Nusantara Mahayatra
Sains & Tech

Kontroversi terbesar: AI ternyata membutuhkan listrik dalam jumlah luar biasa

Fania MeyandraFania MeyandraSider - 18 postingansekitar 3 jam yang laluDiperbarui sekitar 3 jam yang lalu

Ada paradoks besar di sini. AI dijanjikan membuat pekerjaan lebih efisien. Tetapi untuk menjalankan AI dalam skala global, perusahaan harus membangun pusat data raksasa yang membutuhkan chip, sistem pendingin dan listrik dalam jumlah besar. Deloitte memperkirakan sebagian besar inference pada 2026 masih akan berjalan di data center menggunakan chip AI mahal dan boros energi, bukan seluruhnya berpindah ke perangkat lokal.

Artinya, setiap kali kita meminta AI bekerja, di belakang layar ada mesin yang mengonsumsi energi. Maka perang AI akhirnya berubah menjadi perang chip - memori - data center - listrik.

China juga ingin mematahkan dominasi NVIDIA. Persaingan semakin panas karena faktor geopolitik. Pembatasan ekspor teknologi AS membuat China terdorong mengembangkan chip AI sendiri. Huawei dan sejumlah perusahaan seperti Enflame, Moore Threads, MetaX dan Biren berusaha membangun alternatif domestik.

Reuters melaporkan NVIDIA masih memiliki sekitar 55% pangsa pasar chip AI China, tetapi perusahaan-perusahaan domestik mulai berkembang cepat. Enflame bahkan melaporkan pertumbuhan penjualan tahunan yang sangat besar dan mengembangkan ekosistem software sendiri. Jadi perang AI chip bukan lagi sekadar kompetisi bisnis. Ia sudah menjadi bagian dari perang teknologi Amerika Serikat dan China.

Balasan (0)