Nusantara Mahayatra
Sejarah & Budaya

Disebut Bir, Tapi Tak Pernah Memabukkan

Rio ChanRio ChanSider - 10 postingan4 hari yang laluDiperbarui 4 hari yang lalu

Bagaimana mungkin sebuah minuman disebut bir, tetapi tidak mengandung alkohol?

Jawabannya ada dalam Bir Pletok, minuman khas Betawi yang justru menunjukkan bagaimana sebuah budaya bisa mengambil pengaruh dari luar, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang benar-benar miliknya sendiri.

Pada masa kolonial, masyarakat Betawi hidup berdampingan dengan berbagai kebudayaan, termasuk kebiasaan masyarakat Eropa yang mengonsumsi bir. Namun, minuman itu tidak begitu saja menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal. Dari pertemuan budaya tersebut, lahirlah versi yang berbeda: minuman berbahan rempah seperti jahe, serai, kayu manis, cengkeh, secang, dan berbagai rempah lainnya.

Tidak ada alkohol. Tidak ada upaya untuk sekadar meniru rasa bir Eropa, yang muncul justru sebuah minuman dengan cita rasa rempah yang sangat dekat dengan lingkungan dan selera masyarakat Betawi.

Di situlah menariknya Bir Pletok.

Namanya mungkin mengingatkan kita pada budaya Eropa, tetapi isinya justru membawa kita kembali kepada Nusantara.

Ini bukan sekadar cerita tentang minuman. Bir Pletok memperlihatkan bahwa ketika budaya bertemu, hasilnya tidak selalu berupa budaya yang menggantikan budaya lain. Terkadang, masyarakat justru mengambil sesuatu dari luar, mengolahnya, dan memberinya identitas baru.

Karena itu, pertanyaan tentang Bir Pletok bukan hanya “Mengapa disebut bir?”

Tetapi juga:

“Bukankah begitulah budaya bekerja?”

Budaya tidak selalu lahir dari sesuatu yang benar-benar baru. Ia bisa tumbuh dari pertemuan, pengaruh, penyesuaian, bahkan dari sesuatu yang awalnya dianggap asing. Bir Pletok akhirnya bukan menjadi bir seperti yang diminum orang Eropa. Ia menjadi Bir Pletok—sebuah minuman yang kemudian melekat sebagai bagian dari identitas Betawi dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Mungkin justru di situlah ironi sekaligus kekuatannya. Bir yang tidak memabukkan, tetapi justru membuat kita semakin mengenal siapa diri kita.

#sejarahbudaya #sejarah-budaya

#sejarahbudaya#sejarah-budaya

Balasan (0)