Setir Kanan vs. Setir Kiri: Sejarah di Balik Kebiasaan Berkendara
Pernah terpikir kenapa posisi setir mobil di Indonesia berbeda dengan yang digunakan di Amerika Serikat atau sebagian besar negara Eropa?
Di Indonesia, pengemudi duduk di sebelah kanan dan kendaraan melaju di sisi kiri jalan. Sebaliknya, Amerika Serikat, Belanda, dan sebagian besar negara Eropa menggunakan setir kiri dengan kendaraan yang melaju di sisi kanan jalan.
Perbedaan ini bukan sekadar persoalan desain kendaraan. Ada sejarah panjang di baliknya.
Di Indonesia, sistem berkendara di sisi kiri berkembang sejak masa kolonial dan terus dipertahankan setelah kemerdekaan. Sementara itu, di Eropa daratan, kebiasaan berkendara di sisi kanan menyebar seiring pengaruh Revolusi Prancis dan ekspansi Napoleon pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.
Menariknya, Belanda yang pernah menjajah Indonesia justru menggunakan sistem berkendara di sisi kanan hingga sekarang. Artinya, sistem lalu lintas Indonesia tidak bisa dijelaskan hanya dengan melihat kebiasaan Belanda masa kini.
Di Amerika Serikat, penggunaan sisi kanan jalan berkembang dari tradisi transportasi kereta kuda dan kemudian diperkuat oleh standardisasi industri otomotif. Produksi mobil massal dengan setir kiri turut membentuk kebiasaan yang bertahan hingga saat ini.
Lantas, apakah setir kanan atau kiri lebih baik?
Keduanya dirancang untuk menyesuaikan posisi pengemudi dengan sisi jalan yang digunakan. Yang terpenting bukan letak setirnya, melainkan konsistensi aturan dan kebiasaan berkendara di setiap negara.
Dari posisi setir saja, kita bisa melihat bagaimana sejarah, teknologi, dan kebijakan membentuk hal-hal yang kini terasa biasa. Sesuatu yang tampak sederhana ternyata menyimpan cerita panjang tentang bagaimana sebuah negara berkembang.
Karena hal yang kita anggap biasa, belum tentu memiliki cerita yang sederhana.
#sejarahbudaya #sejarah-budaya







