BARAT BEBAS, TIMUR KONSERVATIF
Membandingkan seni Barat dan Timur Tengah sering berakhir pada dua label sederhana, Barat dianggap bebas dan individual, sementara Timur Tengah dianggap konservatif dan terikat tradisi. Padahal, sejarah seni jauh lebih rumit dari itu.
Bahasa visual sebuah masyarakat tidak lahir di ruang kosong. Ia dibentuk oleh agama, sejarah, politik, teknologi, perdagangan, kolonialisme, hingga cara masyarakat memahami manusia dan lingkungan di sekitarnya.
Dalam tradisi seni Eropa, terutama sejak Renaissance, manusia semakin ditempatkan sebagai pusat perhatian. Anatomi tubuh dipelajari, perspektif dikembangkan, cahaya digunakan untuk menciptakan ruang, dan pengalaman individual menjadi bagian penting dalam karya. Perkembangan berikutnya melahirkan Modernisme yang justru mulai membongkar aturan lama. Bentuk dapat dipecah, warna dapat dilepaskan dari kenyataan, dan karya tidak lagi harus menyerupai dunia nyata.

Tetapi bukan berarti seni Barat selalu individual dan bebas. Seni Eropa juga memiliki sejarah panjang yang sangat religius, simbolis dan terikat patronase kerajaan maupun gereja. Di banyak tradisi seni Islam yang berkembang di Timur Tengah, bahasa visual berkembang melalui jalur yang berbeda. Kaligrafi, geometri, arabesque, iluminasi dan pola berulang menjadi sangat penting. Keindahan dapat ditemukan dalam keteraturan, proporsi, repetisi dan hubungan antara bentuk.
Namun, Timur Tengah juga bukan satu budaya visual. Seni Persia memiliki tradisi miniatur figuratif yang kuat. Seni Ottoman, Arab, Iran, Turki, Levant, hingga Afrika Utara memiliki sejarah dan karakter masing-masing. Memasuki abad ke-20 dan ke-21, batas itu semakin cair. Seniman Timur Tengah menggunakan fotografi, video, instalasi, performance, abstraksi hingga teknologi digital. Mereka tidak hanya membicarakan tradisi, tetapi juga perang, migrasi, gender, identitas, diaspora, kolonialisme dan kehidupan modern.

Di sisi lain, seniman Barat juga terus menggunakan simbol agama, tradisi, mitologi dan sejarah. Jadi perbedaannya bukan sekadar “Barat bebas, Timur konservatif.” Yang lebih menarik adalah melihat mengapa sebuah masyarakat memilih bahasa visual tertentu pada suatu periode sejarah. Satu bentuk geometris mungkin bagi seseorang hanya terlihat sebagai dekorasi. Dalam konteks lain, ia dapat membawa sejarah, spiritualitas dan identitas. Sebuah potret manusia juga bukan sekadar wajah. Ia bisa berbicara tentang kekuasaan, tubuh, kelas sosial atau identitas.
