Nusantara Mahayatra
Sosial & Politik

Anak Krakatau Kembali Bergeliat, Langit Selat Sunda Dipenuhi Abu Vulkanik

H i MH i MSider - 13 postingansekitar 20 jam yang laluDiperbarui sekitar 20 jam yang lalu

Selat Sunda kembali memperlihatkan wajah lain dari alam Indonesia. Di antara Pulau Jawa dan Sumatra, Gunung Anak Krakatau kembali aktif dan memuntahkan material vulkanik ke udara. Dari kejauhan, kawasan yang biasanya menjadi jalur pelayaran dan destinasi wisata bahari itu kini berada dalam pengawasan ketat.

Aktivitas erupsi mulai tercatat pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berlangsung sekitar 25 jam, sebelum episode erupsi menerus tersebut berakhir pada Minggu dini hari. Meski episode itu telah berhenti, status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III atau Siaga.

Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar gunung. Abu vulkanik terbawa angin dan terdeteksi membentang dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. BMKG bahkan mencatat sebaran abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki. Kondisi ini sempat berdampak pada operasional sejumlah bandara, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto.

Bagi wisatawan yang mengenal Selat Sunda sebagai tempat menikmati pantai, pulau-pulau kecil, dan panorama laut, fenomena ini menjadi pengingat bahwa lanskap indah tersebut berada di kawasan vulkanik yang sangat aktif.

Nama Anak Krakatau juga membawa ingatan kuat pada Desember 2018. Saat itu, runtuhnya sebagian tubuh gunung memicu tsunami di Selat Sunda. Namun kondisi saat ini tidak otomatis berarti skenario yang sama akan terulang. Hingga 6 September pukul 07.30 WIB, sistem pemantauan tsunami BMKG tidak mendeteksi anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami.

Karena itu, masyarakat pesisir dan wisatawan tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada. Aktivitas gunung api dapat berubah dengan cepat. Untuk sementara, kawasan sekitar Anak Krakatau bukan tempat untuk mengejar pemandangan atau sekadar berwisata. Alam sedang menunjukkan kekuatannya. Dan di Selat Sunda, keindahan dan potensi bencana memang selalu berjalan berdampingan.

Balasan (0)