KETIKA MANUSIA MULAI INGIN JADI “TUHAN” ------PART 2
DARI HUMANISME KE DATAISME
Selama beberapa abad terakhir, humanisme menempatkan manusia sebagai pusat. Kita percaya pada gagasan Perasaan, pengalaman, dan pilihan manusia dianggap sebagai sumber utama makna. Tapi Harari melihat kemungkinan munculnya paradigma baru yang ia sebut Dataisme. Dalam Dataisme, yang paling penting bukan lagi manusia. Yang paling penting adalah data dan arus informasi. Manusia akhirnya hanya menjadi salah satu bagian dari jaringan pemrosesan informasi yang jauh lebih besar. Kalau ini terjadi, posisi Homo sapiens sebagai makhluk paling penting bisa mulai goyah.
Dan di bagian ini paling ngeri!!!!
Teknologi peningkatan manusia kemungkinan tidak murah. Artinya, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Bayangkan ketika orang kaya bukan cuma punya rumah lebih besar atau mobil lebih mahal. Tapi mereka bisa membeli umur lebih panjang, tubuh lebih sehat, kecerdasan lebih tinggi, bahkan kemampuan biologis yang lebih unggul. Ketimpangan ekonomi akhirnya bisa berubah menjadi ketimpangan biologis. Muncul kelompok kecil manusia yang sudah diupgrade, sementara sebagian besar manusia biasa justru kehilangan nilai ekonominya karena banyak pekerjaan sudah dilakukan AI dan mesin. Harari menyebut kemungkinan munculnya kelompok ini sebagai “useless class”, yaitu kelompok manusia yang semakin kehilangan peran ekonomi dan militernya. Jadi persoalan masa depan mungkin bukan lagi sekadar siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Tapi jauh lebih ekstrem, siapa yang masih Homo sapiens biasa, dan siapa yang sudah menjadi Homo deus. Dan mungkin pertanyaan terbesar abad ke-21 bukan “Seberapa canggih teknologi yang bisa kita buat?” Melainkan “Kalau manusia punya teknologi untuk mengubah dirinya sendiri, kita sebenarnya ingin berubah menjadi apa?”
#sains-tech
