HAARP Dituding: Di Mana Buktinya?
Enam gunung api Indonesia memang tercatat mengalami erupsi dalam waktu berdekatan pada 31 Agustus 2026. Fenomena ini wajar memunculkan pertanyaan. Namun ketika Tenaga Ahli Utama KSP Ulta Levenia Nababan mengaitkannya dengan kemungkinan teknologi asing seperti HAARP, lalu kita mulai bertanya dimana buktinya?
PVMBG menyatakan tidak menemukan bukti bahwa keenam gunung tersebut saling memicu. Keenamnya juga memiliki sistem vulkanik dan kondisi geologi masing-masing.
Lebih problematis lagi, HAARP sebenarnya dirancang untuk meneliti ionosfer, lapisan atmosfer bagian atas, menggunakan gelombang radio frekuensi tinggi. Tidak ada mekanisme ilmiah yang terbukti menghubungkan teknologi tersebut dengan tekanan magma atau pemicu erupsi. Skeptis tentu sah. Tetapi sebagai pejabat publik, spekulasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan. Ia harus diikuti data, mekanisme fisika, dan bukti yang dapat diuji
