numa
Myflipbookpro
Sejarah & Budaya

Bukan Sekadar Dodol, Garut Punya Tradisi Tukang Cukur

CamaroCamaroSider - 31 postingansekitar 3 jam yang laluDiperbarui sekitar 3 jam yang lalu

Jika menyebut Garut, dodol mungkin menjadi hal pertama yang terlintas di benak banyak orang. Namun, ada identitas lain yang tidak kalah melekat: tukang cukur rambut asal Garut, yang dikenal dengan sebutan Asgar atau Asli Garut.

Di berbagai kota, tulisan “Asgar” kerap ditemukan di tempat pangkas rambut. Di balik papan nama sederhana itu, tersimpan cerita tentang keterampilan, tradisi merantau, dan jaringan sosial yang berkembang lintas generasi.

Tradisi ini memiliki akar kuat di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian Hilyatun Nishlah dan Dhita Hapsarani dalam jurnal Paradigma: Jurnal Kajian Budaya (2021), berjudul Pengaruh Profesi Tukang Cukur dalam Transformasi Kampung Peundeuy, Banyuresmi, Garut, menjelaskan bagaimana profesi tukang cukur berkembang menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian warga. Keahlian tersebut kemudian diwariskan kepada keluarga dan generasi berikutnya, sekaligus membentuk identitas sosial masyarakat setempat.

Salah satu riwayat yang berkembang menyebut nama Idi, warga Garut yang mulai menjalankan profesi tukang cukur pada 1920-an. Menurut penuturan yang dihimpun dalam penelitian tersebut, keahliannya kemudian menyebar kepada kerabat dan warga sekitar. Namun, asal-usul tradisi ini memiliki beberapa versi sehingga kisah tersebut perlu dipahami sebagai salah satu riwayat, bukan satu-satunya versi sejarah.

Seiring waktu, keterampilan mencukur menjadi salah satu jalan bagi warga Garut untuk mencari penghidupan di luar kampung halaman. Penelitian Iim Imadudin, Perkembangan Etnopreneurship di Garut 1945–2010, yang diterbitkan dalam jurnal Patanjala pada 2011, membahas tradisi merantau masyarakat Garut dan perkembangan usaha tukang cukur di Banyuresmi. Jaringan perantau turut membuka peluang bagi warga lain untuk mengikuti jejak serupa di berbagai kota.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa profesi tukang cukur bukan sekadar pekerjaan individual. Ada proses belajar, pengalaman, hubungan antarkerabat, dan keberanian merantau yang menopang keberlangsungannya. Keberhasilan sebagian perantau juga mendorong profesi tersebut semakin diminati dan diwariskan.

Dampaknya terasa hingga kampung halaman. Dalam penelitian Nishlah dan Hapsarani, perubahan profesi warga turut berkaitan dengan perubahan kehidupan sosial, mata pencaharian, dan identitas kultural Kampung Peundeuy. Dengan kata lain, sebuah pekerjaan dapat berkembang menjadi tradisi yang ikut mengubah wajah masyarakatnya.

Kisah tukang cukur Garut menunjukkan bahwa identitas daerah tidak selalu terbentuk dari kuliner, kesenian, atau bangunan bersejarah. Identitas juga bisa tumbuh dari keterampilan yang ditekuni bersama, peluang ekonomi yang dibangun, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Pada akhirnya, label Asgar bukan sekadar penanda asal daerah di depan tempat pangkas rambut. Ia menyimpan cerita tentang bagaimana sebuah keterampilan dapat berkembang menjadi tradisi, membuka peluang ekonomi, dan membentuk identitas masyarakat.


#sejarahbudaya #sejarah-budaya

#sejarahbudaya#sejarah-budaya
01
Camaro

Balasan (0)

Topik Terkait