Nusantara Mahayatra
Sejarah & Budaya

Hompimpa: Ketika Filosofi Kehidupan Menjadi Permainan Anak

CamaroCamaroSider - 12 postingan4 hari yang laluDiperbarui 4 hari yang lalu

“Hompimpa alaium gambreng.”

Bagi sebagian besar orang Indonesia, kalimat itu mungkin hanya terdengar seperti suara dari masa kecil. Diucapkan bersama-sama sebelum bermain, lalu semua anak membalik telapak tangan untuk menentukan siapa yang mendapat giliran atau siapa yang harus menjadi penjaga.

Sederhana. Bahkan mungkin terdengar tidak masuk akal.

Tetapi di balik ritual kecil itu, ada sebuah gagasan yang menarik: menerima hasil yang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.

Hompimpa sering dikaitkan dengan makna filosofis “dari Tuhan kembali kepada Tuhan”. Meski asal-usul dan makna linguistiknya tidak dapat dipastikan secara mutlak, tafsir tersebut memberi kita cara menarik untuk melihat tradisi ini.

Sebab anak-anak tidak pernah mempelajari filsafat itu melalui buku, mereka mempraktikkannya melalui permainan. Mereka mengulurkan tangan, semua memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada yang boleh menentukan sendiri siapa yang kalah. Setelah telapak tangan dibuka, hasilnya diterima.

Yang menang bermain. Yang kalah menunggu giliran.

Di situlah hompimpa menjadi lebih dari sekadar cara memilih pemain.

Ia menjadi sebuah bentuk kecil dari kehidupan sosial. Kita tidak selalu mendapatkan hasil yang kita inginkan. Kita tidak selalu menjadi yang pertama. Kadang kita harus mengalah, menunggu, atau menerima keputusan bersama. Menariknya, semua itu diajarkan tanpa ceramah.

Tidak ada guru yang berdiri di depan anak-anak dan berkata, “Hari ini kita akan belajar tentang menerima ketidakpastian.”

Anak-anak cukup bermain. Dari permainan tradisional seperti petak umpet, gobak sodor, hingga berbagai permainan kejar-kejaran, hompimpa menjadi semacam pintu masuk sebelum dunia permainan dimulai. Ia menyelesaikan persoalan sederhana yang sering menjadi sumber pertengkaran:

Siapa yang mulai? Siapa yang jaga?

Daripada berebut, anak-anak menyerahkan keputusan pada aturan yang mereka sepakati bersama. Ironisnya, ketika permainan modern semakin mudah menentukan giliran melalui sistem otomatis, kita justru semakin jarang melakukan ritual sederhana semacam ini.

Anak-anak hari ini bisa mendapatkan hasil secara instan. Sistem permainan digital akan menentukan pemain, giliran, lawan, bahkan kemenangan. Sementara hompimpa mengharuskan mereka bertemu, bersuara bersama, melakukan gerakan yang sama, dan menerima hasil bersama-sama.

Mungkin itulah alasan mengapa hompimpa layak dilihat bukan hanya sebagai bagian dari permainan anak-anak, tetapi sebagai bagian dari budaya yang pernah mengajarkan nilai melalui pengalaman.

Sebuah filosofi tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata rumit.

Kadang ia cukup diwujudkan melalui telapak tangan yang dibuka bersama. Dan ketika anak-anak berteriak, “Hompimpa alaium gambreng!”, mungkin mereka sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih tua daripada sekadar menentukan siapa yang harus jaga:

Belajar bahwa dalam hidup, tidak semua hal bisa kita tentukan sendiri. Setelah itu, permainan pun dimulai.

#sejarahbudaya #sejarah-budaya

#sejarahbudaya#sejarah-budaya

Balasan (0)