Ketika Konten Lingkungan Kehilangan Jangkauan, Seberapa Transparan Algoritma Media Sosial?
Media sosial kini menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengetahui persoalan yang mungkin luput dari perhatian. Namun, apa jadinya ketika konten yang membahas persoalan lingkungan justru mengalami penurunan jangkauan?
Isu ini mencuat setelah sejumlah figur publik mengaku mengalami penurunan jumlah penonton setelah membagikan konten mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tasya Farasya, misalnya, menyebut jumlah penonton Instagram Stories miliknya yang biasanya sekitar satu juta turun menjadi sekitar 85 ribu. Penyanyi Andien juga mengeluhkan penurunan jangkauan setelah berulang kali membagikan informasi tentang karhutla. Keduanya kemudian menduga akun mereka mengalami shadowban. Namun, dugaan tersebut belum terbukti sebagai akibat dari pembatasan konten. Sumber: detikINET
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan tidak pernah menginstruksikan platform digital untuk membatasi atau menurunkan konten terkait karhutla. Pemerintah juga menegaskan bahwa dugaan penurunan jangkauan perlu ditelusuri berdasarkan fakta dan dikonfirmasi kepada platform terkait. Sumber: detikINET
Meski begitu, persoalannya tidak berhenti pada terbukti atau tidaknya dugaan shadowban. Ada pertanyaan yang lebih luas: seberapa jauh masyarakat memahami cara algoritma menentukan konten yang muncul di hadapan mereka?
Jumlah penonton dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola interaksi pengguna hingga sistem rekomendasi platform. Karena itu, penurunan tayangan tidak otomatis membuktikan adanya pembatasan yang disengaja. Namun, ketika penyebabnya tidak jelas, wajar jika pengguna mempertanyakan bagaimana sistem tersebut bekerja.
Terlebih, karhutla bukan sekadar topik yang ramai di media sosial. Kebakaran hutan dan lahan berkaitan dengan kualitas udara, kesehatan masyarakat, kerusakan ekosistem, serta kehidupan warga yang terdampak. Informasi mengenai persoalan ini membutuhkan perhatian publik, bukan hanya ketika sedang viral.
Platform digital tentu memiliki hak untuk menerapkan aturan komunitas dan mengelola distribusi konten. Namun, transparansi juga penting agar pengguna dapat memahami alasan suatu unggahan kehilangan jangkauan, terutama ketika muncul dugaan pembatasan terhadap topik tertentu.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang membenarkan setiap dugaan yang beredar, melainkan memastikan bahwa pertanyaan publik dijawab dengan data yang dapat diperiksa. Sebab, ketika algoritma menjadi salah satu pintu utama informasi, transparansi bukan lagi sekadar urusan teknis platform.
Jika sebuah isu penting semakin jarang muncul di linimasa, apakah masyarakat masih memiliki kesempatan yang sama untuk mengetahuinya?


