Nusantara Mahayatra
Sejarah & Budaya

“Ini Budi” Masih Ingat? Tapi, Tahukah Kamu Siapa Sosok di Baliknya?

Rio ChanRio ChanSider - 10 postingan8 hari yang laluDiperbarui 7 hari yang lalu
WvlG6xPt2rrYCMBmJX5Q4rtVBup9of7vOXEjsRNBI5HMxICOr8_OObaKXRDLfgQuUWLqAveO6ahm5RoqW_aN18NQ3UHJPUgZ9Phntl2YpOx9GQ_SumIocI26TRP80EraTxW-H7jUqkaMt1NWyUzC8KLpqshQy1MdlmtAIEXTb24C1Wdiwuh9xMxKlLrN2aiv.jpg

Ada yang ingat dengan kalimat ini?

“Ini Budi.”

“Ini Ibu Budi.”

“Ini Bapak Budi.”

Bagi sebagian besar dari kita, kalimat sederhana itu mungkin langsung membawa kembali ingatan saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Buku pelajaran, gambar keluarga sederhana, dan kalimat-kalimat pendek yang dulu membantu kita belajar membaca.

Tapi pernah nggak kita berhenti sebentar dan berpikir:

Siapa sosok di baliknya?

Siapa yang membuat Budi?

Salah satu nama yang kemudian muncul dalam sejarahnya adalah Siti Rahmani Rauf.

Mungkin nama ini terdengar asing bagi sebagian besar dari kita.

Padahal, Siti adalah seorang guru yang dikenal sebagai sosok penting dalam pengembangan alat peraga pembelajaran membaca yang menggunakan tokoh Budi dan keluarganya.

Ia menggunakan metode SAS “ Struktur Analitik Sintetik”, sebuah metode untuk mengajarkan anak membaca dengan cara yang berbeda dari metode mengeja biasa.

Sederhananya, anak diperkenalkan terlebih dahulu pada sebuah kalimat utuh:

“Ini Budi.”

Kemudian kalimat tersebut diuraikan:

Ini | Budi

Kemudian menjadi bagian yang lebih kecil:

I-ni | Bu-di

Dan setelah itu disusun kembali menjadi kalimat utuh.

Struktur → Analitik → Sintetik.

Jadi, kalimat sederhana seperti “Ini Budi” sebenarnya bukan sekadar kalimat yang kita hafal waktu kecil. Tetapi ada metode pembelajaran di baliknya.

Namun semakin ditelusuri, ceritanya ternyata tidak sesederhana:

“Siti Rahmani Rauf adalah pencipta Ini Budi.”

Menurut penuturan keluarganya, ketika Siti mendapat proyek dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, buku paket yang menggunakan materi Budi sebenarnya sudah ada.

Peran Siti lebih kepada membuat dan mengembangkan alat peraga pembelajaran membaca, yang kemudian membuat metode tersebut semakin hidup di ruang kelas.

Bahkan secara bibliografis, buku yang kemudian populer di masyarakat sebagai “buku Ini Budi” tercatat sebagai Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis 1, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka dan dikaitkan dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Pembinaan Pendidikan Dasar.

Dan dari sini justru muncul pertanyaan yang lebih besar:

Kalau Siti bukan satu-satunya orang di balik Budi, lalu siapa sebenarnya yang pertama kali membuatnya?

Siapa yang pertama kali menulis:

“Ini Budi.”

Siapa yang memilih nama Budi?

Siapa yang membuat ilustrasinya?

Siapa yang menyusun buku pertamanya?

Siapa yang mengembangkan metode pembelajarannya?

Dan bagaimana semuanya bisa tersebar begitu luas hingga menjadi bagian dari ingatan jutaan anak Indonesia?


Yang paling membuat saya penasaran justru bukan Budi.

Tapi Siti Rahmani Rauf. Bagaimana mungkin seseorang yang berkontribusi pada sesuatu yang begitu dikenal oleh jutaan anak Indonesia justru hampir tidak dikenal oleh generasi yang pernah menggunakannya?

Kita bisa mengingat Budi.

Kita bisa mengingat Ibu Budi.

Kita bahkan masih bisa mengucapkan kalimatnya puluhan tahun kemudian.

Tetapi ketika ditanya:

“Siapa yang membuatnya?”

Sebagian besar dari kita mungkin tidak tahu jawabannya.

Dan ironisnya, Siti Rahmani Rauf baru mulai dikenal luas oleh publik ketika usianya sudah sangat lanjut, terutama ketika kisahnya diberitakan pada 2016.

Media mulai mencari sosok di balik “Ini Budi”, dan masyarakat baru mengetahui bahwa di balik materi yang begitu familiar ternyata ada seorang guru bernama Siti Rahmani Rauf. Siti kemudian meninggal pada 10 Mei 2016.

Ada sebuah ironi yang sulit diabaikan:

Saat karya itu hidup di kepala jutaan anak Indonesia, penciptanya nyaris tidak dikenal.

Dan setelah beliau meninggal, pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang berada di balik “Ini Budi” justru semakin sulit dijawab.

Mungkin masalahnya bukan karena orang Indonesia tidak peduli.

Mungkin karena sejak awal kita tidak pernah diajarkan untuk mencari siapa yang berada di balik sebuah karya. Buku itu hadir sebagai buku pelajaran pemerintah. Metodenya hadir sebagai bagian dari sistem pendidikan.

Dan mungkin justru karena kalimat itu begitu sederhana, kita tidak pernah berpikir bahwa ada sejarah panjang di baliknya. Mungkin juga, “Ini Budi” bukanlah cerita tentang satu orang.

Melainkan cerita tentang banyak orang yang pernah berkontribusi pada lahirnya sebuah karya, tetapi namanya perlahan hilang dari ingatan. Dan mungkin, di balik tiga kata sederhana “Ini Budi”  ada nama-nama yang selama puluhan tahun menunggu untuk kembali ditemukan.



Sumber:

• Detik — Menengok Siti Rahmani Rauf, Sosok di Balik Buku “Ini Budi” yang Melegenda

• Detik — Ide Besar di Balik Kesederhanaan Buku “Ini Budi” dari Siti Rahmani

• Liputan6 — Benarkah Nenek Rauf Bukan Pencetus Metode Baca “Ini Budi”?

• CiNii Books — Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis 1

• Detik — Kabar Duka, “Ibu Budi” Siti Rahmani Rauf Meninggal Dunia 


Balasan (1)