Mengapa Gen Z Jatuh Cinta pada Musik yang Lebih Tua dari Mereka?
Ada sesuatu yang menarik dari cara Gen Z mendengarkan musik. Di tengah begitu banyak lagu baru yang muncul setiap hari, tidak sedikit anak muda justru kembali mendengarkan lagu dari era 1990-an hingga 2000-an.
Lagu yang bahkan mungkin dirilis sebelum mereka lahir kini kembali masuk playlist, muncul di TikTok, digunakan dalam video, hingga ditemukan kembali melalui Spotify dan YouTube.
Pertanyaannya: mengapa generasi yang tidak mengalami era tersebut justru tertarik pada musik dari masa lalu?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana nostalgia.
Secara ilmiah, musik memang memiliki hubungan kuat dengan memori dan emosi. Penelitian Callum Davies dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Marketing Letters menemukan bahwa preferensi seseorang terhadap musik populer cenderung kuat pada lagu-lagu yang muncul ketika mereka berada di masa remaja akhir, dengan titik puncak penelitian tersebut berada di sekitar usia 17 tahun.
Namun, fenomena Gen Z sedikit berbeda.
Mereka bisa menyukai musik yang bukan bagian dari masa remaja mereka sendiri.
Penelitian tentang kebangkitan Japanese City Pop di kalangan Gen Z Amerika Serikat menunjukkan bahwa media sosial dan platform streaming berperan besar dalam memperkenalkan musik lama kepada pendengar muda. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai “automated nostalgia” sebuah bentuk nostalgia yang muncul bukan karena pengalaman pribadi terhadap masa lalu, tetapi karena teknologi membantu seseorang menemukan dan memberi makna baru pada budaya masa lalu.
Dengan kata lain, Gen Z tidak harus pernah hidup di tahun 1990an untuk merasa dekat dengan musiknya.
Algoritma mempertemukan mereka dengan lagu lama. Film dan serial menghidupkannya kembali. TikTok membuat potongan lagu menjadi tren. Setelah itu, pendengar sendirilah yang membangun hubungan emosional dengan musik tersebut.
Dan ada alasan lain.
Kajian Constantine Sedikides, Joost Leunissen, dan Tim Wildschut menunjukkan bahwa nostalgia yang dipicu musik dapat memperkuat rasa keterhubungan sosial, kesinambungan diri, optimisme, dan makna hidup. Musik bukan hanya sesuatu yang didengar, tetapi juga dapat menjadi jembatan menuju perasaan dan hubungan tertentu.
Mungkin karena itu, musik lama tidak benar-benar pernah menjadi “lama”.
Bagi generasi yang tumbuh bersamanya, lagu 1990-an mungkin membawa kenangan masa muda. Bagi Gen Z, lagu yang sama bisa menjadi sesuatu yang berbeda estetika, penemuan baru, atau bahkan pintu masuk untuk mengenal budaya dari generasi sebelumnya.
Pada akhirnya, yang terjadi bukan sekadar kebangkitan lagu lama.
Masa lalu sedang menemukan pendengar baru.
Dan mungkin, inilah menariknya budaya sesuatu tidak harus berasal dari zaman kita untuk menjadi bagian dari kita.
#senikreatif #seni-kreatif





