numa
Myflipbookpro
Seni & Kreatif

Konser Ye Putar Ekonomi Jakarta hingga Rp600 Miliar

MMentari SenjaSider - 35 postingansekitar 4 jam yang laluDiperbarui sekitar 4 jam yang lalu

Konser musik sering kali dipandang sebagai hiburan bagi para penggemar. Namun, ketika seorang musisi internasional tampil di sebuah kota, dampaknya bisa meluas jauh melampaui panggung dan arena pertunjukan.

Hal itu terlihat dari konser Ye Live in Jakarta 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada 24 Oktober 2026. Penampilan musisi asal Amerika Serikat yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West tersebut diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp600 miliar. Angka ini disampaikan Kementerian Pariwisata dengan mengacu pada data promotor Raw Vision Collective dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta. Angka tersebut tentu menarik perhatian. Sebuah konser yang berlangsung dalam satu malam mampu menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Pertanyaannya, bagaimana sebuah pertunjukan musik bisa menghasilkan dampak sebesar itu?

Bukan Hanya Soal Tiket Konser

Menurut data penyelenggara yang disampaikan Kementerian Pariwisata, konser Ye dihadiri sekitar 70.000 penonton. Dari jumlah tersebut, sekitar 25.000 merupakan wisatawan mancanegara yang datang dari 80 negara. Kehadiran puluhan ribu pengunjung dari luar negeri menciptakan kebutuhan yang tidak berhenti pada pembelian tiket. Mereka membutuhkan hotel, transportasi, makanan, minuman, hingga berbagai layanan pendukung selama berada di Jakarta.

Dampaknya turut dirasakan sektor perhotelan. Tingkat okupansi hotel di sekitar lokasi konser dilaporkan mendekati 100 persen. Penyelenggaraan acara ini juga melibatkan sekitar 5.000 pekerja, mulai dari tenaga produksi dan operasional panggung hingga berbagai tenaga pendukung. Dengan kata lain, konser internasional bukan hanya produk industri hiburan. Ia juga dapat menjadi pemicu aktivitas ekonomi bagi bisnis yang bahkan tidak terlibat langsung dalam penyelenggaraan pertunjukan.

Hotel menerima tamu, restoran melayani pengunjung, pengemudi transportasi mendapat penumpang, dan pedagang memperoleh peluang untuk meningkatkan penjualan. Ketika pengunjung datang dari luar negeri, potensi belanja mereka juga dapat memperluas manfaat ekonomi di luar pasar domestik.

Ketika Penggemar Musik Menjadi Wisatawan

Fenomena tersebut memperlihatkan potensi music tourism atau pariwisata berbasis musik. Orang tidak lagi bepergian semata-mata untuk mengunjungi suatu destinasi, tetapi juga untuk menghadiri pengalaman tertentu yang tidak tersedia di tempat asalnya.

Dalam kasus konser Ye, kehadiran puluhan ribu wisatawan mancanegara menunjukkan bahwa sebuah pertunjukan dapat menjadi alasan orang datang ke Jakarta. Konser kemudian berfungsi sebagai pintu masuk untuk membelanjakan uang di sektor lain, termasuk penginapan, kuliner, transportasi, dan pusat perbelanjaan.

Pola ini memberi peluang bagi Jakarta untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi acara internasional. Kota yang mampu menghadirkan musisi besar secara konsisten berpotensi menarik pengunjung, memperpanjang masa tinggal wisatawan, dan meningkatkan aktivitas usaha di sekitarnya.

Namun, potensi tersebut tidak muncul hanya karena nama besar seorang musisi. Keberhasilan acara juga bergantung pada kualitas penyelenggaraan, keamanan, akses transportasi, ketersediaan akomodasi, dan koordinasi berbagai pihak.

Rp600 Miliar, tetapi Bagaimana Cara Menghitungnya?

Di balik angka yang mengesankan, ada hal yang perlu diperhatikan: nilai perputaran ekonomi tidak otomatis sama dengan keuntungan bersih yang diterima Jakarta.

