PART 3 : Awal Kehadiran Portugis dan Misi Dominikan
Setelah penguasaan Malaka, Portugis mulai membangun jaringan pelayaran yang menghubungkan pusat-pusat perdagangan di Asia Tenggara dengan Kepulauan Rempah. Sejak sekitar tahun 1513 armada Portugis secara rutin melayari jalur yang menghubungkan Malaka, pesisir utara Jawa, Bali, Sumbawa, Flores, Solor, Banda, Ambon, hingga Ternate. Jalur ini kemudian menjadi fondasi bagi perluasan pengaruh politik, ekonomi, dan keagamaan Portugis di kawasan timur Nusantara.
Dalam perkembangan berikutnya, ekspansi tersebut tidak hanya dilakukan melalui aktivitas perdagangan, tetapi juga melalui penyebaran agama Katolik yang dipimpin oleh Ordo Dominikan. Pada paruh kedua abad ke-16, jaringan misi Dominikan berkembang di Solor, Adonara, Flores Timur, hingga Flores bagian tengah. Berdasarkan berbagai laporan misionaris, sedikitnya dua puluh stasiun misi telah berdiri di kawasan tersebut, termasuk 3 stasiun (stasi) di Ende yaitu stasiun Saraboro, Numba, dan Curolallas dan beberapa komunitas Kristen yang berkembang di Pulau Ende.
Kehadiran Dominikan di Ende diperkirakan telah berlangsung sejak sekitar tahun 1560. Aktivitas misionaris tidak hanya berfokus pada penyebaran agama, tetapi juga membentuk komunitas-komunitas Kristen yang kemudian menjadi mitra strategis Portugis dalam mempertahankan pengaruhnya di wilayah tersebut. Dengan demikian, ekspansi Portugis di Ende memperlihatkan hubungan yang erat antara kepentingan kolonial dan aktivitas keagamaan, di mana keberhasilan misi Katolik turut memperkuat posisi politik Portugis di kawasan Laut Sawu


