Nusantara Mahayatra
Sosial & Politik

Teddy, Pulpen, dan Etika di Meja Diplomasi

intan rasmitaintan rasmitaSider - 15 postingansekitar 1 jam yang laluDiperbarui sekitar 1 jam yang lalu

Teddy Indra Wijaya mungkin hanya memainkan sebuah pulpen. Tetapi ketika gerakan itu dilakukan dalam forum resmi bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, persoalannya tidak lagi sekadar soal sebuah pulpen.

Dalam pertemuan tingkat kepala negara, setiap orang yang duduk di meja tersebut membawa representasi Indonesia. Karena itu, sikap tubuh, perhatian, ekspresi, dan perilaku menjadi bagian dari bagaimana sebuah delegasi negara terlihat di hadapan negara lain.

Secara hukum, memainkan pulpen tentu bukan sebuah pelanggaran diplomatik. Konvensi Wina 1961 tidak mengatur bahwa seorang pejabat dilarang memegang atau memainkan pulpen. Namun diplomasi tidak berhenti pada apa yang secara hukum dilarang tapi ada etika, kepantasan, dan protokol.

Indonesia datang ke forum tersebut membawa kepentingan nasional dan membangun hubungan dengan negara lain. Maka, menunjukkan perhatian ketika lawan bicara sedang menyampaikan sesuatu seharusnya menjadi standar paling dasar.

Pejabat yang hadir dalam ruang diplomasi seharusnya memahami bahwa dirinya tidak sedang duduk sebagai individu biasa. Ia membawa simbol institusi dan negara. Gerakan yang mungkin dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari dapat terlihat berbeda ketika dilakukan dalam forum kenegaraan.

Balasan (0)