Sejarah & Budaya
NUSANTARA KAYA BUDAYA, TAPI MISKIN ASET DIGITAL?
Siapa yang Akan Membangun Nusantara di Dunia Virtual?
Indonesia selalu bangga mengatakan:
“Kita adalah bangsa yang kaya budaya.”
Ribuan artefak.
Ratusan rumah adat.
Candi. Arca. Keris. Kapal tradisional. Relief. Tekstil. Senjata. Topeng. Ornamen. Manuskrip. Arsitektur kerajaan. Cerita rakyat. Mitologi.
Tetapi coba lakukan eksperimen sederhana.
Buka marketplace aset digital internasional.
Cari:
Japanese Temple.
Banyak.
Samurai.
Banyak.
Viking Village.
Banyak.
Medieval European Castle.
Banyak.
Chinese Ancient Architecture.
Banyak.
Sekarang cari:
Majapahit Palace.
Sriwijaya Port.
Ternate Sultanate.
Gowa-Tallo Kingdom.
Borobudur Relief Character.
Majapahit Soldier.
Traditional Indonesian Village.
Berapa banyak yang benar-benar siap digunakan untuk produksi game?
Di sinilah paradoksnya.
Nusantara kaya secara fisik, tetapi masih miskin secara digital.
Kita memiliki warisan budaya selama berabad-abad, tetapi sebagian besar masih berada dalam bentuk benda, bangunan, foto, buku, arsip dan dokumentasi.
Sementara dunia sedang bergerak menuju:
game, XR, immersive experience, virtual production, digital twin, AI, metaverse, film CGI dan spatial computing.
Indonesia selalu membanggakan diri sebagai bangsa dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Kita memiliki ribuan artefak, candi, arca, relief, rumah adat, senjata tradisional, tekstil, kapal, manuskrip, arsitektur kerajaan, hingga cerita dan mitologi dari ratusan kelompok budaya. Tetapi ada paradoks yang menarik: Nusantara sangat kaya secara budaya, tetapi masih miskin secara digital. Cobalah mencari aset digital yang benar-benar siap digunakan untuk produksi game, film CGI, virtual production, immersive exhibition, atau Unreal Engine. Kita relatif mudah menemukan Japanese Temple, Samurai, Viking Village, Medieval Castle, atau Ancient Chinese Architecture. Tetapi ketika mencari Majapahit Palace, Sriwijaya Port, Ternate Sultanate, Gowa-Tallo Kingdom, Majapahit Soldier, atau rekonstruksi kota-kota Nusantara masa lalu, pilihannya jauh lebih terbatas. Pertanyaannya sederhana tetapi mengganggu: kalau kebudayaan kita memang begitu kaya, mengapa representasi digitalnya begitu sulit ditemukan?
Mungkin masalah kita sebenarnya bukan kekurangan budaya, melainkan kegagalan mengubah kekayaan budaya menjadi infrastruktur digital yang dapat digunakan kembali. Selama ini kita sangat familiar dengan istilah pelestarian, konservasi, dokumentasi, penelitian, dan museumisasi. Semua itu penting, tetapi dunia sedang bergerak jauh lebih cepat menuju game, XR, digital twin, AI, virtual production, spatial computing, dan berbagai bentuk pengalaman immersive. Artefak yang hanya tersimpan sebagai benda, foto, katalog, atau dokumentasi tentu memiliki nilai sejarah, tetapi belum otomatis menjadi bahan baku industri kreatif digital. Seorang game developer yang ingin membangun dunia Majapahit tidak cukup hanya membaca buku sejarah. Ia membutuhkan model 3D arsitektur, karakter, kostum, senjata, kendaraan, lingkungan, tekstur, material PBR, animasi, hingga referensi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih kontroversial: apakah selama ini kita terlalu sibuk melestarikan budaya, tetapi belum serius mengindustrialisasikan budaya?
Bangsa lain telah menunjukkan bagaimana sejarah dan mitologi dapat berkembang menjadi kekuatan budaya sekaligus ekonomi. Samurai tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah Jepang; ia berkembang menjadi game, anime, manga, film, karakter, merchandise, dan berbagai intellectual property bernilai global. Mitologi Nordik tidak hanya hidup di museum dan buku sejarah, tetapi menjadi bahan baku film serta industri game bernilai miliaran dolar. Sementara Nusantara memiliki Majapahit, Sriwijaya, Singhasari, Mataram, Samudra Pasai, Gowa-Tallo, Ternate-Tidore dan ratusan tradisi lokal dengan kekayaan visual yang luar biasa. Kita memiliki ceritanya, tetapi belum cukup memiliki infrastrukturnya. Akibatnya, ketika industri membutuhkan dunia Nusantara, proses produksi sering kali harus dimulai hampir dari nol.
Persoalan ini menjadi semakin serius ketika AI berkembang. AI generatif bekerja berdasarkan data dan representasi digital yang tersedia. Bayangkan beberapa tahun mendatang seseorang cukup menulis perintah, “Create an ancient Southeast Asian kingdom,” lalu AI membangun seluruh dunianya. Jika data tentang arsitektur, pakaian, artefak, karakter, dan sejarah Nusantara jauh lebih sedikit dibandingkan data budaya Jepang, China, Eropa, atau kawasan lainnya, pertanyaannya adalah: budaya siapa yang akhirnya akan mendominasi imajinasi mesin? Bisa jadi kita tetap menjadi bangsa yang sangat kaya secara sejarah, tetapi justru miskin secara algoritmik. Nusantara ada di museum, buku, dan situs arkeologi, tetapi tidak cukup hadir di dalam dataset, marketplace digital, game engine, dan ekosistem AI yang sedang membentuk kebudayaan masa depan.
Karena itu digitalisasi budaya seharusnya tidak berhenti pada memindai artefak atau membuat dokumentasi digital. Tantangannya adalah bagaimana mengubah cultural heritage menjadi digital asset, kemudian menjadi bahan produksi kreatif, intellectual property, produk, dan akhirnya nilai budaya sekaligus ekonomi. Di sinilah persoalan tata kelola menjadi penting: siapa yang harus membangun ekosistem tersebut? Pemerintah, museum, kampus, seniman, arkeolog, game developer, atau perusahaan swasta? Haruskah aset budaya dibuka secara gratis sebagai open cultural assets, atau boleh dikomersialisasikan agar ekosistemnya berkelanjutan? Siapa yang menentukan sebuah rekonstruksi 3D dianggap akurat secara sejarah? Dan bagaimana mencegah digitalisasi Nusantara berubah menjadi sekadar estetika eksotis yang mencampur berbagai kebudayaan tanpa konteks sejarah yang benar?
Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi sekadar “mengapa aset digital Nusantara sulit ditemukan di internet?” Pertanyaannya jauh lebih besar: siapa yang akan memiliki, mengelola, dan menentukan representasi digital Nusantara di masa depan? Jika kita tidak membangun representasi digital kebudayaan kita sendiri, sangat mungkin suatu hari dunia mengenal Nusantara melalui interpretasi algoritma, perusahaan, atau kreator dari luar Nusantara. Kita mungkin mempunyai salah satu kekayaan budaya terbesar di dunia, tetapi kekayaan budaya tanpa sistem produksi, distribusi, dan pengelolaan digital hanya akan menjadi potensi yang terus kita banggakan tanpa pernah benar-benar menjadi kekuatan. Kita tidak kekurangan cerita; kita kekurangan keberanian dan sistem untuk mengubah cerita itu menjadi infrastruktur digital masa depan.
