numa
Sosial & Politik

Kalau Kemiskinan Hanya Soal Malas, Mengapa Orang Rajin Tetap Miskin? Membongkar Kemiskinan Struktural dan Kultural

WiyanWiyanSider - 42 postingan10 hari yang laluDiperbarui 10 hari yang lalu

Gemini_Generated_Image_3g9q73g9q73g9q73.webp

Bayangkan, seorang anak yang bangun pukul 04.30 untuk membantu ibunya berjualan sebelum sekolah. Sepulang sekolah ia bekerja sampai malam, tidak memiliki laptop, internet, les, atau ruang belajar yang tenang. Di kelas, ia dianggap malas karena sering terlambat dan nilainya rendah. Padahal, masalahnya bukan hanya kemauan, melainkan kondisi yang membatasi pilihan hidupnya. Inilah yang disebut kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh sistem ekonomi, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, kebijakan, dan distribusi kesempatan yang tidak adil. Johan Galtung menyebutnya sebagai kekerasan struktural, karena seseorang bisa kehilangan kesempatan memenuhi kebutuhan dasar tanpa dipukul atau diserang secara langsung. Upah rendah, sekolah buruk, biaya kesehatan mahal, akses modal terbatas, dan pasar yang dikuasai pihak tertentu adalah contoh kemiskinan struktural. Galtung dan World Banksama-sama menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup tanpa pendidikan, infrastruktur, layanan publik, dan institusi yang kuat.

Sementara itu, kemiskinan kultural berkaitan dengan kebiasaan, nilai, dan pola pikir yang terbentuk karena seseorang terlalu lama hidup dalam kekurangan. Antropolog Oscar Lewis menyebutnya sebagai culture of poverty, yaitu kondisi ketika orang terbiasa hidup untuk kebutuhan hari ini, tidak percaya kepada lembaga, sulit merancang masa depan, atau menganggap pendidikan tidak banyak mengubah nasib. Namun teori ini sering dikritik karena dapat dipakai untuk menyalahkan orang miskin. Banyak kebiasaan tersebut sebenarnya adalah cara bertahan hidup. Keluarga yang pendapatannya tidak pasti tentu lebih memikirkan makan hari ini daripada menabung untuk sepuluh tahun ke depan. Pierre Bourdieu juga menjelaskan bahwa sekolah dan dunia kerja sering menghargai modal budaya, seperti cara bicara, pendidikan, sertifikat, kepercayaan diri, dan jaringan sosial yang biasanya lebih mudah dimiliki keluarga kaya. Menurut Amartya Sen, kemiskinan bukan hanya kekurangan pendapatan, tetapi juga kehilangan kemampuan nyata untuk memilih dan menjalani hidup yang diinginkan. (Oscar Lewis, Bourdieu, Amartya Sen).

Kemiskinan struktural dan kultural saling menguatkan. Sistem yang tidak adil dapat melahirkan rasa pasrah, rendah diri, tidak percaya kepada pemerintah, dan kebiasaan hidup jangka pendek. Setelah itu, masyarakat memakai kebiasaan tersebut untuk menyalahkan korban dengan kalimat, “Orang miskin memang malas” atau “Kalau mau berusaha pasti berhasil.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sering menjadi cara untuk menutupi kegagalan sistem. Tentu saja, individu tetap memiliki tanggung jawab untuk belajar, bekerja, mengatur uang, dan mengambil peluang. Namun, kerja keras hanya menghasilkan perubahan jika tersedia kesempatan yang masuk akal. Karena itu, mengatasi kemiskinan membutuhkan dua langkah sekaligus: memperbaiki upah, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, akses digital, modal, dan perlindungan sosial; serta memperkuat literasi, pendampingan, perencanaan keuangan, rasa percaya diri, dan organisasi komunitas. Kemiskinan bukan hanya kekurangan uang, tetapi juga kekurangan waktu, jaringan, suara, dan kesempatan. Menutup pintu lalu menyalahkan orang miskin karena tidak masuk adalah bentuk paling rapi dari ketidakadilan.

06
Wiyan

Balasan (0)

Topik Terkait