numa
Sosial & Politik

50 RIBU KASUS, MBG SEDANG DIUJI OLEH PIRINGNYA SENDIRI

H i MH i MSider - 32 postingan14 hari yang laluDiperbarui 14 hari yang lalu

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibangun dengan tujuan yang sulit ditolak: membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak. Tetapi ketika sebuah program negara menyentuh puluhan juta orang, ukurannya bukan lagi sekadar seberapa banyak makanan yang dibagikan. Ukurannya juga seberapa aman makanan itu sampai ke meja penerima.

Per 2 September 2026, data surveilans Kementerian Kesehatan yang disampaikan Komisi IX DPR mencatat 50.059 orang dalam 560 kejadian keracunan yang dikaitkan dengan MBG di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota. Angka ini tidak otomatis berarti seluruh kasus telah terbukti disebabkan oleh makanan MBG, tetapi skalanya cukup besar untuk menjadi bahan evaluasi serius.

BGN menyebut 80–90 persen kasus yang mereka evaluasi berkaitan dengan ketidakpatuhan terhadap SOP. Pemerintah juga telah menutup sementara 1.999 dapur MBG yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar. Masyarakat bukan hanya melihat makanan gratis. Mereka melihat anak yang sakit, keluarga yang panik, biaya berobat, dan pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab ketika sesuatu terjadi.

Karena itu, perdebatan “MBG lanjut atau berhenti” seharusnya tidak berhenti pada dua kubu. Ada masyarakat yang merasakan manfaatnya dan ingin program tetap berjalan. Ada pula keluarga korban yang membutuhkan kepastian bahwa keselamatan anak tidak dikorbankan demi mengejar target penerima.

Dengan skala puluhan juta penerima, penghentian total bukan satu-satunya pilihan. Perbaikan sistem juga bukan sekadar mengganti menu. Pengawasan dapur, sertifikasi, rantai distribusi, batas waktu konsumsi, keterbukaan hasil pemeriksaan, mekanisme pengaduan, hingga pertanggungjawaban ketika terjadi insiden harus menjadi bagian dari evaluasi. MBG mungkin terlalu besar untuk dinilai hanya dari satu piring makanan. Tetapi justru karena begitu besar, standar keamanannya juga harus jauh lebih tinggi. Yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran negara. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan masyarakat terhadap program yang membawa nama negara.

06
H i M

Balasan (0)

Topik Terkait