Nusantara Mahayatra
Sejarah & Budaya

Ketika Pernikahan Jadi Ajang Gengsi, Adat Harus Dibayar Dengan Utang

H i MH i MSider - 13 postingansekitar 12 jam yang laluDiperbarui sekitar 12 jam yang lalu

Di banyak masyarakat Indonesia, pernikahan bukan sekadar pertemuan dua orang. Ia adalah pertemuan dua keluarga, dua rumpun kerabat, dan sebuah rangkaian adat yang diwariskan lintas generasi. Dan satu hal yang paling banyak menarik perhatian adalah Belis. 

Belis memiliki makna penting di dalamnya. Ia dapat menjadi bentuk penghargaan kepada keluarga perempuan, tanda keseriusan, sekaligus bagian dari ikatan sosial antarkeluarga. Bahkan dalam sejumlah kajian, besarnya belis dikaitkan dengan penghargaan dan status sosial perempuan.  

Masalahnya muncul ketika sesuatu yang awalnya memiliki makna budaya berubah menjadi ukuran gengsi keluarga. Pernikahan kemudian bukan lagi hanya tentang bagaimana dua orang membangun rumah tangga, tetapi bagaimana pesta terlihat di mata keluarga besar, kerabat dan lingkungan sekitar. 

Hewan harus tersedia. Belis harus dipenuhi. Pesta harus layak. Undangan harus banyak. Jangan sampai pernikahan anak terlihat “biasa-biasa saja”. Padahal setelah pesta selesai, kehidupan baru justru dimulai. Di sinilah ironi itu muncul. 

Sebuah penelitian mengenai perkawinan adat Suku Lio di Ende Timur menemukan bahwa tuntutan belis yang tinggi dapat membuat keluarga yang tidak mampu mengambil jalan meminjam uang, sehingga muncul utang-piutang. Dalam penelitian tersebut, tingginya belis juga disebut dapat menjadi penghambat kesiapan seseorang untuk menikah.  

Artinya, pesta yang hanya berlangsung sehari bisa meninggalkan beban ekonomi jauh lebih panjang. Dan persoalannya bukan semata-mata adat karena Adat tidak pernah berdiri sendirian. Ia hidup bersama manusia yang menjalankannya. Ketika kemampuan ekonomi keluarga berubah, seharusnya ada ruang untuk bernegosiasi dimana yang benar-benar merupakan nilai adat dan mana yang sebenarnya hanya tuntutan sosial. 

Sebab mempertahankan budaya tidak harus berarti mempertahankan semua bentuk pengeluaran yang berkembang di sekitarnya. Kalau sebuah keluarga harus berutang bertahun-tahun hanya agar pernikahan anak terlihat “layak” di mata orang lain, kita perlu berhenti sejenak dan melihat kembali makna pernikahan itu sendiri. 

Apakah kita sedang menjaga adat, atau sedang menjaga gengsi atas nama adat? 

Balasan (0)