Sisingaan Masih Hidup. Tapi Apakah Masih Bermakna?
Di tengah musik modern, hiburan digital, dan budaya populer yang bergerak begitu cepat, seekor singa masih diarak di jalan-jalan Subang.
Bukan singa sungguhan, melainkan boneka singa yang dipikul oleh beberapa orang. Di atasnya, seorang anak duduk dengan wajah penuh kegembiraan. Musik mengiringi langkah, masyarakat berkumpul, dan sebuah tradisi kembali hadir di tengah kehidupan sehari-hari.

Itulah Sisingaan.
Kesenian khas masyarakat Sunda, khususnya Subang, yang selama puluhan tahun begitu dekat dengan berbagai perayaan masyarakat, terutama khitanan. Sisingaan bukan hanya tentang patung singa atau arak-arakan. Di dalamnya terdapat gotong royong, kegembiraan, kebersamaan, sekaligus identitas budaya masyarakat.
Namun zaman berubah.
Hari ini, Sisingaan tidak hanya muncul dalam hajatan masyarakat. Ia juga hadir dalam festival budaya, pawai, penyambutan tamu, dan berbagai acara resmi. Perubahan ini membuat Sisingaan tetap terlihat dan dikenal, tetapi sekaligus menghadirkan sebuah pertanyaan:
Apakah sebuah tradisi masih memiliki makna ketika cara masyarakat menggunakannya telah berubah?
Mungkin jawabannya tidak sesederhana "masih" atau "sudah tidak".
Tradisi memang tidak selalu bertahan dengan bentuk yang sama. Sebagian justru bisa tetap hidup karena mampu menyesuaikan diri dengan zaman. Jika dulu Sisingaan terutama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, kini ia juga menjadi bagian dari ruang kebudayaan yang lebih luas. Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah Sisingaan masih dipertunjukkan, tetapi apakah generasi berikutnya masih memahami mengapa tradisi itu ada.
Sebab sebuah budaya bisa saja tetap dipentaskan, tetapi kehilangan cerita di baliknya. Ia dapat menjadi tontonan yang indah, tetapi perlahan kehilangan hubungan dengan masyarakat yang dahulu melahirkannya.
Di sisi lain, perubahan juga tidak selalu berarti kehilangan. Selama Sisingaan masih dipelajari, dimainkan, diwariskan, dan diberi ruang oleh masyarakat, tradisi itu masih memiliki kesempatan untuk menemukan makna baru.
Barangkali, inilah tantangan terbesar kebudayaan hari ini. Bukan sekadar menjaga agar tradisi tidak hilang, tetapi memastikan bahwa ketika tradisi bertahan, kita masih tahu mengapa ia layak dipertahankan.
Sisingaan masih hidup. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita masih bisa melihatnya. Tetapi apakah kita masih memahami maknanya?
#sejarahbudaya #sejarah-budaya
