PART 1 : Perang yang Sebenarnya Terjadi di Balik Ledakan AI
Ketika orang membicarakan perang kecerdasan buatan, nama yang muncul biasanya adalah ChatGPT, Gemini, Claude atau perusahaan seperti OpenAI, Google, Microsoft dan Meta. Namun ada perang yang jauh lebih menentukan dan jarang terlihat oleh pengguna: perang chip AI. AI secanggih apa pun tetap membutuhkan satu hal yaitu komputasi. Dan semakin pintar model AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap chip, memori, jaringan dan listrik.
Deloitte memperkirakan inference, yaitu proses menjalankan AI untuk menjawab permintaan pengguna, akan mencapai sekitar dua pertiga seluruh komputasi AI pada 2026. Pasar chip yang dioptimalkan khusus untuk inference diperkirakan menembus lebih dari US$50 miliar tahun ini. Bahkan total chip AI untuk data center diproyeksikan bernilai lebih dari US$200 miliar. Artinya, perang AI sebenarnya baru memasuki babak berikutnya.
NVIDIA dan kekuatan yang sulit ditandingi
Selama ledakan generative AI, NVIDIA menjadi pemain paling dominan. Keunggulannya bukan hanya GPU, tetapi ekosistem software CUDA yang membuat pengembang dapat membangun dan menjalankan aplikasi AI di atas infrastrukturnya. Inilah bagian yang membuat persaingan menjadi kontroversial. Perusahaan tidak cukup hanya membuat chip yang cepat. Mereka harus membuat ekosistem yang membuat pelanggan sulit berpindah.
NVIDIA bahkan kini berusaha memperluas pengaruhnya melalui NVLink Fusion, yang memungkinkan perusahaan seperti MediaTek mengembangkan accelerator khusus yang tetap terhubung dengan infrastruktur NVIDIA. Pada Agustus 2026, NVIDIA juga menginvestasikan US$3,5 miliar pada MediaTek. Jadi NVIDIA tidak hanya menjual chip. Ia semakin berusaha menjadi infrastruktur tempat chip-chip AI lain ikut hidup.
Tetapi Google, Amazon dan Meta tidak mau bergantung selamanya
Big Tech mulai membuat chip sendiri. Google memiliki TPU. Amazon mengembangkan Trainium. Meta mengembangkan accelerator sendiri. OpenAI juga bergerak menuju chip inference khusus. Alasannya sederhana, jika AI menjadi mesin utama bisnis digital, membeli seluruh komputasi dari pihak lain bisa menjadi terlalu mahal dan terlalu berisiko.
Broadcom menjadi salah satu pemain penting di balik tren ini. Perusahaan memperkirakan pendapatan chip AI-nya mencapai sekitar US$115 miliar pada 2027, kemudian berpotensi mencapai US$230 miliar pada 2028. Permintaan tersebut datang dari perusahaan teknologi besar yang menginginkan chip khusus untuk kebutuhan AI mereka sendiri. Ini menandakan perubahan besar: masa depan AI mungkin tidak dimonopoli satu jenis GPU.
