Belajar Mengelola Seni, Merawat Ingatan Budaya

Ruang Kontemplasi dan Arts Sublime - Sarvamaya.id
Hampir 20 tahun hidup saya habis di depan layar monitor yang menyala sampai pagi. Sebagai orang di balik layar mulai dari graphic designer sampai motion graphic designer hari-hari saya isinya ya berkutat dengan warna, animasi, nirmana, komposisi desain typografi dan kejar-kejaran deadline dan presure klien. Inti pekerjaan saya sebenarnya cuma satu, menyulap ide abstrak jadi visual matang yang ditonton jutaan orang. Tapi, setelah ngelewatin ribuan jam tayang, ada satu pertanyaan yang tiba-tiba nyangkut di kepala, kalau acaranya sudah kelar dan TV dimatikan, apa sih yang sebenarnya tersisa dari karya kita?O


Kalau kalian pernah ngakak nonton Opera Van Java (OVJ), betah mantengin On The Spot, atau ngikutin berita Redaksi di Trans 7 era 2007-2011, nah, Anda sebenarnya lagi lihat hasil begadang saya dan tim. Perjalanan ini lanjut ke Berita Satu TV lewat deretan program Jurnal dan The Morning Show. Terus berlanjut lagi ke masa keemasan NET TV. Dari Indonesia Morning Show, The East, OK-JEK, Indonesia Bagus, sampai acara prime time kaya Ini Talkshow dan Tonight Show—sebagian besar identitas visual acara-acara hits itu adalah pekerjaan yang saya dan tim saya kerjakan.

Berita Satu - First Media Channel



Program Acara di Net TV


All Program Net Tv yg saya dan tim kerjakan
Kerja di TV bikin saya terbiasa di tuntut bikin visual yang bagus bahkan di paksa untuk berbeda dengan yang lain. dengan ritme kerja yang gila-gilaan cepatnya. Tapi, pas saya mulai bikin Sarvamaya Studio sendiri, cara pandang saya berubah total. Saya nggak cuma ngurusin gambar dan visual lagi, tapi harus ngurusin orang, budget, klien dan segala macam kerumitan klien dan idenya. Dari situ saya baru sadar, karya kreatif yang keren itu ternyata selalu ditopang sama manajemen dan ekosistem tak kasat mata (intengible value) di belakang layar.
Rasa penasaran soal "ekosistem" inilah yang akhirnya bikin saya mutusin buat kuliah lagi ngambil Magister Art Management (Tata Kelola Seni) di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Niat awalnya sih simpel, cuma pengen belajar gimana caranya jadi event manager yang baik. Bayangan saya, di sana bakal diajarin urusan teknis panggung, cara nego sama vendor, atau ngatur budget acara handle dan ngurusi sponsorshio dan klien.
Eh, ternyata realitanya beda jauh. Kuliah ini seolah "nampar" dan ngebuka mata saya ke dunia yang jauh lebih luas. Bikin event itu ternyata cuma ujung gunung es-nya aja. Di baliknya, ada proses riset yang panjang, kurasi, arsip, sampai mikirin gimana budaya ini bisa terus jalan berkelanjutan sustainable kalau istilah sekarng. Saya jadi paham, karya itu nggak cukup cuma modal "kelihatan bagus" good look. Karya harus punya konseptual yang matang, akar sejarah, nilai, dan nyambung sama publiknya. Seni, museum, wisata sejarah, galeri, event dan teknologi itu bukan hal yang jalan sendiri-sendiri, tapi satu rantai ekosistem yang harus dirawat bareng-bareng.

Pemahaman soal ekosistem ini kerasa banget pentingnya sekarang. Apalagi di zaman Artificial Intelligence (AI) kayak hari ini, di mana kita tiap hari dibombardir sama visual yang super memukau. Sekarang semua orang berlomba-lomba cari perhatian pakai karya instan yang megah. Saingannya udah bukan lagi soal siapa yang paling jago bikin gambar atau animasi yang mulus.
Di tengah banjir visual ini, ada satu celah besar yang sering dilupain orang: kematangan konsep dan konteks yang pas. Sebagus apapun visual yang kita bikin, bakal susah nempel di ingatan audiens kalau fondasi ceritanya lemah.

https://www.fab.com/sellers/Sarvamaya%20Studio

Itu alasannya kenapa saya nggak mau pakai cara lama waktu ngebangun proyek Digital Asset Management buat warisan budaya Nusantara. Bikin ulang model 3D candi, artefak, atau arca buat keperluan museum, VR, atau game udah nggak bisa sekadar ngejar "mirip aslinya". Patung digital yang nggak ada konteks sejarahnya ya cuma bakal jadi tumpukan piksel yang bisu. Karya ini harus punya ruh, bawa cerita sejarah, dan punya nilai filosofis supaya nggak gampang tenggelam sama karya-karya hasil generate AI.
"Tapi, bawa mimpi segede ini jelas nggak bisa sendirian. Di era sekarang, sekadar bikin wadah atau komunitas aja nggak cukup. Kita butuh kolaborasi antar-komunitas buat ngebentuk sebuah ekosistem kerja lintas ilmu (multidisipliner)."
Dari kebutuhan itulah Nusantara Mahayatra (NUMA) lahir. Lewat nusantaramahayatra.com —yang nantinya bakal masuk ke aplikasi mobile—saya bukan cuma mau bikin tempat nongkrong online biasa. Saya lagi ngebangun ruang silang pengetahuan. Tempat di mana para arkeolog, sejarawan, kreator digital, seniman, sampai orang IT dari berbagai latar belakang bisa saling ketemu, ngobrol, dan kolaborasi bareng.

nusantaramahayatra.com - NUMA (forum komunitas online
"Kalau dulu keahlian saya cuma nahan orang supaya nggak ganti channel TV, sekarang saya butuh bantuan Anda buat misi yang jauh lebih besar. Jangan biarkan aset budaya kita hilang tanpa cerita. Yuk, mampir ke nusantaramahayatra.com, bawa ide dan keahlian Anda, dan mari kita sama-sama menggerakkan pengetahuan, lintas komunitas, serta ingatan budaya kita."
Karena pada akhirnya, mengelola seni sejati itu bukan cuma urusan seberapa terang kita bisa nyalain lampu panggung malam ini... tapi tentang gimana kita memastikan gagasan, manusia, dan kebudayaan Nusantara di belakang panggung itu, apinya tidak akan pernah padam.

