Asal-Usul Manusia Menurut Yahudi, Kristen, Islam, dan Isra’iliyyat: Benarkah Semuanya Bermula dari Adam?

Kalau kita tarik cerita asal-usul manusia dalam tradisi Abrahamik, semuanya kurang lebih balik ke satu nama: Adam. Dalam tradisi Yahudi yang tertulis di Kitab Kejadian, Adam diceritakan dibentuk Tuhan dari tanah. Bahkan kata Adam punya hubungan dengan kata Ibrani adamah, yang berarti tanah. Jadi dari awal manusia memang digambarkan sebagai makhluk yang berasal dari bumi, bukan makhluk yang turun dengan mode premium dari langit. Setelah itu Adam diberi kehidupan dan ditempatkan di Taman Eden. Lalu hadir pasangan Adam, yang kemudian dikenal sebagai Hawa atau Eve. Hidup mereka awalnya simpel: tinggal di taman, semua tersedia, cuma ada satu aturan, jangan makan dari pohon tertentu. Masalahnya, manusia memang punya hubungan yang agak rumit dengan kata “jangan”. Setelah tergoda ular, aturan itu dilanggar, dan sejak saat itu hidup mereka berubah total. Mereka keluar dari Eden dan mulai menghadapi kerja keras, rasa sakit, konflik, dan kematian.
Cerita Adam ini kemudian berkembang berbeda dalam Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam tradisi Kristen, pelanggaran Adam dan Hawa kemudian sangat berkaitan dengan gagasan kejatuhan manusia, bahkan dalam banyak aliran berkembang menjadi konsep dosa asal. Sementara dalam Islam, ceritanya punya arah yang berbeda. Adam tetap melakukan kesalahan, tetapi dia kemudian bertobat dan diampuni. Dosanya tidak diwariskan ke anak-cucunya. Jadi bayi lahir bukan sambil membawa tagihan dosa nenek moyang. Al-Qur'an juga tidak terlalu sibuk menjelaskan detail-detail kecil tentang kehidupan Adam. Tidak ada penjelasan panjang soal buah apa yang dimakan, di mana persis lokasi Eden, atau bagaimana detail kehidupan semua anak Adam. Fokusnya lebih ke pesan moral: manusia diberi pilihan, bisa salah, bisa tergoda, tapi juga bisa sadar dan kembali.
Nah, bagian yang sering bikin orang salah paham muncul ketika cerita tentang Adam berkembang makin panjang dalam literatur keagamaan. Dalam tradisi Islam, ada istilah Isra’iliyyat, yaitu cerita-cerita dari tradisi Yahudi dan Kristen yang kemudian ikut masuk ke sebagian tafsir dan kisah keagamaan Islam. Cerita ini sering dipakai untuk mengisi detail yang tidak dijelaskan Al-Qur'an. Karena itu, jangan heran kalau ada cerita tentang nama anak-anak Adam, jenis buah terlarang, lokasi turunnya Adam, atau detail kehidupan keluarganya yang populer di masyarakat, padahal tidak semuanya berasal langsung dari Al-Qur'an atau hadis sahih. Jadi, kalau dibaca lebih dalam, kisah Adam sebenarnya bukan cuma soal “siapa manusia pertama”, tapi soal sesuatu yang lebih dekat dengan kita sekarang: manusia lahir dengan kesadaran, punya kebebasan memilih, bisa salah, lalu harus hidup dengan konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Lalu muncul pertanyaan yang jauh lebih menarik: jadi, Adam itu benar-benar manusia pertama secara biologis, atau Adam adalah metafora tentang lahirnya kesadaran manusia? Di titik ini, teologi, filsafat, dan sains mulai masuk ke ruang yang sama, lalu seperti biasa, manusia mulai ribut soal siapa yang paling benar. Bisa jadi Adam dibaca sebagai sosok historis, bisa juga sebagai simbol tentang manusia yang pertama kali menyadari moral, pilihan, larangan, rasa bersalah, dan tanggung jawab. Pertanyaannya bukan cuma “siapa Adam?”, tetapi juga apa yang sebenarnya sedang diceritakan oleh kisah Adam tentang diri kita sendiri? Mari kita berdiskusi...!




