numa
Myflipbookpro
Seni & Kreatif

Synchronize Fest: Ketika Musik Indonesia Bukan Sekadar Soal Tren

PPeter ParkerSider - 34 postingansekitar 3 jam yang laluDiperbarui sekitar 3 jam yang lalu

Di tengah industri musik yang semakin dipengaruhi tren digital dan popularitas di media sosial, festival seperti Synchronize Fest menawarkan ruang yang berbeda. Musik tidak hanya dinikmati karena sedang viral, tetapi juga karena keberagaman genre, perjalanan musisi, dan pengalaman mendengarkan yang lebih luas.

Synchronize Fest 2026 berlangsung pada 16–18 Oktober di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta. Festival ini mempertemukan musisi dari berbagai generasi dan genre, mulai dari pop, rock, dangdut, hingga musik independen.Menariknya, sejumlah penampilan tahun ini membawa perjalanan musik masa lalu ke hadapan pendengar masa kini. Geisha akan tampil dalam konsep A Retrospective Journey bersama Momo, sementara Project Pop merayakan perjalanan 30 tahun mereka. Keduanya menunjukkan bahwa karya musik tidak selalu berhenti relevan ketika tren berganti. Namun, keberagaman musisi saja tidak otomatis menjamin ekosistem musik yang sehat. Tantangannya adalah bagaimana ruang seperti ini dapat membantu musisi menjangkau pendengar baru, memberi panggung bagi talenta independen, dan mendorong penonton mengeksplorasi musik di luar kebiasaan mereka.

Sebab, musik Indonesia terlalu luas jika hanya diukur dari lagu yang paling sering muncul di linimasa. Ada karya yang bertahan lintas generasi, ada skena yang tumbuh di luar arus utama, dan ada musisi yang layak dikenal lebih jauh meskipun belum mendapat perhatian besar.

Pada akhirnya, festival musik bukan hanya tentang siapa yang tampil di atas panggung, tetapi juga tentang musik seperti apa yang diberi ruang untuk tumbuh dan didengar.

Di tengah budaya musik yang semakin cepat berganti, mampukah festival seperti Synchronize Fest membuat pendengar kembali melihat musik Indonesia lebih dari sekadar tren?


01
P

Balasan (0)

Topik Terkait