Nusantara Mahayatra
Sosial & Politik

Katanya Demokrasi, Kok Takut Dikritik?

PPeter ParkerSider - 9 postingan5 hari yang laluDiperbarui 5 hari yang lalu

Katanya kita hidup di era demokrasi. Tapi mengapa begitu dikritik, kita bertingkah seolah-olah sedang diserang?

Kita suka berbicara tentang kebebasan.

Kebebasan berpendapat.
Kebebasan berekspresi.
Kebebasan menyampaikan kritik.

Kita bahkan bangga mengatakan bahwa demokrasi memberi setiap orang hak untuk bersuara. Tetapi coba balik pertanyaannya.

Apakah kita benar-benar siap mendengar suara yang tidak kita sukai?

Sebab sering kali jawabannya: tidak.

Kita ingin bebas berbicara, tetapi marah ketika orang lain membalas. Kita ingin kritik terhadap pihak yang kita benci tetap hidup, tetapi menganggap kritik terhadap pihak yang kita dukung sebagai serangan. Lebih ironis lagi, kita sering tidak membantah isi kritiknya.

Kita justru menyerang orangnya.

“Dia pembenci.”

“Dia tidak mendukung.”

“Dia punya kepentingan.”

“Dia mencari sensasi.”

Seolah-olah siapa yang berbicara lebih penting daripada apa yang sedang dibicarakan.

Di sinilah demokrasi kita menghadapi masalah yang tidak nyaman untuk diakui.

Mungkin kita tidak sedang kekurangan kebebasan. Mungkin kita sedang kekurangan kedewasaan untuk menggunakannya.

Sebab demokrasi bukan hanya hak untuk berbicara. Demokrasi juga berarti menerima kenyataan bahwa orang lain mempunyai hak untuk mengatakan sesuatu yang mungkin membuat kita marah. Dan ya, kritik memang bisa menyakitkan. Karena kritik terkadang menyentuh bagian yang ingin kita sembunyikan.

Tetapi bukankah justru di situlah gunanya kritik?

Jika semua orang hanya mengatakan hal-hal yang menyenangkan, siapa yang akan memberi tahu ketika kita melakukan kesalahan?

Jika semua orang takut berbicara, siapa yang akan mengingatkan ketika kekuasaan mulai berlebihan?

Jika setiap perbedaan pendapat dianggap sebagai permusuhan, lalu apa yang tersisa dari demokrasi selain ritual untuk saling membenarkan?

Kita perlu jujur kepada diri sendiri. Barangkali yang paling kita takuti bukan kritik. Kita takut kehilangan citra bahwa kita selalu benar. Karena itu, sebelum meminta orang lain berhenti mengkritik, mungkin ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Bagaimana jika kritik itu benar?

Mungkin kita tidak harus menyukainya.

Mungkin kita bahkan boleh marah.

Tetapi setelah kemarahan itu reda, kita tetap harus berani bertanya:

“Apa yang sebenarnya sedang dikatakan kepada kita?”

Sebab demokrasi yang hanya nyaman ketika semua orang setuju bukanlah demokrasi yang sehat.

Itu hanya ruang gema yang diberi nama demokrasi.

Dan kalau kritik selalu dianggap musuh, jangan heran jika suatu hari orang-orang berhenti berbicara. Bukan karena semuanya sudah baik. Tetapi karena mereka sudah belajar bahwa kebenaran terkadang lebih berbahaya daripada kebohongan yang menyenangkan.


#sosialpolitik #sosial-politik

#sosialpolitik#sosial-politik

Balasan (0)