Nusantara Mahayatra
Sains & Tech

“Kita Tidak Bisa Menghindari Bencana, Tapi Bisa Bersiap”

Rio ChanRio ChanSider - 10 postingansekitar 20 jam yang laluDiperbarui sekitar 20 jam yang lalu

Tinggal di negara yang rawan bencana berarti hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Gempa bisa datang tanpa aba-aba, gunung dapat erupsi, banjir bisa merendam permukiman, dan tsunami dapat mengubah kehidupan dalam hitungan menit.

Kita mungkin tidak pernah tahu kapan bencana akan datang. Namun, kita selalu punya pilihan tentang seberapa siap kita menghadapinya.

Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko bencana yang tinggi. Letaknya di pertemuan lempeng-lempeng tektonik aktif dan berada di kawasan Ring of Fire membuat Indonesia memiliki potensi gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api yang besar.

Berdasarkan WorldRiskIndex 2025, Indonesia berada di peringkat ketiga negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia, dengan skor 39,80. Indonesia berada di bawah Filipina dengan skor 46,56 dan India dengan 40,73.

Lima negara dengan skor risiko bencana tertinggi pada 2025 adalah:

  1. Filipina - 46,56

  2. India - 40,73

  3. Indonesia - 39,80

  4. Kolombia - 39,26

  5. Meksiko - 38,96

Angka tersebut tentu terdengar mengkhawatirkan. Tetapi peringkat itu seharusnya tidak membuat kita sekadar merasa takut.

Justru, pertanyaannya adalah “kalau kita tahu bahwa risiko itu nyata, sudahkah kita benar-benar siap?”

Bencana Tidak Bisa Kita Kendalikan, Dampaknya Bisa

Kita sering menganggap bencana sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendali manusia. Gempa tidak bisa dihentikan. Gunung tidak bisa diperintah untuk tidak meletus. Hujan ekstrem tidak bisa begitu saja kita hentikan.

Tetapi bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan, yang dapat kita kendalikan adalah kesiapsiagaan.

Mengetahui jalur evakuasi, memahami peringatan dini, memiliki rencana ketika terjadi keadaan darurat, membangun rumah dengan standar yang lebih aman, hingga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa atau tsunami terjadi adalah bentuk sederhana dari mitigasi.

Masalahnya, kesiapsiagaan sering baru dianggap penting setelah bencana terjadi. Kita baru sibuk mencari jalur evakuasi ketika air sudah naik. Baru bertanya tentang titik kumpul ketika gempa sudah terjadi. Baru memikirkan kekuatan bangunan setelah melihat rumah-rumah runtuh. Padahal, kesiapan seharusnya dibangun ketika keadaan masih tenang.

Ketangguhan Bukan Berarti Kebal

Hidup di negara rawan bencana tidak berarti masyarakat Indonesia harus menjadi kebal terhadap bencana. Ketangguhan bukan berarti tidak takut, bukan berarti tetap mampu mengambil keputusan ketika rasa takut muncul.

Di sinilah Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat besar gotong royong. Ketika bencana terjadi, masyarakat sering menjadi pihak pertama yang saling membantu. Warga mencari korban, menyediakan makanan, membuka tempat tinggal, hingga membantu membersihkan lingkungan.

Namun, gotong royong saja tidak cukup. Kita membutuhkan sistem yang membuat solidaritas masyarakat dapat bekerja lebih cepat dan efektif.

Sekolah perlu mengajarkan kesiapsiagaan bencana bukan hanya sebagai teori, tetapi melalui simulasi yang rutin. Masyarakat perlu memahami peringatan dini dan jalur evakuasi di wilayahnya. Pemerintah perlu memastikan pembangunan mengikuti standar keamanan, terutama di kawasan dengan risiko tinggi.

Teknologi juga harus menjadi bagian dari pertahanan kita, sensor, sistem peringatan dini, jaringan komunikasi, pemetaan risiko, hingga pengolahan data harus terus diperkuat. Karena dalam situasi bencana, beberapa menit bahkan beberapa detik bisa menentukan keselamatan seseorang.

Belajar dari Jepang, Bukan Menirunya

Jepang sering menjadi contoh ketika kita berbicara tentang masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. Negara tersebut juga tidak bebas dari gempa, tsunami, dan berbagai risiko alam lainnya. Yang membedakan bukan karena Jepang tidak mengalami bencana. Mereka justru hidup dengan kesadaran bahwa bencana merupakan bagian dari realitas negaranya. Kesiapsiagaan dibangun menjadi kebiasaan, siimulasi dilakukan infrastruktur diperkuat. Regulasi konstruksi diperketat, masyarakat dibiasakan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.

Indonesia tentu tidak harus menjadi Jepang. Kita memiliki kondisi geografis, persoalan, dan karakter masyarakat yang berbeda. Tetapi ada satu hal yang bisa kita pelajari “ketangguhan tidak lahir secara tiba-tiba ketika bencana datang. Ia dibentuk jauh sebelum bencana terjadi.”

Indonesia Harus Belajar Hidup Bersama Risiko

Menjadi negara yang rawan bencana bukanlah aib. Kita tidak bisa memilih letak geografis Indonesia, yang bisa kita pilih adalah bagaimana kita hidup di dalamnya. Kita tidak perlu terus-menerus hidup dalam ketakutan karena bencana tetapi kita juga tidak boleh hidup seolah-olah bencana tidak akan pernah terjadi,  Karena pada akhirnya, yang diuji oleh bencana bukan hanya kekuatan bangunan, kecanggihan teknologi, atau kecepatan pemerintah merespons.

Yang diuji adalah seberapa siap manusia di dalamnya, mungkin kita memang tidak bisa mencegah semua bencana. Tetapi kita bisa mencegah ketidaksiapan menjadi bencana berikutnya. Dan jika Indonesia memang harus hidup berdampingan dengan risiko, maka tangguh bukan lagi pilihan. Tangguh adalah keharusan.

#sainstech #sains-tech

#sainstech#sains-tech

Balasan (0)