numa
Myflipbookpro
Games

Industri Game Indonesia Bernilai Besar, tetapi Mengapa Developer Lokal Sulit Menguasai Pasarnya Sendiri?

Fania MeyandraFania MeyandraSider - 40 postingansekitar 3 jam yang laluDiperbarui sekitar 2 jam yang lalu

Pasar game Indonesia terus berkembang, tetapi pertumbuhan tersebut belum otomatis membuat developer lokal menjadi pemain utama. Nilai pasar yang besar justru memperlihatkan paradoks: jutaan pemain menghabiskan uang untuk bermain, sementara sebagian besar pendapatan industri masih mengalir ke pemilik game dan perusahaan asing.

Pada Juni 2026, Kementerian Ekonomi Kreatif menyebut nilai pasar game Indonesia telah melampaui US$2 miliar atau sekitar Rp32,6 triliun per tahun. Namun, angka itu mencakup seluruh game yang beredar di Indonesia, bukan hanya produk buatan lokal. Kontribusi pengembang domestik masih menjadi pekerjaan besar yang belum terselesaikan. [1]

Pasar besar tidak selalu berarti industri lokal kuat.

White paper The State of Indonesia’s Game Industry 2025 dari Agate memperkirakan game asing menguasai 99,5% pendapatan pasar domestik, sedangkan game lokal hanya memperoleh 0,5%. Angka ini menggunakan ukuran dan periode laporan tersebut sehingga perlu dibedakan dari estimasi lain yang memakai indikator berbeda. [2]

Persoalannya bukan semata-mata kualitas permainan. Game asing umumnya hadir dengan dukungan modal, pemasaran, distribusi, serta pembaruan konten berkelanjutan. Developer lokal harus bersaing mendapatkan perhatian pemain, mempertahankan komunitas, dan membiayai pengembangan tanpa jaminan produk akan berhasil.

Hambatan berikutnya adalah pendanaan. The Jakarta Post pada Agustus 2026 melaporkan bahwa pengembang lokal masih menghadapi keterbatasan akses modal dan bergantung pada publisher luar negeri untuk pembiayaan maupun pemasaran. Aset intelektual atau intellectual property (IP) game juga belum mudah digunakan sebagai jaminan pembiayaan perbankan. [3]

Ketergantungan pada publisher memunculkan persoalan lain: siapa yang menguasai IP?

Publisher dapat membuka jalan menuju pasar global, tetapi kesepakatan pendanaan dan distribusi perlu ditelaah secara cermat. Kepemilikan IP, pembagian royalti, hak sekuel, dan kendali atas karakter menentukan siapa yang menikmati nilai ekonomi dalam jangka panjang.

Padahal, keberhasilan game Indonesia seperti Coffee Talk, A Space for the Unbound, dan Coral Island menunjukkan bahwa karya lokal memiliki peluang menjangkau pemain internasional. Tantangannya adalah membangun lebih banyak studio yang mampu menghasilkan produk berkelanjutan, bukan hanya satu judul sukses.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional. Namun, kebijakan perlu diterjemahkan menjadi akses pendanaan, peningkatan talenta, distribusi, dan perlindungan IP yang benar-benar berjalan. [4]

Pertanyaan besarnya bukan apakah Indonesia memiliki pasar game yang besar, melainkan apakah pasar itu mampu melahirkan industri nasional yang kuat. Tanpa pembiayaan berkelanjutan dan kepemilikan IP yang sehat, Indonesia berisiko terus menjadi pasar besar bagi game asing, sementara developer lokal berjuang merebut ruang di rumah sendiri.

Catatan kaki dan referensi

[1] Bloomberg Technoz, “Ekraf: Industri Game RI Tembus Rp32 T, Porsi Game Lokal Baru 2,5%,” 26 Juni 2026. Data nilai pasar dan pernyataan Kementerian Ekonomi Kreatif.

[2] Agate, The State of Indonesia’s Game Industry White Paper 2025, September 2025, bagian Executive Summary. Estimasi distribusi pendapatan game lokal dan asing.

[3] The Jakarta Post, “Funding hurdles cloud local game developers despite Nintendo’s entry,” 21 Agustus 2026. Pembahasan pendanaan, publisher asing, dan aset IP sebagai jaminan.

[4] Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional.

01
Fania Meyandra

Balasan (0)

Topik Terkait