Apakah Pemilu Benar-Benar Mengubah Segalanya?
Setiap lima tahun kita memilih. Setiap lima tahun kita berharap. Dan setiap lima tahun pula kita kembali bertanya: apa yang sebenarnya berubah?
Kita datang ke TPS dengan harapan.
Memilih pemimpin baru.
Memilih wakil rakyat baru.
Memilih masa depan yang kita percaya akan lebih baik.
Kita mencoblos selembar kertas, memasukkannya ke dalam kotak suara, lalu pulang dengan keyakinan bahwa suara kita akan membawa perubahan. Tetapi mari berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur:
Apakah pemilu benar-benar mengubah kehidupan kita, atau kita hanya mengganti siapa yang duduk di kursi kekuasaan?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sinis.
Tetapi bukankah kita sering melihat siklus yang sama?
Sebelum pemilu, rakyat menjadi pusat perhatian. Janji bermunculan. Harapan dibangun. Masa depan digambarkan seolah hanya tinggal selangkah lagi. Setelah pemilu selesai, sorotan perlahan menghilang.
Rakyat kembali menjadi penonton, harga kebutuhan tetap menjadi persoalan. Lapangan pekerjaan tetap dipertanyakan, ketimpangan masih terlihat. Pendidikan masih menghadapi masalah. Pelayanan publik masih membuat masyarakat mengeluh.
Lalu kita kembali menunggu pemilu berikutnya.
Apakah demokrasi akhirnya hanya menjadi siklus: memilih, berharap, kecewa, lalu memilih lagi?
Tentu saja pemilu penting.
Pemilu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan siapa yang akan memperoleh mandat kekuasaan. Tanpa pemilu yang bebas dan adil, demokrasi kehilangan salah satu instrumen utamanya. Tetapi ada kesalahan besar ketika kita menganggap mencoblos adalah akhir dari tanggung jawab politik kita.
Kita memilih seseorang, lalu menyerahkan hampir seluruh urusan kepadanya.
Ketika kebijakan buruk muncul, kita marah.
Ketika janji tidak terpenuhi, kita kecewa.
Ketika keputusan pemerintah tidak sesuai harapan, kita menyalahkan penguasa.
Tetapi setelah itu, apa yang kita lakukan?
Apakah kita mengawasi?
Apakah kita bertanya?
Apakah kita membaca kebijakan yang dibuat?
Apakah kita berani mengkritik orang yang kita pilih sendiri?
Atau kita hanya menunggu lima tahun berikutnya untuk memilih orang lain?
Inilah ironi demokrasi: kita begitu sibuk menentukan siapa yang berkuasa, tetapi sering lupa mengawasi apa yang dilakukan setelah mereka berkuasa. Lebih menyakitkan lagi, kita terkadang memilih bukan berdasarkan gagasan, tetapi berdasarkan popularitas.
Kita memilih karena wajahnya sering muncul di layar.
Karena cara bicaranya menarik.
Karena dia berasal dari kelompok yang kita sukai.
Karena kita membenci lawannya.
Bahkan terkadang kita memilih bukan karena yakin seseorang mampu memimpin, tetapi karena kita takut jika orang lain yang menang.
Kalau begitu, apakah kita benar-benar sedang memilih masa depan?
Atau hanya sedang memilih siapa yang paling kita percaya untuk sementara?
Pemilu memang bisa mengganti pemimpin, tetapi pergantian pemimpin tidak otomatis mengganti sistem.
Tidak otomatis menghapus ketimpangan.
Tidak otomatis memperbaiki birokrasi.
Tidak otomatis membuat masyarakat lebih adil.
Dan yang paling penting, tidak otomatis membuat rakyat menjadi lebih kritis.
Karena perubahan politik tidak hanya terjadi di balik bilik suara, perubahan juga terjadi ketika masyarakat berani bertanya setelah suara diberikan. Ketika pemerintah dikritik tanpa langsung dianggap sebagai musuh.
Ketika kebijakan dinilai berdasarkan dampaknya, bukan berdasarkan siapa yang membuatnya.
Ketika masyarakat tidak hanya menjadi pemilih saat hari pencoblosan, tetapi menjadi warga negara yang terus mengawasi. Sebab demokrasi bukanlah sistem di mana rakyat menyerahkan nasibnya kepada pemenang pemilu.
Demokrasi adalah sistem di mana kekuasaan terus-menerus dipertanyakan oleh rakyat.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Siapa yang kita pilih?”
Tetapi:
“Apa yang kita lakukan setelah pilihan itu diberikan?”
Sebab jika kita hanya aktif lima menit di bilik suara, lalu diam selama bertahun-tahun, jangan heran jika perubahan yang kita tunggu tidak pernah benar-benar datang.
Pemilu bisa mengganti orang.
Tetapi perubahan membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit:
masyarakat yang tidak berhenti peduli setelah mencoblos.
Dan mungkin inilah kenyataan yang paling tidak nyaman:
Kita sering menuntut pemimpin untuk mengubah negara, sementara kita sendiri hanya menuntut perubahan ketika sudah merasa dirugikan.
Pemilu bukanlah tombol ajaib. Ia hanya memberikan kita kesempatan.
Selebihnya, perubahan bergantung pada apa yang dilakukan oleh mereka yang diberi kekuasaan dan seberapa berani masyarakat mengawasinya. Karena pada akhirnya, demokrasi tidak akan pernah lebih baik daripada masyarakat yang menjalankannya.
#sosialpolitik #sosial-politik
