Asal Usul Manusia dalam Mytology Hinduism

Dalam tradisi Hindu berbahasa Sanskrit, kisah asal-usul manusia tidak sesederhana “satu laki-laki dan satu perempuan lalu selesai”. Kosmologi Hindu mengenal banyak siklus penciptaan, tetapi dalam tradisi Purana, Svāyambhuva Manu ditempatkan sebagai Manu pertama dan berpasangan dengan Śatarūpā. Vishnu Purana menggambarkan Brahma menciptakan Svāyambhuva Manu dan Śatarūpā, lalu dari keturunan merekalah kehidupan manusia berkembang. Tradisi Sanskrit bahkan memakai kata manuṣya dan mānava untuk manusia, kata-kata yang secara tradisional dihubungkan dengan Manu. Sementara itu, kisah Manu yang lebih tua muncul dalam Śatapatha Brāhmaṇa: Manu sedang mencuci tangan ketika seekor ikan kecil meminta perlindungan dan memperingatkan datangnya banjir besar. Manu kemudian membuat kapal, selamat dari bencana tersebut, dan setelah banjir surut ia menjadi figur yang melanjutkan kembali kehidupan manusia. Jadi Manu bukan sekadar “Adam versi Hindu”. Ia adalah figur leluhur manusia dalam kosmologi yang melihat kehidupan sebagai siklus penciptaan, kehancuran, dan penciptaan kembali (Eggeling, 1882; Wilson, 1840). Śatapatha Brāhmaṇa 1.8.1: kisah banjir Manu Vishnu Purana Book I Chapter VII: Svāyambhuva Manu dan Śatarūpā
Yang membuat kisah ini semakin mengganggu rasa ingin tahu adalah satu kata sederhana: Manu. Dalam Sanskrit ditemukan bentuk manuḥ, yang berarti “manusia”, sementara kajian linguistik Indo-Eropa merekonstruksi bentuk *manu-s / *monu-s dengan arti “man, human being”. Dari keluarga etimologis yang sama muncul bentuk-bentuk yang terdengar luar biasa akrab: Old English monn/man, Middle English man, German Mann, Gothic manna, Dutch man, Danish mand, hingga Sanskrit manuḥ. Linguistics Research Center, University of Texas at Austin, bahkan menempatkan semuanya dalam satu kelompok refleks Indo-Eropa manu-s/monu-s. Artinya, kemiripan Manu, man, Mann, dan manna bukan sekadar permainan bunyi. Tetapi jangan buru-buru membuat teori bahwa bahasa Inggris mengambil kata man dari Sanskrit, karena bukti linguistik tidak mengatakan itu. Bahasa Inggris man berkembang melalui rumpun Germanik, sedangkan Sanskrit manuḥ berasal dari cabang Indo-Arya; keduanya lebih tepat disebut kerabat jauh yang mewarisi unsur bahasa dari leluhur Proto-Indo-Eropa yang lebih tua (Watkins, 2000; Linguistics Research Center, University of Texas at Austin). University of Texas Indo-European Lexicon: manu-s, monu-s, man, Mann, manna dan manuḥ Etymonline: sejarah kata man dan akar Proto-Indo-Eropa *man-
Tetapi tradisi Hindu bahkan tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa manusia pertama. Jauh di dalam Ṛgveda 10.90, terdapat figur Puruṣa, “manusia kosmik”, yang tubuhnya digambarkan menjadi struktur alam semesta. Ia bukan manusia pertama dalam arti biologis, melainkan gambaran bahwa manusia, masyarakat, dan kosmos berada dalam satu kesatuan yang sama. Ṛgveda sendiri merupakan teks Sanskrit tertua yang masih bertahan dan berasal dari lapisan sangat awal tradisi Veda (Jamison & Brereton, 2020). Jika kisah Manu berbicara tentang manusia sebagai leluhur sebuah peradaban, Purusha membawa pertanyaan itu ke wilayah yang jauh lebih filosofis: bagaimana jika manusia bukan pusat alam semesta, tetapi hanya bagian kecil dari tubuh kosmos itu sendiri? Dan di sinilah hubungan antara Manu dan kata man menjadi menarik tanpa perlu dipaksa menjadi mistisisme murahan. Sebuah kata yang kita ucapkan setiap hari ternyata membawa jejak migrasi, kebudayaan, dan bahasa manusia selama ribuan tahun. Kita kemudian sibuk membangun bangsa, ras, agama, dan identitas untuk menjelaskan betapa berbedanya kita, padahal bahasa justru menyimpan bukti bahwa sebagian akar sejarah kita saling terhubung. Ironis memang: manusia sangat rajin membuat batas, sementara kata yang dipakainya untuk menyebut dirinya sendiri justru menyimpan sejarah tentang keterhubungan (Jamison & Brereton, 2020; Watkins, 2000). Oxford Academic: Jamison & Brereton, The Rigveda Oxford Academic: Ṛgveda X.90 Puruṣa The American Heritage Dictionary of Indo-European Roots, Calvert Watkins
Pustaka dan sumber literasi
Linguistics Research Center, University of Texas at Austin.


