Pink, Heels, dan Rok: Sejak Kapan Fashion Punya Gender?
Hari ini, warna pink identik dengan perempuan. Sepatu hak tinggi dianggap sebagai simbol feminitas, sementara rok lebih sering dipandang sebagai pakaian perempuan. Namun, jika menengok sejarah, anggapan tersebut tidak selalu berlaku.
Pada abad ke-18, pink justru populer di kalangan bangsawan laki-laki Eropa. Warna ini dianggap mewah dan memiliki kaitan dengan merah yang melambangkan kekuatan. Sepatu hak tinggi pun pernah dikenakan laki-laki bangsawan untuk menunjukkan status sosial, bahkan memiliki sejarah penggunaan oleh prajurit berkuda Persia. Sementara itu, pakaian menyerupai rok telah lama dikenakan laki-laki di berbagai peradaban, dari tunik Yunani kuno hingga kilt Skotlandia dan sarung di Indonesia.
Lantas, bagaimana semuanya bisa berubah?
Perubahan standar berpakaian di Eropa, perkembangan industri fashion, serta pemasaran produk secara bertahap membentuk pembagian yang lebih tegas antara pakaian laki-laki dan perempuan. Pink semakin diasosiasikan dengan perempuan, sedangkan celana panjang menjadi simbol pakaian laki-laki yang praktis dan maskulin. Media dan budaya populer kemudian ikut memperkuat asosiasi tersebut hingga terasa seperti sesuatu yang alamiah.
Padahal, warna tidak memiliki gender secara bawaan. Begitu pula dengan bentuk pakaian. Makna yang melekat pada keduanya terbentuk melalui sejarah, kebiasaan, dan kesepakatan sosial yang dapat berubah seiring waktu.
Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Sarung tetap menjadi bagian dari busana laki-laki di Indonesia, sementara kilt memiliki tempat dalam tradisi Skotlandia. Apa yang dianggap feminin di satu masyarakat belum tentu memiliki makna serupa di masyarakat lain.
Tentu, sejarah ini bukan berarti setiap orang harus mengenakan apa pun tanpa mempertimbangkan norma sosial. Namun, sejarah menunjukkan bahwa batas antara maskulin dan feminin dalam fashion tidak selalu tetap.
Jika pink pernah menjadi warna para bangsawan laki-laki dan heels pernah melambangkan status serta kekuasaan mereka, apakah pakaian benar-benar memiliki gender, atau kitalah yang memberikan makna tersebut?
Mungkin, sebelum menilai seseorang dari warna pakaian atau apa yang dikenakannya, kita perlu memahami bahwa standar yang kita anggap wajar hari ini pun merupakan hasil perjalanan panjang budaya manusia.
#senikreatif #seni-kreatif


