98 Tahun Sumpah Pemuda, Apakah Suara Anak Muda Masih Didengar?
Setiap 28 Oktober, kita kembali mengingat ikrar yang menyatukan pemuda Indonesia pada 1928. Persatuan, tanah air, bangsa, dan bahasa menjadi fondasi penting dalam perjalanan Indonesia. Namun, hampir satu abad kemudian, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah semangat itu masih terasa dalam kehidupan generasi muda hari ini?
Pada peringatan Sumpah Pemuda ke-98, sejumlah mahasiswa kembali turun ke jalan melalui aksi #IndonesiaSadar di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Mereka membawa berbagai tuntutan, mulai dari persoalan lingkungan dan ekonomi hingga pendidikan, penegakan hukum, serta kebebasan sipil. Aksi tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
Ketika Persatuan Berhadapan dengan Perbedaan
Sumpah Pemuda sering dimaknai sebagai simbol persatuan di tengah keberagaman. Namun, persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Dalam masyarakat demokratis, perbedaan pandangan justru menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Demonstrasi merupakan salah satu saluran untuk menyampaikan aspirasi ketika sebagian masyarakat merasa ada persoalan yang perlu mendapat perhatian. Tentu, tuntutan yang disampaikan tetap perlu diperiksa, diperdebatkan, dan ditanggapi berdasarkan fakta. Kritik tidak otomatis benar hanya karena disuarakan dengan lantang, sebagaimana kebijakan tidak otomatis benar hanya karena berasal dari pemerintah.
Di sinilah dialog menjadi penting. Aspirasi perlu disampaikan secara bertanggung jawab, sementara pihak yang menerima kritik perlu membuka ruang untuk mendengar dan memberikan penjelasan.
Pemuda Bukan Sekadar Simbol Perayaan
Semangat pemuda tidak seharusnya berhenti pada upacara, slogan, atau unggahan bertema nasionalisme setiap bulan Oktober. Semangat itu juga tercermin dalam keberanian mengajukan pertanyaan, kepedulian terhadap persoalan publik, dan kesediaan mencari solusi.
Namun, menyampaikan kritik juga bukan akhir dari tanggung jawab. Generasi muda membutuhkan ruang untuk mengawal isu, memeriksa informasi, berdiskusi, dan terlibat dalam proses perubahan. Di sisi lain, pemerintah dan lembaga publik perlu memberikan tanggapan yang jelas terhadap aspirasi masyarakat, bukan sekadar menganggap kritik sebagai gangguan.
Demokrasi tidak hanya diukur dari ada atau tidaknya demonstrasi. Ia juga terlihat dari bagaimana aspirasi disampaikan, bagaimana kritik ditanggapi, dan apakah persoalan yang diangkat benar-benar ditindaklanjuti.
Persatuan Tidak Berarti Semua Harus Diam
Hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda, tantangan generasi muda memang berbeda dari 1928. Bentuk perjuangannya berubah, begitu pula persoalan yang dihadapi. Namun, satu hal tetap relevan: membangun Indonesia membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk anak muda yang berani menyuarakan persoalan di sekitarnya.
Persatuan tidak harus berarti keseragaman. Kita bisa berbeda pendapat tanpa saling meniadakan. Kita juga bisa mengkritik kebijakan tanpa kehilangan kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Sumpah Pemuda bukan hanya apakah generasi muda masih memiliki semangat untuk bersatu. Pertanyaan lainnya adalah apakah mereka memiliki ruang yang cukup untuk berpartisipasi, menyampaikan kritik, dan ikut menentukan arah masa depan Indonesia.
Sebab, semangat persatuan akan lebih bermakna ketika suara yang berbeda tidak hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan.
#sosialpolitik #sosial-politik



