numa
Myflipbookpro
Seni & Kreatif

Pisang Dilakban Laku Rp98 Miliar: Yang Kamu Bayar Itu Pisangnya atau Bingkainya? Bedah Seni Kontemporer ala Derrida

WiyanWiyanSider - 45 postingansekitar 3 jam yang laluDiperbarui sekitar 3 jam yang lalu

Tahun 2024, sebuah pisang yang ditempel lakban ke dinding terjual sekitar US$6,2 juta, kira-kira Rp98 miliar, di balai lelang Sotheby's New York. Judulnya Comedian, karya Maurizio Cattelan. Pembelinya lalu memakan pisang itu. Reaksi publik gampang ditebak: "Ini seni? Anak TK juga bisa." Padahal kalau dibaca dengan kacamata Jacques Derrida (1930–2004), filsuf Prancis kelahiran Aljazair yang dikenal lewat dekonstruksi, pertanyaan "ini seni atau bukan?" justru salah alamat. Faktanya, yang berpindah tangan di lelang itu bukan pisang. Pembeli menerima sertifikat keaslian beserta instruksi untuk mengganti pisangnya kalau busuk. Pisangnya bisa diganti kapan saja, sertifikatnya tidak. Jadi yang dibayar Rp98 miliar itu bukan buahnya, melainkan bingkainya.

matematika-bingkai.webp

Derrida punya istilah untuk ini: parergon. Dalam La Vérité en peinture (1978), ia membongkar upaya Immanuel Kant memisahkan ergon (karya itu sendiri) dari parergon (pelengkap di sekelilingnya: bingkai, alas patung, label dinding). Kant ingin garisnya tegas, mana inti dan mana hiasan. Derrida menunjukkan garis itu tidak pernah stabil: bingkai tidak sepenuhnya di luar karya, tapi juga tidak di dalamnya, dan justru bingkailah yang menentukan apa yang kita anggap sebagai karya. Seni kontemporer tinggal menarik kesimpulan itu sampai ujung. Pisang di pasar dan pisang di dinding galeri secara fisik sama persis; yang berbeda adalah rangkaian konteksnya: galeri, kurator, sertifikat, rumah lelang, sampai meme yang membuatnya viral. Di sinilah konsep différance bekerja: makna tidak pernah hadir utuh di dalam benda, ia selalu ditunda dan dibentuk oleh tanda-tanda lain di sekitarnya. Comedian sulit dibaca tanpa urinoir Duchamp tahun 1917, dan urinoir itu sulit dibaca tanpa institusi museum yang ia sindir. Maknanya tidak ada di pisang. Maknanya ada di jaringan.

parergon.webp

Pelajaran untuk kita, terutama yang berkarya, mengurasi, atau mengelola seni: bingkai bukan bungkus, bingkai adalah bagian dari karya. Hitung saja: pisang Rp5.000 menjadi Rp98 miliar, selisih hampir 20 juta kali lipat, dan seluruh selisih itu lahir dari cara benda itu dibingkai, dicatat, dan diedarkan. Dalam Mal d'archive (1995), Derrida mengingatkan bahwa arsip tidak sekadar menyimpan peristiwa, tapi ikut memproduksinya. Artinya, label pameran, katalog, portofolio, sampai flipbook digital yang kamu sebar lewat platform seperti MyFlipBook bukan urusan administrasi belakangan. Itu parergon-mu, tempat nilai karyamu dinegosiasikan. Pertanyaan untuk diskusi: kalau makna selalu ditentukan bingkai, apakah "karya itu sendiri" pernah benar-benar ada? Dan siapa seniman Indonesia yang menurutmu paling cerdas memainkan bingkainya?

sous-rature.webp

#senikontemporer #derrida #dekonstruksi #parergon #filsafatseni #comedian

#senikontemporer #derrida #dekonstruksi #parergon #filsafatseni #comedian

#senikontemporer#derrida#dekonstruksi#parergon#filsafatseni#comedian
03
Wiyan

Balasan (0)

Topik Terkait