Keroncong: Ketika Musik Tak Lagi Menemukan Pendengarnya
Pernah mendengarkan keroncong tanpa merasa sedang mendengarkan musik dari masa lalu?
Bagi sebagian anak muda hari ini, keroncong mungkin lebih sering terdengar dari radio, acara budaya, atau pertunjukan orang tua daripada dari playlist mereka sendiri.
Padahal, keroncong belum mati.
Anak-anak muda masih memainkannya. Komunitas baru bermunculan, bahkan ada yang mencoba mengemasnya dengan cara yang lebih dekat dengan Gen Z dan milenial. Keroncong Wave, misalnya, dibentuk oleh mahasiswa untuk memperkenalkan keroncong dengan pendekatan yang lebih modern. Di Malang, sebagian besar anggota Orkes Keroncong Malang Utara juga merupakan anak muda dan remaja.
Jadi persoalannya bukan apakah keroncong masih ada.
Persoalannya: apakah keroncong masih ditemukan oleh generasi baru?
Keroncong sendiri memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Perkembangannya di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari Kampung Tugu, Jakarta Utara, dan pertemuan unsur musik Portugis dengan budaya lokal. Dari proses percampuran itulah keroncong berkembang menjadi bentuk musik yang memiliki karakter sendiri di Indonesia.
Ironisnya, musik yang lahir dari pertemuan berbagai budaya justru harus terus beradaptasi agar tidak kehilangan pendengar. Dan keroncong sebenarnya sudah berkali-kali melakukan itu.
Ia pernah hadir dalam pertunjukan teater. Ia berkembang dari Batavia ke berbagai kota. Kini, generasi baru mencoba membawanya ke panggung dan ruang digital dengan aransemen yang lebih dekat dengan musik yang mereka dengarkan sehari-hari. Artinya, keroncong tidak pernah benar-benar diam.
Yang berubah adalah zamannya.
Mungkin masalah terbesar keroncong bukan karena musiknya sudah tidak menarik. Bisa jadi kita hanya terlalu sering memperkenalkannya sebagai sesuatu yang harus dilestarikan, bukan sesuatu yang bisa dinikmati.
Ketika sebuah musik terus disebut sebagai “warisan”, ada risiko generasi muda melihatnya sebagai sesuatu yang harus dihormati dari kejauhan—bukan sesuatu yang boleh mereka dengarkan, mainkan, modifikasi, bahkan bawa ke dalam kehidupan mereka sendiri.
Padahal budaya tidak hidup karena terus dibiarkan persis seperti masa lalu. Ia hidup karena ada generasi yang merasa punya alasan untuk membawanya ke masa depan.
Kerontjong Toegoe, misalnya, masih aktif tampil dan melibatkan generasi muda dalam regenerasinya. Pada 2025, bahkan anak-anak dan pelajar turut tampil dalam kegiatan mereka. Sementara Keroncong Tujuh Putri mendapat penghargaan AMI 2025 untuk kategori keroncong.
Maka mungkin pertanyaannya bukan:
“Apakah anak muda masih suka keroncong?”
Tetapi:
“Apakah kita pernah memberi mereka kesempatan untuk menemukan keroncong dengan cara mereka sendiri?”
Sebab musik tidak akan bertahan hanya karena kita menyebutnya warisan. Ia bertahan ketika masih ada yang mau mendengarkan.
Masih ada yang mau memainkan dan masih ada generasi yang berkata:
“Ini musik kita. Dan gue masih mau mendengarnya.”
#sosialpolitik