Kementerian Pariwisata menyebut estimasi hingga Rp600 miliar yang mencakup penjualan tiket, kuliner, merchandise, dan transaksi UMKM. Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut dampak ekonomi konser tersebut sekitar Rp450 miliar. Menurut penjelasannya, penjualan tiket saja diperkirakan memberikan dampak ekonomi sebesar Rp328 miliar. Perbedaan angka tersebut tidak serta-merta berarti salah satu perhitungan keliru. Keduanya dapat menggunakan cakupan, sumber data, atau metode estimasi yang berbeda. Namun, informasi yang tersedia belum cukup untuk menjelaskan secara terperinci bagaimana setiap komponen dihitung dan apakah terdapat aktivitas ekonomi yang tercatat lebih dari sekali.

Di sinilah transparansi menjadi penting. Publik perlu mengetahui apakah angka tersebut mencerminkan keseluruhan transaksi yang terjadi, tambahan belanja akibat konser, atau estimasi dampak ekonomi berdasarkan sejumlah indikator.

Perputaran uang yang besar juga tidak sama dengan keuntungan bersih. Penjualan tiket, misalnya, masih berkaitan dengan biaya produksi, sewa tempat, honorarium, logistik, dan berbagai pengeluaran lainnya. Demikian pula, peningkatan omzet hotel atau restoran tidak seluruhnya menjadi laba usaha.

Karena itu, angka Rp600 miliar sebaiknya dipahami sebagai estimasi aktivitas ekonomi yang dipicu oleh acara, bukan uang yang seluruhnya masuk ke kas pemerintah atau menjadi keuntungan masyarakat Jakarta.

Siapa yang Paling Merasakan Manfaatnya?

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana manfaat ekonomi tersebut tersebar.

Hotel besar, pusat perbelanjaan, perusahaan transportasi, promotor, dan penyedia jasa produksi memiliki peluang memperoleh pendapatan dari acara berskala internasional. Namun, keberhasilan ekonomi sebuah konser juga perlu dilihat dari sejauh mana pelaku usaha kecil dapat mengambil bagian.

Pedagang makanan, usaha lokal, penyedia jasa kreatif, hingga pekerja lepas bisa mendapatkan kesempatan dari meningkatnya aktivitas pengunjung. Meski demikian, besarnya dampak yang diterima setiap kelompok tidak dapat disimpulkan hanya dari total perputaran ekonomi.

Penyelenggara dan pemerintah dapat memperluas manfaat tersebut melalui keterlibatan pemasok lokal, ruang bagi UMKM, perekrutan tenaga kerja setempat, serta promosi destinasi wisata yang mendorong pengunjung tinggal lebih lama.

Dengan pendekatan seperti itu, konser internasional tidak hanya menjadi peristiwa besar yang ramai selama satu malam. Ia juga dapat menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di sekitarnya.

Jakarta Perlu Lebih dari Sekadar Nama Besar

Konser Ye menunjukkan bahwa Jakarta memiliki potensi untuk menarik pertunjukan berskala global sekaligus menggerakkan berbagai sektor usaha. Namun, keberhasilan satu acara belum cukup untuk membuktikan bahwa ekosistem wisata musik telah berkembang secara berkelanjutan.

Tantangan berikutnya adalah menghadirkan acara berkualitas secara konsisten, memperbaiki akses dan infrastruktur pendukung, serta memastikan manfaatnya tidak hanya terkonsentrasi pada penyelenggara dan bisnis besar.

Pemerintah juga perlu mendorong pengukuran dampak yang lebih terbuka agar keberhasilan sebuah acara dapat dinilai bukan hanya berdasarkan jumlah penonton atau besarnya angka transaksi, tetapi juga dari kualitas lapangan kerja, keterlibatan UMKM, lama tinggal wisatawan, dan manfaat ekonomi yang benar-benar bertahan setelah acara selesai.

Pada akhirnya, konser Ye di Jakarta memperlihatkan bahwa musik memiliki kekuatan untuk menghubungkan industri hiburan dengan pariwisata dan ekonomi perkotaan.

Namun, keberhasilan sebuah konser seharusnya tidak berhenti pada seberapa besar uang yang berputar, melainkan juga pada seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.


00
M

Balasan (0)

Topik Terkait