Nusantara Mahayatra
Sosial & Politik

Janji Politik: Mudah Diucapkan, Sulit Ditagih

Rio ChanRio ChanSider - 12 postingansekitar 4 jam yang laluDiperbarui sekitar 4 jam yang lalu

Masa kampanye selalu memiliki satu hal yang menarik yaitu janji.

Harga kebutuhan akan diperbaiki, lapangan pekerjaan akan diperbanyak, pendidikan akan ditingkatkan, korupsi akan diberantas, dan kehidupan masyarakat akan dibuat lebih baik. Semua terdengar meyakinkan ketika disampaikan di atas panggung, di layar, atau melalui baliho yang memenuhi jalan. Namun setelah pemilu selesai dan kursi kekuasaan telah diduduki, sebagian janji perlahan berubah menjadi sesuatu yang samar.

Bukan lagi “kapan akan dilaksanakan?”, melainkan “memang dulu pernah berjanji?”

Tentu, tidak semua janji mudah diwujudkan. Pemerintahan memiliki anggaran terbatas, birokrasi yang panjang, aturan yang harus dipatuhi, serta berbagai kepentingan politik yang harus dinegosiasikan. Janji yang terlihat sederhana saat kampanye bisa menjadi sangat rumit ketika harus diterjemahkan menjadi kebijakan. Tetapi di situlah persoalannya.

Jika sebuah janji memang sejak awal sulit diwujudkan, mengapa ia begitu mudah diucapkan?

Politik memang membutuhkan kompromi. Namun kompromi seharusnya tidak membuat janji kepada masyarakat kehilangan makna. Pemilih memberikan suara bukan hanya berdasarkan siapa yang paling populer, tetapi juga berdasarkan harapan terhadap apa yang akan dilakukan setelah seseorang mendapatkan kekuasaan.

Sayangnya, mekanisme untuk menagih janji sering kali tidak sekuat mekanisme untuk membuatnya. Kampanye berlangsung beberapa bulan, kekuasaan berlangsung bertahun-tahun. Dan dalam rentang waktu itu, ingatan publik dapat berubah, isu baru bermunculan, sementara janji lama perlahan tenggelam.

Mungkin karena itu, persoalannya bukan hanya apakah seorang pemimpin menepati janji, tetapi apakah masyarakat memiliki cara yang cukup kuat untuk mengingatkannya. Sebab demokrasi tidak seharusnya berhenti ketika surat suara dimasukkan ke kotak pemilihan.

Pemilu memilih pemimpin. Tetapi setelah itu, masyarakat tetap memiliki hak untuk bertanya: mana janji yang sudah diwujudkan, mana yang belum, dan mengapa?

Pada akhirnya, janji politik seharusnya bukan sekadar kalimat untuk memenangkan suara.

Janji adalah utang kepercayaan. Dan kepercayaan, seperti halnya utang, suatu hari akan ditagih.


#sosialpolitik #sosial-politik

#sosialpolitik#sosial-politik

Balasan (0)