Nusantara Mahayatra
Sosial & Politik

WHOOSH. Aset Strategis atau Beban Negara?

intan rasmitaintan rasmitaSider - 18 postingansekitar 3 jam yang laluDiperbarui sekitar 2 jam yang lalu

Kereta cepat Whoosh dibangun dengan satu gagasan besar, memangkas jarak Jakarta Bandung sekaligus membawa Indonesia masuk ke era transportasi cepat. Namun setelah beroperasi sejak 2023, tantangannya bukan lagi membangun rel dan stasiun. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana membayar dan mengelola aset yang nilainya sangat besar itu dalam jangka panjang.

Nilai proyek Whoosh mencapai sekitar US$7,3 miliar, atau lebih dari Rp100 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar US$4,5 miliar merupakan pinjaman dari China Development Bank. Setelah restrukturisasi, masa pembayaran diperpanjang hingga 80 tahun, dengan cicilan diperkirakan sekitar Rp1 triliun per tahun.

Mulai pertengahan September 2026, pemerintah berencana mengambil alih 60 persen kepemilikan Indonesia di proyek tersebut melalui Kementerian Keuangan. Pemerintah menyatakan dana untuk memenuhi kewajiban utang sudah tersedia melalui perusahaan negara di bawah Kemenkeu, sehingga tidak perlu mencari investor baru.

Di sisi lain, angka keuangan konsorsium Indonesia menunjukkan tekanan yang tidak kecil. Pada semester I 2026, PSBI mencatat rugi sekitar Rp5,13 triliun, dengan liabilitas Rp21,54 triliun dan aset Rp21,52 triliun.

Di sinilah posisi Whoosh menjadi menarik. Sebagai infrastruktur, ia adalah aset strategis yang bisa membuka pola baru mobilitas dan ekonomi. Tetapi sebagai proyek yang membutuhkan pembiayaan jangka sangat panjang, ia juga membawa kewajiban yang akhirnya harus dikelola negara.


Menurut prespektive teman-teman gimana?😁😁

0Balasan
2Dilihatintan rasmita

Balasan (0)