Nusantara Mahayatra
Sosial & Politik

Kenapa Kita Justru Mendekati Sesuatu yang Sedang Berbahaya?

H i MH i MSider - 22 postingansekitar 3 jam yang laluDiperbarui sekitar 3 jam yang lalu

Gunung sedang erupsi. Ombak besar datang. Kebakaran membesar. Tapi anehnya, selalu ada manusia yang justru bergerak mendekat. Kenapa?

Salah satu jawabannya adalah sensasi. Situasi berbahaya menciptakan adrenalin dan rasa penasaran. Bagi sebagian orang, bahaya bukan hanya sesuatu yang harus dihindari, tetapi pengalaman yang ingin dirasakan langsung. Masalahnya menjadi lebih rumit ketika bahaya berubah menjadi konten.

Di era media sosial, semakin ekstrem sebuah kejadian, semakin besar potensinya menarik perhatian. Foto dari lokasi bencana, video erupsi dari jarak dekat, atau rekaman detik-detik kepanikan bisa mendapatkan ribuan bahkan jutaan penonton. Tanpa sadar, bahaya memiliki nilai baru: nilai tontonan.

Bagi jurnalis, mendekati risiko memiliki konteks berbeda. Mereka berada di lapangan untuk mendapatkan informasi dan gambar yang dibutuhkan publik. Namun, tuntutan untuk menghasilkan berita eksklusif juga dapat menciptakan tekanan, seberapa dekat harus berada di lokasi agar mendapatkan gambar yang benar-benar kuat?. Di sinilah muncul fenomena risk perception.

Manusia tidak selalu menilai risiko berdasarkan tingkat bahayanya secara objektif. Kita bisa mengetahui sesuatu berbahaya, tetapi tetap merasa mampu mengendalikannya. Ketika berkali-kali melihat orang lain selamat dari situasi ekstrem, otak bisa menganggap risiko tersebut lebih kecil daripada kenyataannya. Dan ironisnya, semakin sering kita melihat bahaya melalui layar, semakin terbiasa pula kita terhadapnya.

0Balasan
2DilihatH i M

Balasan (0)