numa
Seni & Kreatif

Ketika Muse Bertemu Muse

Rio ChanRio ChanSider - 27 postingan6 hari yang laluDiperbarui 6 hari yang lalu

Satu nama, dua dunia.

Selama lebih dari tiga dekade, Muse dikenal sebagai salah satu band rock besar asal Inggris. Kini, nama yang sama digunakan Meta untuk produk AI barunya. Bukan sekadar chatbot, Muse dirancang sebagai personal AI agent yang dapat membantu manusia menjalankan berbagai pekerjaan sehari-hari.

Muse AI diperkenalkan Meta pada September 2026. Cara kerjanya sedikit berbeda dari AI yang selama ini kita kenal. Jika biasanya manusia memberikan pertanyaan lalu menunggu jawaban, Muse dirancang untuk menerima sebuah tujuan dan membantu mengerjakannya.

Pengguna dapat meminta Muse mengatur perjalanan, mengirim email, mengisi formulir, membantu berbelanja, hingga menyusun rencana dari sebuah tujuan jangka panjang. Muse bahkan dapat terus bekerja setelah aplikasi ditutup dan kembali ketika membutuhkan persetujuan pengguna sebelum melakukan tindakan tertentu.

Meta juga mulai menguji kemampuan Muse untuk melakukan panggilan telepon atas nama pengguna. Dalam pengujian tersebut, Muse dapat menelepon bisnis dan berinteraksi dengan orang di ujung telepon, sementara sistem kemudian memberikan transkrip dan rangkuman kepada pengguna.

Dengan kemampuan seperti ini, Muse bukan lagi sekadar AI yang menjawab, tetapi mulai menjadi AI yang bertindak.

Namun, ada cerita lain yang membuat nama Muse semakin menarik.

Ketika Nama Muse Berubah

Setelah kemunculan Muse AI, penggemar menyadari bahwa akun media sosial resmi band Muse tidak lagi menggunakan username lama @muse. Di X, akun tersebut berubah menjadi @Musetheband, sementara di Instagram menggunakan @museband. Username @muse kemudian digunakan oleh produk AI Meta.

Perubahannya sebenarnya mulai terdeteksi beberapa waktu sebelum peluncuran resmi Muse AI. Baik Meta maupun perwakilan band tidak memberikan penjelasan terbuka mengenai bagaimana perpindahan username tersebut terjadi. Jadi, terlalu jauh jika dikatakan bahwa Meta “merebut” akun milik band. Yang jelas, sebuah nama yang selama bertahun-tahun identik dengan musik kini juga menjadi identitas sebuah produk AI.

Ironinya, Muse bukanlah band yang asing dengan pembahasan tentang teknologi.

Karya mereka sering mengeksplorasi hubungan manusia dengan teknologi, kontrol, algoritma, dan masa depan digital. Album Simulation Theory bahkan banyak bermain dengan gagasan tentang realitas digital dan pengaruh teknologi terhadap manusia.

Kini, nama Muse justru melekat pada sebuah teknologi yang ingin semakin dekat dengan kehidupan manusia.

Ketika AI Mulai Memiliki Identitas

Mungkin pergantian username ini terlihat seperti persoalan kecil.

Tetapi ada sesuatu yang menarik di baliknya.

AI sekarang tidak hanya hadir sebagai teknologi yang bekerja di belakang layar. Ia mulai memiliki nama, aplikasi, akun media sosial, karakter, dan identitas digital yang berinteraksi langsung dengan manusia.

Muse adalah salah satu contohnya.

Dan ketika AI mulai dapat mengirim email, berbelanja, menelepon, mengatur perjalanan, bahkan mengingat preferensi pengguna, pertanyaannya berubah.

Bukan lagi hanya:

“Seberapa pintar AI?”

Tetapi:

“Seberapa besar ruang yang akan kita berikan kepada AI dalam kehidupan kita?”

Pada akhirnya, kisah Muse dan Muse mungkin bukan sekadar tentang sebuah band yang harus menambahkan kata “band” pada username mereka.

Ini tentang dunia digital yang semakin ramai oleh identitas manusia dan mesin.

Dulu kita menggunakan teknologi sebagai alat.

Sekarang, teknologi mulai memiliki nama dan ruangnya sendiri.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita mencari sebuah nama di internet, kita harus bertanya terlebih dahulu: kita sedang mencari manusia, atau mesin?


01
Rio Chan

Balasan (0)

Topik Terkait