalaman “habis kerokan langsung enakan” tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang dibuat-buat.

Rasa nyaman itu nyata.

Tetapi rasa nyaman tidak otomatis berarti penyakitnya telah sembuh. Jika seseorang sedang mengalami infeksi virus, misalnya, kerokan tidak serta-merta membunuh virus tersebut. Kerokan lebih tepat dipandang sebagai praktik yang mungkin membantu meredakan sensasi tidak nyaman, bukan sebagai bukti bahwa penyebab penyakit telah hilang.

Meredakan Gejala Bukan Berarti Menyembuhkan

Di sinilah kita sering keliru. Ketika rasa pegal berkurang, kita mengatakan sudah sembuh. Ketika tubuh terasa hangat, kita merasa “masuk anginnya sudah keluar”. Padahal tubuh manusia jauh lebih kompleks.

Gejala yang berkurang tidak selalu berarti penyebab penyakitnya menghilang.

Kerokan mungkin membuat seseorang merasa lebih nyaman, tetapi tidak bisa dijadikan pengganti diagnosis atau pengobatan ketika seseorang mengalami penyakit yang membutuhkan penanganan medis. Bahkan, semakin keras bukan berarti semakin berkhasiat.

Kerokan yang dilakukan secara berlebihan dapat menyebabkan iritasi, luka pada kulit, memar, bahkan perdarahan kecil. Karena itu, jika seseorang memilih melakukan kerokan, tekanan tetap perlu disesuaikan dengan kenyamanan dan kondisi kulit.

Jadi, Kerokan Itu Mitos?

Mungkin pertanyaan ini justru salah. Kerokan tidak harus ditempatkan sebagai pilihan antara “sains” atau “mitos”. Ia adalah tradisi yang lahir dari pengalaman manusia terhadap tubuhnya sendiri. Selama bertahun-tahun, masyarakat mengamati bahwa setelah tubuh digosok dan diberi rangsangan tertentu, mereka merasa lebih nyaman.

Sains kemudian membantu kita memahami bahwa warna merah pada kulit bukanlah angin yang keluar. Namun sains juga mengingatkan kita untuk tidak melompat terlalu jauh,merasa lebih baik bukan bukti bahwa penyakit telah disembuhkan.

Pada akhirnya, kerokan mungkin memang tidak mengeluarkan angin, tetapi bukan berarti seluruh pengalaman di baliknya tidak memiliki penjelasan.

Tubuh kita bereaksi terhadap sentuhan, tekanan, suhu, saraf, dan bahkan persepsi kita sendiri.

Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi:

“Apakah kerokan benar-benar mengeluarkan angin?”

Melainkan:

“Mengapa tubuh kita bisa merasa lebih baik setelah dikerok?”

Di situlah tradisi sehari-hari bertemu dengan sains.

KV NTT Global Data Center 2.webp

credit sarvamya



#sainstech #sains-tech

#sainstech#sains-tech

Balasan (0)