numa
Sosial & Politik

Emmy 2026 Kembali Memicu Debat Apakah Diversity Hollywood Hanya Kuat dalam Kampanye

Loka mataLoka mataSider - 9 postingan13 hari yang laluDiperbarui 13 hari yang lalu

Hollywood tidak kekurangan slogan tentang diversity, inclusion, dan representation. Yang masih dipertanyakan adalah apakah industri ini benar-benar mendistribusikan kesempatan dan kekuasaan secara lebih adil, atau hanya semakin mahir menjual citra progresif. Emmy Awards 2026 kembali membuka paradoks itu. Variety mencatat tidak ada aktor kulit berwarna yang memenangkan kategori utama dan pendukung, sementara jumlah performer of color yang masuk nominasi kategori acting utama dan pendukung turun dari 28 menjadi 17 dalam setahun, atau sekitar 39% (Davis, 2026). Ironisnya, panggung penghargaan tetap dipenuhi pesan tentang pentingnya keberagaman dan ruang bagi cerita yang berbeda (Variety, 2026). Jadi persoalannya bukan Hollywood tidak memahami bahasa diversity. Mereka sangat fasih mengucapkannya. Masalahnya, jika representasi mudah menyusut ketika tren, tekanan publik, atau kepentingan bisnis berubah, maka yang selama ini dibangun mungkin bukan reformasi struktural, melainkan reputasi moral. Diversity kuat sebagai kampanye, tetapi belum tentu kuat sebagai sistem.

Masalah itu bahkan sudah terjadi jauh sebelum seseorang berdiri memegang patung Emmy. UCLA Hollywood Diversity Report menunjukkan bahwa pada serial streaming populer 2024, sekitar 79,6% pemeran utama masih kulit putih, sedangkan Black 8,3%, Latinx 3,3%, Asian 2,2%, dan hanya 12,2% serial scripted teratas memiliki kreator BIPOC (Ramón et al., 2025). Pada film streaming 2025, proporsi pemeran utama dari kelompok people of color bahkan turun dari 51% menjadi 36%, disertai penurunan representasi pada posisi sutradara, penulis, dan keseluruhan pemain (Ramón et al., 2026). Di sinilah teori tokenism Rosabeth Moss Kanter menjadi relevan: menghadirkan kelompok minoritas secara visual tidak otomatis mengubah struktur kekuasaan jika akses terhadap posisi strategis, sumber daya, dan keputusan tetap terkonsentrasi (Kanter, 1977). Stuart Hall juga menegaskan bahwa representasi bukan hanya soal siapa yang terlihat di layar, tetapi siapa yang memiliki kekuasaan untuk menentukan cerita dan maknanya (Hall, 1997). Dengan kata lain, memasang wajah beragam di poster jauh lebih murah daripada membagi kekuasaan di ruang penulis, kursi sutradara, meja produser, dan lembaga penghargaan.

Tentu terlalu sederhana jika satu malam Emmy dijadikan bukti bahwa seluruh kampanye diversity Hollywood adalah palsu. Penghargaan tetap ditentukan oleh karya, nominasi, dan voting, bukan kewajiban membagi piala berdasarkan identitas. Tetapi ketika penurunan nominasi berjalan bersamaan dengan kemunduran representasi di level produksi, pertanyaannya tidak lagi sekadar “mengapa mereka tidak menang?”, melainkan “siapa sejak awal diberi kesempatan untuk menciptakan karya yang memungkinkan mereka sampai ke panggung itu?” Sara Ahmed menyebut kondisi ketika organisasi terlihat progresif melalui kebijakan dan bahasa keberagaman sementara struktur kekuasaannya relatif tidak berubah sebagai bentuk institutional performance (Ahmed, 2012). Emmy 2026 karena itu lebih menarik dibaca sebagai cermin daripada terdakwa: ia memperlihatkan jarak antara bahasa progresif Hollywood dan struktur industrinya sendiri. Jika diversity hanya terlihat ketika kamera menyala, masuk kampanye pemasaran, lalu melemah ketika kekuasaan dan kesempatan dibagikan, maka itu bukan transformasi. Itu branding yang memakai moralitas sebagai strategi komunikasi.

ChatGPT Image Sep 16, 2026, 10_48_25 AM.webp


03
Loka mata

Balasan (0)

Topik Terkait