Gletser Puncak Jaya Papua Menyusut 97 Persen, Apa yang Terjadi?
Puncak Carstensz di Papua sedang kehilangan sesuatu yang selama berabad-abad menjadi ciri khas Pegunungan Tengah gletser tropis. Data ilmiah terbaru menunjukkan perubahan yang sangat drastis. Penelitian Francine Hematang dan 13 peneliti dari Universitas Papua serta sejumlah institusi lain, yang diterbitkan di Cold Regions Science and Technology pada 2026, menggunakan citra satelit Landsat periode 1980–2024. Hasilnya, luas gletser Puncak Jaya menyusut sekitar 97 persen atau 7,28 km². Dari enam gletser yang diteliti, empat sudah menghilang. Yang tersisa hanya Carstensz dan East Northwall. Pada 2024 luas Carstensz tinggal sekitar 0,050 km².
Penelitian lain oleh David Ibel, Thomas Mölg, dan Christian Sommer menggunakan citra PlanetScope dan Pléiades serta peta historis. Mereka menemukan luas seluruh gletser Puncak Jaya turun lebih dari 99 persen sejak 1850, dari sekitar 19,3 km² menjadi hanya 0,165 km² pada 2024. Jika laju penyusutan berlanjut, gletser diperkirakan hilang sekitar 2030.
Penyebab utama menyusutnya gletser Carstensz berkaitan dengan pemanasan regional akibat perubahan iklim, yang kemudian diperkuat oleh perubahan pola hujan dan fenomena El Niño. BMKG mencatat bahwa sejak 1997 ketinggian garis beku 0°C telah berada di atas ketinggian puncak es Puncak Jaya, sehingga presipitasi semakin sering jatuh sebagai hujan, bukan salju. Kondisi ini mengurangi penambahan massa es sekaligus mempercepat pencairan. Saat luas es mengecil, batuan gelap di sekitarnya semakin terbuka dan menyerap lebih banyak radiasi matahari, menciptakan umpan balik yang mempercepat pelelehan.

Dampaknya bukan hanya hilangnya pemandangan bersalju. Marie Sabacka, ekolog gletser dari Charles University yang meneliti Carstensz pada Maret 2026 bersama Roberto Ambrosini dari University of Milan, menemukan bahwa sisa es masih menjadi habitat mikroorganisme dan organisme mikroskopis yang unik. Ketika es hilang, ekosistem yang belum banyak dipahami itu ikut terancam.
Bagi masyarakat adat, persoalannya jauh lebih dalam. Elfrida Natkime, perempuan Amungme dan pemilik hak ulayat di kawasan Mimika, menyebut Nemangkawi bukan sekadar gunung. Ia menggambarkannya sebagai Hai Jogon, ruang yang memiliki kedudukan spiritual dan berkaitan dengan leluhur. Bagi masyarakat Amungme dan Moni, perubahan fisik gunung berarti perubahan pada ruang budaya mereka.
Gletser Carstensz akhirnya menjadi semacam “termometer” perubahan iklim. Para peneliti mengaitkan penyusutannya terutama dengan pemanasan iklim, perubahan presipitasi, radiasi, angin, serta fenomena El Niño. Cartensz mungkin berada jauh dari pusat emisi global, tetapi perubahan iklim global meninggalkan jejak yang sangat nyata di puncaknya.
#cartenz #papua #puncakjayawijaya






